EMULSI
Emulsi
adalah sistem polifase dari dua cairan yang tidak tercampurkan (minyak dan air);
salah satunya terdispersi sebagai tetes-tetes berdiameter tertentu ke seluruh
cairan lainnya dengan bantuan emulgator. Emulsi merupakan campuran yang secara termodinamik
tidak stabil yakni secara kimia tidak dapat bercampur. Diameter tetes terdispersi berkisar 0,1 – 10µ ,
tetapi ukuran 0,01µ dan 100µ biasa terdapat dalam beberapa sediaan.
A.
Fenomena
Antar Muka Cairan
Gaya
yang bekerja pada antar muka cairan adalah gaya kohesi dan adhesi. Jika suatu
zat seperti asam oleat diletakkan pada permukaan air, maka zat tersebut akan
menyebar pada permukaan air dan membentuk film jika gaya adhesi antara molekul-molekul
asam oleat dengan molekul air lebih besar daripada gaya kohesi antara
molekul-molekul asam oleat sendiri. Demikian pula bila minyak dapat menyebar
pada permukaan air, maka dapat diprediksi bahwa
gaya kohesinya dapat dikalahkan oleh gaya adhesi antara cairan tersebut.
Terkonsentrasinya
molekul-molekul zat pada permukaan cairan merupakan suatu peristiwa adsorpsi
pada antarmuka.
1.
Interaksi
Tetesan
Potensial
penolakan total antara dua tetesan yang bermuatan merupakan fungsi jarak antar
partikel. Potensial ini bukan hanya potensial penolakan tetapi meliputi juga
interaksi yang dikenal sebagai kekuatan van der Walls ( interaksi London ). Potensial penolakan pada jarak yang jauh
adalah kecil tetapi akan naik bila jarak antara tetesan berkurang.
Molekul-molekul
permukaan di dalam cairan murni hanya mengalami tarikan ke samping dan ke
bawah, sedangkan molekul di sebelah dalam mengalami tarikan sama ke segala arah
seperti yang terlihat pada gambar 4.1.
Gambar
4.1. Gambaran gaya tarik menarik pada permukaan cairan
Akibat tarikan yang
tidak seimbang, molekul permukaan di tarik ke dalam cairan sehingga terjadi
tegangan muka. Dapat dikatakan bahwa tegangan muka timbul karena cairan
cenderung mempertahankan permukaannya sekecil mungkin. Pertikel cairan
cenderung menjadi bulat karena bentuk ini adalah permukaaan yang paling kecil.
Apabila suatu cairan
yang tidak dapat bercampur dikocok kuat, maka salah satu darinya akan
terdispersi dalam bentuk tetesan di dalam cairan lainnya, tetapi kedua cairan
tersebut akan dengan segera memisah dan membentuk batas yang nyata. Kegagalan
dua cairan untuk tetap bercampur disebabkan karena gaya kohesif (gaya tarik
menarik antara molekul sejenis) lebih besar dibandingkan gaya adhesifnya (gaya
tarik menarik antara molekul yang berbeda). Gaya kohesif dari tiap-tiap fase dinyatakan
sebagai suatu energi antar muka atau tegangan pada batas antara cairan
tersebut.
2.
Tegangan
Antar Muka
Tegangan antar muka pada
cairan yang tidak bercampur adalah tegangan yang terdapat di permukaan antara
keduanya sebagai akibat gaya kohesif lebih besar dari daya adhesif.
Dapat
dinyatakan dalam persamaan :
ΔF = γ. ΔA atau ΔG= γ . ΔS …………………………..( 4. 1)
Dimana
: ΔF = ΔG = pertambahan energi bebas permukaan ( erg )
γ = tegangan muka ( dyne / cm )
ΔS = ΔA = pertegangan antarmukabahan luas
permukaan (cm²)
F
adalah suatu kekuatan yang perlu diatasi dalam mencampur dua bahan yang tidak dapat bercampur.
Emulsi dinyatakan
secara termodinamik tidak stabil, karena
itu, untuk mencapai kondisi stabilnya (secara termodinamika), maka dibutuhkan
energi (tenaga) yang dapat memecah energi bebas permukaan yang berlebihan pada
permukaan dan sistem berupaya mengurangi energi bebas permukaan yang ditimbulkan
oleh ketua fase. Energi bebas permukaan yang tinggi, menyebabkan tetes – tetes
saling mendekati dan membentuk tetesan yang saling bergabung dan membesar
(koalesensi) untuk mereduksi energi bebas yang bekerja pada antarmuka cairan. Penggabungan
tetes-tetes dispersi pada akhirnya menyebabkan pemisahan fase dengan batas yang
jelas.
Kecenderungan
berkumpulnya tetes terdispersi tersebut akan berakibat berkurangnya energi bebas
permukaan sehingga sistem berada dalam
keseimbangan (stabil secara termodinamika). Untuk mencapai keadaan stabil, sistem
cenderung mereduksi energi bebas permukaan dengan mereduksi luas permukaan (ΔA) kontak antara dua cairan
tersebut. Keseimbangan tercapai bila ΔG
= 0. Kondisi ini tercapai dengan :
a.
Mereduksi tegangan antar muka
b.
Menurunkan luas permukaan tetes
terdispersi
Kemungkinan pertama tidak
diinginkan dalam formulasi emulsi.
Penurunan tegangan antar muka dua cairan yang yang tidak bercampur memungkinkan
bercampurnya kedua cairan tersebut. Kemungkinan ke-2 dapat menyebabkan efek pemisahan
karena partikel terdispersi dapat bersatu (coalescent) atau mengalami fusi.
Keadaan bergabungnya tetes-tetes dispersi menunjukkan rusaknya suatu sistem emulsi. Untuk
memperkecil efek ini maka dalam formulasi ditambahkan suatu bahan yang mempengaruhi
kestabilan sistem emulsi, yang dikenal
sebagai emulgator.
Dalam
emulsi terjadi 2 proses yang berlawanan, yaitu :
1.
Bersatunya kembali tetes-tetes tersebut
(mengurangi energi bebas);merupakan tanda menuju ketidakstabilan sistem emulsi.
2.
Pembentukan energi lain (penambahan
energi bebas); tetes dispersi diperkecil;merupakan upaya menjamin stabilitas
sistem emulsi.
Dengan
penambahan emulgator dalam formula, maka :
a. Tetesan
terdispersi akan ditutupi
b. Tegangan
antar muka diturunkan
Sehingga
luas permukaan (∆A) meningkat dan Energi
bebas permukaan (ΔF) juga meningkat yang
akhirnya tercapai emulsi yang stabil.
B.
Teori
Emulsifikasi
Banyak teori telah dikembangkan dalam
upaya untuk menjelaskan bagaimana zat pengemulsi bekerja dalam membentuk emulsi
dan menjaga stabilitas emulsi yang dihasilkan. Diantara teori yang paling lazim
adalah teori tegangan permukaan (Surface
Tension Theory), teori terorientasi
bentuk baji (Oriented-Wedge Theory),
teori lapisan antarmuka/teori plastik (Interfacial
film theory)
Surface
Tension Theory.
Emulsi terbentuk melalui penurunan
tegangan antarmuka dua fase cairan yang tidak bercampur, pengurangan gaya tolak
menolak antara 2 jenis cairan tersebut, dan pengurangan gaya tarik menarik
antara molekul-molekul cairan yang sejenis. Kerja
tersebut dilakukan oleh zat aktif permukaan (surfaktan). Surfaktan menurunkan
tegangan antar muka kedua cairan dan membantu memecahkan tetes dispersi yang
besar menjadi tetesan yang kecil, kemudian menyelimuti permukaan tetes
tersebut, sehingga tetes terdispersi mempunyai
kecenderungan yang kecil untuk bergabung kembali.
Oriented-Wedge
Theory
Teori ini menganggap bahwa zat
pengemulsi membentuk lapisan monomolekuler dan melingkari seluruh tetes
dispersi dalam emulsi. Suatu zat pengemulsi tertentu akan mengarahkan dirinya
berdasarkan tingkat kelarutannya pada salah satu fase cairan, melarut dan
terbenam dalam fase cairan tersebut. Menurut teori ini, suatu zat pengemulsi
memiliki suatu bagian hidrofobik dan hidrofilik dan masing-masing bagian pada strukturnya akan mengarah ke
masing-masing fase cairan, hingga terbentuk bulatan-bulatan minyak atau air
yang dikelilingi oleh zat pengemulsi. Fase cairan dimana zat pengemulsi lebih
larut, pada umumnya akan menjadi fase kontinyu (fase luar).
Interfacial
film theory
Teori ini menggambarkan bahwa zat
pengemulsi teradsorpsi pada antarmuka minyak-air, mengelilingi tetes
terdispersi sebagai suatu lapisan tipis. Lapisan ini mencegah kontak dan
bersatunya tetes terdispersi. Makin kuat dan plastik lapisan tersebut, maka
akan makin stabil emulsi yang terbentuk.
Biasanya dalam suatu sistem emulsi
tertentu, diperlukan lebih dari satu teori emulsifikasi yang diterapkan dan
teori tersebut berperan dalam pembentukan dan menjamin kestabilan sistem
emulsi. Misalnya, penurunan tegangan permukaan penting sebagai awal pembentukan
emulsi, tetapi untuk menjamin stabilitas emulsi karena penggabungan tetes terdispersi, diperlukan
pembentukan baji pelindung atau film plastik.
C.
Formulasi
Sediaan Emulsi
Menyatukan dua cairan yang tidak saling
bercampur menjadi suatu sediaan farmasi yang stabil, menarik dan menunjang efek
terapi adalah suatu tantangan bagi seorang farmasis. Pengetahuan tentang fenomena antar muka dua cairan yang berbeda
sangat penting, mengingat formula sediaan yang akan dibuat termasuk bahan-bahan
yang menjadi komponen sediaan harus
mempertimbangkan hal tersebut, yang meliputi: penurunan tegangan antar muka,
pemberian koloid pelindung, pembentukan potensial zeta, perancangan jenis
sedimen, dan pengendalian laju sedimentasi.
1. Pertimbangan Formulasi
Suatu
emulsi dapat dirancang untuk menutupi rasa yang tidak enak dari suatu fase
cairan yang tidak larut dalam air. Fase cairan yang tidak nyaman dalam
penggunaan dapat dirancang untuk menjadi tetes terdispersi dalam fase air.
Misalnya untuk penggunaan oral, minyak-minyak hewani dan nabati yang umum
digunakan dalam pengobatan seperti minyak ikan dan VCO (virgin coconut oil) tidak menyenangkan jika digunakan langsung.
Secara
umum, dikenal dua tipe emulsi berdasarkan fase terdispersi dan fase
kontinyunya, yaitu emulsi minyak dalam
air (oil in water; o/w) dan emulsi
air dalam minyak (water in oil; w/o).
Tetapi dalam perkembangan teknologi sediaan farmasi, emulsi dapat dibuat dalam tipe emulsi ganda
(o/w/o atau w/o/w). Cairan yang akan menjadi fase terdispersi tergantung pada
emulgator yang dipakai, jumlah relatif kedua fase, dan cara pembuatannya.
![]() |
Gambar.
4.2. Tipe-tipe emulsi
Berdasarkan
ukuran tetes terdispersinya, emulsi dapat dibedakan atas makroemulsi,
nanoemulsi, dan mikroemulsi. Makroemulsi adalah emulsi
konvensional dengan ukuran tetes terdispersi 50-100µm; Nanoemulsi berukuran
50-200 nm; dan mikroemulsi berukuran ukuran
5-50 nm.
Nanoemulsi dan mikroemulsi memiliki stabilitas
yang lebih tinggi dan stabil lebih lama
terhadap creaming, flocculation dan
coalescence dengan penetrasi lebih tinggi serta daya sebar yang lebih baik ketika digunakan dibandingkan dengan mikroemulsi. Nanoemulsi dan mikroemulsi digunakan
pada personal care products and cosmetics, agrokimia, produk farmasi
terutama dalam sistem penghantaran obat (Drug Delivery System; DDS), serta produk
makanan dan minuman. Emulsi jenis ini memerlukan konsentrasi surfaktan yang lebig tinggi untuk membentuk
tetes dispersi yang sangat kecil.
Tipe
emulsi dapat dirancang dengan mempertimbangkan jumlah, jenis dan kelarutan emulgator
serta rasio/jenis fase air dan minyak. Tipe emulsi dapat
ditentukan dengan melihat kemampuan mendispersi zat warna, sifat hantaran
listrik, flouresens, dan pengenceran fase kontinyu. Tipe emulsi juga dirancang dengan
mempertimbangkan ketidaknyamanan rasa dari bahan obat, misalnya tipe emulsi o/w
dapat menutupi rasa tidak enak dari
minyak karena minyak terdispersi ke dalam fase air. Dalam dunia farmasi,
dikenal banyak senyawa senyawa obat yang larut dalam lemak, misalnya vitamin,
yang lebih mudah diabsorbsi jika dibentuk dalam sistem emulsi dibandingkan jika
hanya diberikan peroral dengan pembawa minyak saja.
Berbagai
rute penggunaan obat juga memanfaatkan bentuk sediaan emulsi, seperti injeksi
intravena, aerosol, sediaan topikal dermatologik dan kosmetik, bahkan beberapa
produk makanan memanfaatkan teknologi emulsifikasi.
2.
Emulsifying Agent
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa emulsi
adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamika (∆F ≠ 0). Sistem dibuat lebih stabil dengan suatu zat
pengemulsi, meskipun ∆F tidak pernah mencapai nol. Untuk menurunkan tegangan
permukaan dan mencegah penggabungan tetes-tetes terdispersi, atau paling tidak
mencegahnya dalam waktu yang relatif lama, maka diperlukan suatu bahan
pengemulsi (emulsifying agent) yang
akan membentuk suatu lapisan di sekeliling permukaan tetes-tetes terdispersi.
Emulgator
adalah surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan dan membentuk film yang liat mengelilingi
tetesan yang terdispersi (monomolekular atau multimolekular). Bahan ini ditambahkan
untuk menghambat koalesensi (penggabungan tetes terdispersi) pada tingkat yang
signifikan. Pemilihan emulgator sangat penting didalam suatu formula emulsi
sebagai zat tambahan karena kemampuannya dalam membentuk emulsi. Seorang
farmasis harus tahu bahwa bahan yang dipilihnya sebagai emulgator, harus mempunyai
syarat sebagai berikut :
-
tidak
toksik
Rasa
dan bau yang dapat diterima
Stabil
secara kimia dan dapat tercampurkan dengan bahan lain dalam formula.
Emulgator membantu
dalam pembentukan emulsi melalui tiga mekanisme,
yaitu :
1) Mereduksi
tegangan antar muka
2) Pembentukan
film antar muka yang liat ( penghalang mekanik terhadap koalesensi )
3) Pembentukan
lapisan listrik rangkap.
Mekanisme tersebut
dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Mereduksi
tegangan antar muka
Reduksi
tegangan antar muka penting dalam mendispersikan suatu cairan ke dalam cairan
lainnya yang tidak bercampur. Peranan emulgator sebagai penghalang antar muka
adalah hal yang paling penting. Banyaknya
polimer dan bahan padatan yang terbagi halus
tidak efisien mereduksi tegangan antar muka, tetapi membentuk penghalang
antar muka yang mencegah koalesensi.
2) Pembentukan
film antar muka yang liat
Fase oleofilik
surfaktan berada pada permukaan fase minyak dan hidrofiliknya pada fase air.
Surfaktan cenderung memekat pada antarmuka dan terabsorbsi pada antarmuka
minyak-air sebagai film monomolekuler. Bila konsentrasi emulgator cukup tinggi
maka terbentuk film liat yang bertindak sebagai penghalang terhadap adhesi
maupun kohesi (koalesensi) tetesan terdispersi. Pada emulsi-emulsi yang stabil,
molekul tunggal surfaktan menempati permukaan tetesan dengan formasi yang rapat
dan membentuk film antarmuka yang liat, contoh : emulsi o/w yang distabilkan
dengan campuran Na setil sulfat dan kolesterol.
Film
emulgator yang membungkus kencang, menunjang kestabilan emulsi dan menunjukkan
juga bahwa kombinasi emulgator seringkali lebih efektif daripada emulgator
tunggal.
3) Pembentukan
lapisan listrik rangkap
Film antarmuka yang
mencegah koalesensi dapat menghasilkan kekuatan penolakan listrik di antara
tetesan yang berdekatan. Lapisan listrik rangkap terbentuk oleh karena terjadi
orientasi kelompok bermuatan listrik pada permukaan tetesan teremulsi.
Misalnya emulsi minyak dalam air (o/w) yang distabilkan
dengan Na Oleat. Rantai hidrokarbon dari Na oleat larut dalam tetes minyak
sedangkan bagian ionik mengarah ke fase air yang kontinyu. Akibatnya permukaan
tetesan dipenuhi gugus karboksilat yang bermuatan (-). Ini menghasilkan
permukaan yang bermuatan pada tetesan, sedang kation yang (+) terorientasi
dekat permukaan menghasilkan lapisan listrik rangkap (electrical double layer ).
Potensial
yang ditimbulkan lapisan listrik ini menyebabkan efek penolakan antar tetesan
sehingga mencegah koalesensi. Penolakan listrik ini kekuatannya dapat dihitung
tetapi tidak dapat diukur langsung. Walaupun demikian, potensial yang
sehubungan yaitu zeta potensial dapat
ditentukan. Zeta potensial sebanding
dengan potensial lapisan rangkap yang terbentuk. Perubahan zeta potensial dapat terjadi dengan kehadiran beberapa bahan
seperti elektrolit, polimer dan surfaktan.
Surfaktan
membantu dalam pembentukan emulsi karena dengan terabsorbsinya pada antar muka
maka ia dapat mereduksi tegangan antar muka dan berfungsi sebagai pelindung
untuk mencegah bersatunya tetesan ( koalesensi ). Beberapa surfaktan juga dapat
memberi muatan ionik pada tetes terdispersi sehingga mampu membentuk potensial
zeta. Mekanisme kerja surfaktan sama dengan mekanisme kerja emulgator karena
semua emulgator adalah merupakan surfaktan yang dapat menurunkan tegangan antar
muka, dan tidak semua surfaktan adalah emulgator.
Walaupun
reduksi tegangan antar muka merupakan faktor yang paling penting dalam
pembuatan suatu emulsi tetapi liatnya film yang terbentuk dari emulgator yang
teradsorpsi merupakan faktor utama di dalam menjamin stabilitas suatu emulsi.
Jumlah emulgator mempengaruhi ukuran partikel tetes terdispersi. Semakin banyak
emulgator, semakin kecil ukuran tetes terdispersi. Bila diberikan tenaga atau
energi yang besar ke dalam dispersi tetes minyak dalam air maka ukuran tetes minyak dapat mencapai 1 µ.
Bila
ada emulgator yang sesuai tersedia dalam jumlah yang cukup, maka emulgator tersebut akan terabsorbsi pada
permukaan tetes terdispersi sebagai suatu film monomolekuler, yang mencegah
bersatunya tetes-tetes minyak. Sedangkan bila emulgator hanya terdapat dalam
jumlah yang terbatas maka ia tidak dapat membentuk film yang lengkap
mengelilingi semua butiran minyak yang terdispersi. Koalesensi akan berlanjut
sampai luas permukaan dari tetesan minyak itu berkurang sehingga mencapai harga
kontinyu dari surfaktan disekeliling tetesan minyak.
Terjadinya
penurunan tegangan permukaan ditandai dengan terbentuknya misel (tetes dispersi
yang terbungkus surfaktan). Critical
micelle concentration (CMC) adalah
konsentrasi terkecil surfaktan yang diperlukan untuk dapat membentuk misel atau
untuk dapat menurunkan tegangan permukaan suatu cairan terhadap cairan lainnya
yang tidak bercampur. Di bawah konsentrasi ini, surfaktan hanya terdisposisi
antar muka kedua cairan dan belum menghasilkan tetes terdispersi. Di atas nilai CMC ini, misel akan semakin
banyak terbentuk .
![]() |
Gambar
4.3. Critical Micelle Concentration
(CMC)
Kebanyakan emulsi yang
dijumpai dalam farmasi adalah tipe
minyak dalam air. Emulsi ini seringkali mengion dan memberikan muatan pada
tetesan terdispersi. Muatan ini mempengaruhi kecenderungan untuk membentuk
potensial zeta tetapi mempunyai efek yang relatif kecil terhadap kekuatan film antar muka. Penurunan
zeta potensial menaikkan kecepatan benturan tapi tidak mengakibatkan
koalesensi. Zeta potensial adalah
besarnya muatan yang ada pada suatu titik mulai dari double layer sampai satu titik di dalam cairan dimana terdapat
muatan (+) dan (-) dalam jumlah yang sama. Penjelasan tentang pembentukan double
layer ini sama seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya.
Kebanyakan
emulgator yang dipakai untuk pembuatan
emulsi o/w adalah merupakan koloid hidrofilik yang terhidrasi di dalam medium
air. Di dalam emulsi seperti itu, kestabilannya akan menurun dengan penambahan
elektrolit konsentrasi tinggi atau
penambahan pelarut polar. Penambahan pelarut
yang sangat polar ke dalam emulsi akan
menurunkan kestabilannya, karena emulgator akan terekstraksi dari antarmuka
oleh pelarut polar tersebut.
Umumnya
emulsi air dalam minyak (w/o) mempunyai film yang lebih kaku jika dibandingkan
dengan emulsi minyak dalam air (o/w) karena tetes-tetes air mempunyai bentuk
yang tidak teratur. Di dalam emulsi w/o ini, minyak merupakan medium yang tidak
mengionkan dan tidak ada atmosfir ionic di dalam fase minyak.
Film
antar muka yang paling efektif umumnya tidak dibentuk oleh emulgator tunggal
tetapi oleh beberapa emulgator yang berbeda rasionya dari kelompok polar sampai
tidak polar. Emulsi o/w yang lebih stabil terbentuk bila menggunakan 2 emulgator, dimana emulgator yang satu
mempunyai nilai HLB yang rendah. Pasangan emulgator yang memuaskan membentuk
film monomolekuler kompleks yang stabil pada antarmuka keduanya; berdampingan
di dalam monofilm disertai dengan penetrasi satu emulgator ke dalam monofilm
emulgator lainnya.
Suatu
molekul, ion, koloid atau partikel, agar aktif sebagai emulgator maka ia harus
mempunyai afinitas pada antar muka di antara fase terdispersi dengan medium
pendispersi. Untuk dapat membentuk film monolayer atau multilayer, emulgator harus
dalam bentuk larutan, karenanya ia harus agak larut dalam salah satu atau dalam
kedua fase. Pada saat yang sama, emulgator itu tidak boleh berlebihan kelarutannya
dalam salah satu fase, karena emulgator akan tinggal di dalam fase yang melarutkannya sehingga
tidak akan teradsorpsi pada antar muka.
Walaupun
tipe emulsi tergantung pada sejumlah faktor, tetapi kelarutan relatif emulgator
ke dalam 2 fase merupakan faktor yang paling penting menentukan tipe emulsi
yang terbentuk di dalam suatu emulsi dengan emulgator tunggal. Emulgator yang
larut dalam minyak (w/o) dan dalam air (w/o) terabsorbsi di permukaan dan
membentuk lapisan film plastis.
Sifat
emulgator ditentukan oleh sifat 2 fase yang tidak tercampurkan yang ada dalam
suatu sistem. Sifat-sifat yang diingini untuk suatu emulgator adalah sebagai
berikut :
a. Aktif
pada permukaan dan dapat menurunkan tegangan antar muka sampai kurang dari 10
dyne/cm.
Suatu
emulgator harus dapat aktif pada permukaan tetes terdispersi dan dapat
menurunkan tegangan antarmuka. Hal ini merupakan suatu cara menuju ‘stabilisasi
termodinamika’.
b. Harus
segera terabsorbsi di sekeliling tetes terdispersi sehingga mencegah
koalesensi.
Emulgator harus segera teradsorpsi di
sekeliling tetes terdispersi untuk mencegah koalesensi dan mempertahankan
ukuran tetes dispersi. Emulgator yang membungkus tetes dispersi disebut
‘ mechanical barrier ‘. Sifat inilah yang paling penting, meskipun
suatu emulgator kurang mampu menurunkan tegangan antar muka, tetapi mampu
mencegah koelesensi karena membentuk koloid pelindung, maka akan mampu
membentuk emulsi yang stabil
(ct.gelatin)
c. Mampu
memberi potensial listrik yang memadai sehingga tetes-tetes saling menolak.
Emulgator sabun, membentuk film antar muka.
Bagian hidrokarbonnya larut dalam tetes minyak dan bagian hidrofil terdispersi
pada permukaan fase air. Potensial listrik timbul karena adanya perbadaan
potensial antara muatan yang terabsorpsi dengan counter ion, dan seterusnya
hingga terbentuk daerah listrik rangkap (electrical double layer), yang
memeberikan potensial pada tetesan akibatnya terjaditolak-menlak antara tetesan
terdispersi (koalesensi tidak terjadi)
d. Meningkatkan
kekentalan ( viskositas )
Kekentalan emulgator
yang menyelimuti permukaan tetes terdispersi mampu menjadi penghalang
terjadinya penggabungan tetes-tetes terdispersi, sehingga stabilitas emulsi
tercapai.
Kekentalan ditentukan
oleh :
- Struktur
kimia emulgator
- Konsentrasi
e. Efektif
pada konsentrasi rendah.
Emulgator
yang baik adalah yang efektif membentuk emulsi stabil pada konsentrasi rendah. Jika
penggunaan emulgator telah melebihi 5%, maka emulgator dianggap tidak efektif lagi. Penggunaan
emulgator konsentrasi tinggi akan
mempengaruhi sediaan dengan terbentuknya busa bila dikocok.
Klasifikasi
Emulsifying Agent
Emulgator
dapat diklasifikasikan berdasarkan
mekanisme aksinya, yaitu pada pembentukan film (lapisan) pada permukaan tetes
terdispersi.
a. Film
monomolekuler
Emulgator
ini merupakan senyawa organik sintetis yang membentuk lapisan tunggal yang
terdispersi pada tetesan. Mekanisme utamanya adalah menurunkan tegangan
antarmuka. Emulgator dapat mengion sehingga kestabilan akan tinggi karena terjadi
tolak menolak pada tetes terdispersi. Emulgator ini dapat membentuk emulsi o/w
atau w/o.
Misal
: - K
laurat
c. Polisorbat 80
b. Film
Multimolekuler
Emulgator
ini tak jelas mekanismenya dalam menurunkan tegangan antarmuka, tetapi
membentuk film antarmuka yang liat dan kuat dalam melindungi tetesan
terdispersi. Merupakan hidrokoloid yang juga akan menunjang kestabilan emulsi
karena bersifat mengentalkan sehingga butiran emulgator yang tidak teradsorpsi
oleh permukaan tetes terdispersi tidak menyebabkan tetes terdispersi segera
bergabung. Emulgator ini dapat membentuk emulsi o/w dan diperoleh dari tumbuhan
dan merupakan senyawa organik.
Misal : - Akasia
-
Gelatin
c. Film
partikel padat
Bahan
ini membentuk emulsi dengan cara: padatannya yang terdispersi halus teradsorbsi
pada permukaan tetes terdispersi. Emulgator ini
merupakan senyawa anorganik dan dapat membentuk emulsi tipe w/o atau
o/w.
Misal : - bentonit
d.
Veegum
Bahan
yang dapat berfungsi sebagai emulgator dengan mekanisme ini harus memenuhi
syarat :
e.
Dapat terbasahi oleh fase minyak atau
air
f.
Ukuran partikel harus lebih kecil dari
tetes terdispersi
Emulgator
Sintetik
Emulgator
sistetik adalah merupakan golongan surfaktan. Surfaktan dapat digambarkan
sebagai molekul yang terdiri dari bagian hidrofilik ( suka air ) dan bagian
hidrofobik (tidak suka air), karena itu golongan senyawa ini sering dinamakan ampifilik.
![]() |
Gambar
4.4. Molekul Ampifilik (surfaktan)
Kelompok surfaktan ini
dapat digolongkan berdasarkan muatan yang dihasilkan yaitu :
a. Anionik
b. Kationik
c. Non
ionik.
a.
Golongan Anionik
Dalam
kelompok ini, surfaktan mempunyai ion bermuatan negatif. Sabun yang terbentuk
dari berbagai asam lemak sangat luas pemakaiannya sebagai garam amfifilik.
Jenis surfaktan ini yang mengandung 12 – 18 atom C lebih disukai. Demikian pula sabun alkali
seperti K, Ca dan Ammonium kwartener dari asam laurat dan asam oleat yang larut
dalam air merupakan emulgator o/w yang baik. Garam-garam
ini mempunyai rasa yang sulit diterima dan mengiritasi saluran pencernaan, sehingga penggunaannya terbatas hanya untuk sediaan
emulsi untuk penggunaan pada permukaan
tubuh.
Kalium laurat merupakan
contoh khas dengan struktur CH3(CH2)10CH2COOˉ
. Larutan sabun alkali mempunyai pH yang
tinggi dan pada pH di bawah 10 akan mulai mengendap dari larutan karena
terbentuk asam lemak yang tidak terionkan yang mempunyai kelarutan yang rendah
dalam air. Asam lemak bebas ini tidak efektif sebagai emulgator. Dengan
demikian, emulsi yang terbentuk dari sabun alkali tidak stabil pada pH di bawah
10.
Garam
Ca, Mg dan Al dari asam lemak yang biasa disebut sabun logam, tidak larut dalam air dan dapat membentuk
emulsi w/o. Pemakaiannya terbatas pada emulsi-emulsi eksternal seperti krim dan
liniment.
Sabun
lain adalah garam yang terbentuk dari asam lemak dan suatu amin organik misalnya trietanolamin; merupakan emulgator
o/w untuk sediaan topikal. Sabun ini
digunakan sebagai emulgator pada pH sekitar 8 dan tingkat iritasinya
lebih lemah dibanding sabun alkali. Pada
pembuatan emulsinya, trietanolamin ditambahkan ke dalam fase air sementara asam
lemak dilarutkan dalam fase minyak. Jika kedua fase dicampur maka trietanolamin
stearat yang terbentuk terdisposisi pada antar muka kedua fase tersebut.
Alkohol sulfat adalah
ester asam sulfat yang sudah dinetralkan dari lemak alkohol seperti lauril dan
setil alkohol. Senyawa ini merupakan kelompok surfaktan yang paling penting
untuk pengobatan. Pemakaiannya yang paling utama adalah sebagai wetting agent walaupun dapat
juga disebut sebagai emulgator, khususnya jika digunakan bersama-sama dengan
bahan pengental. Salah satu contoh yang
sering digunakan adalah Na lauril
sulfat.
Surfaktan
anionik tipe sulfonat merupakan suatu kelas senyawa dimana atom sulfur berikatan
langsung dengan atom C. Formula umum emulgator sulfonat adalah CH3 (
CH2 )n CH2SO3ˉ
. Sulfonat mempunyai
toleransi yang lebih tinggi terhadap ion Ca dan tidak segera terhidrolisa
seperti sulfat-sulfat. Surfaktan yang sering dipakai dari tipe ini antara lain adalah
Na dioktil sulfosuksinat.
b.
Gol. Kationik
Aktivitas
pada permukaan dari kelompok ini terletak pada kation yang bermuatan (+).
Walaupun tidak digunakan secara luas seperti tipe anionik dan nonionik tetapi
senyawa ini mempunyai nilai lebih karena bersifat bakterisid dan oleh karena
itu disukai dalam produk-produk emulsi untuk antiinfeksi seperti krim dan losio
untuk kulit.
Emulsi
yang dibuat dengan emulgator kationik mempunyai pH pada kisaran 4 – 6. Kisaran
pH ini sama dengan pH normal kulit, sehingga emulgator ini menjadi pilihan
untuk sediaan yang digunakan pada kulit.
Bahan
kationik merupakan emulgator yang lemah dan umumnya diformulasikan bersama
dengan suatu solubilizing agent atau
emulgator pembantu seperti sekostearil alkohol. Contoh bahan dari kelompok ini
yang sering digunakan sebagai emulgator
adalah senyawa ammonium kwartener seperti : trimetil ammonium bromide.
Emulgator kationik tidak digunakan bersama dengan emulgator anionik dalam satu
formula karena akan terjadi interaksi
berupa terbentuknya endapan dengan
segera. Benzalkonium klorida dan benzethonium
klorida adalah sebagian contoh dari emulgator golongan ini.
c.
Gol. Nonionic
Surfaktan
yang tidak terdisosiasi ini digunakan secara luas sebagai emulgator karena
memiliki keseimbangan kelompok hidrofil dan lipofil di dalam molekulnya.
Emulgator non ionik ini tidak mudah dipengaruhi oleh perubahan pH dan adanya
elektrolit. Surfaktan golongan ini yang paling sering dipakai adalah ester
gliserol, ester dan eter polioksi etilen glikol dan asam lemak sorbitan seperti
sorbitan mono palmitat ( span 40 ) serta derivat polioksietilen, yakni ester
asam lemak polioksietilen sorbitan seperti tween 40. Seringkali hasil yang
terbaik diperoleh dari campuran emulgator non ionik. Campuran emulgator o/w seperti tween 80 dapat
digunakan dalam emulsi bersama dengan emulgator w/o seperti span 40. Ini
menghasilkan emulsi yang sangat stabil dengan tekstur yang halus.
Suatu ester gliserol seperti
gliseril monostearat terlalu lipofilik untuk dapat berfungsi sebagai emulgator
yang baik. Bahan ini tidak digunakan sebagai emulgator, tetapi sebagai bahan pembantu pengemulsi.
Emulgator
Alam
Sejumlah emulgator berasal dari alam yakni
dari tumbuhan dan hewan, seperti akasia, gelatin, kolesterol dan lesitin. Beberapa bahan alam
lainnya digunakan sebagai bahan
penstabil dan pembantu pengemulsi (pembentuk massa dan peningkat viskositas). Akasia dan gelatin membentuk film antar muka
beberapa lapis sedangkan lesitin dan kolesterol membentuk lapisan monomolekuler
pada antar muka minyak-air.
a.
Acacia ( akasia )
Akasia
adalah gom karbohidrat yang luas dipakai dalam emulsi untuk pemakaian internal,
terutama emulsi yang dibuat sesaat. Gom tersedia sebagai serbuk dan granul,
larut dalam air dan membentuk emulsi o/w. Emulsi yang dibuat dengan akasia ini
stabil pada rentang pH yang luas, akan tetapi karena merupakan karbohidrat,
maka emulsi akasia harus diberikan pengawet yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan
mikroorganisma.
Gom
dapat diendapkan dari larutannya dalam air dengan penambahan elektrolit yang
konsentrasinya tinggi atau pelarut yang kurang polar seperti alkohol.
b.
Gelatin
Gelatin
merupakan suatu protein yang sejak lama digunakan sebagai emulgator. Gelatin dapat mempunyai 2 titik isoelektrik
tergantung pada metode pembuatannya. Gelatin tipe A berasal dari prekursor yang
diberi asam dan mempunyai pH antara 7 dan 9 (yaitu pH titik isoelektriknya).
Gelatin tipe A ini akan baik sebagai emulgator pada pH 3 dan bermuatan (+).
Di
lain pihak, gelatin tipe B diperoleh dari prekursor yang diberi alkali dan
mempunyai titik isoelektrik pada pH 5. Gelatin tipe B ini sangat baik dipakai
sebagai emulgator pada pH sekitar 8 dan emulgator
ini bermuatan ( - ).
Muatan
(+) dan (-) dari gelatin merupakan dasar untuk kestabilan emulsi bila ada emulgator lainnya yang mempunyai muatan. Jadi
bila gom seperti tragakan, akasia dan agar yang bermuatan (-) ingin digunakan
bersama gelatin, maka dipakai gelatin tipe B dan dipakai pada pH alkalis dimana
pada kondisi ini gelatin mempunyai muatan yang sama dengan gom, yakni muatan negatif.
c.
Lecithin ( lesitin )
Lesitin
adalah bahan yang berasal dari hewan (telur) dan kacang kedele. Lesitin yang
dimurnikan berbentuk padat seperti lilin yang tidak berwarna, bila dikenai
cahaya dan udara akan cepat teroksidasi dan berubah menjadi kuning, umumnya
tidak larut dalam air, tetapi terdispersi dalam bentuk koloidal. Lesitin jarang digunakan secara tunggal
sebagai emulgator.
Lesitin mengalami dekomposisi dengan adanya
alkali. Lesitin telah digunakan dalam suspensi parenteral untuk pemakaian IM, sebagai
wetting agent dan sebagai emulgator pada
emulsi parenteral untuk pemakaian I.V.
d.
Kolesterol
Kolesterol
merupakan bahan yang diperoleh antara lain dari lemak bulu domba dan sebagai
konstituen utama dalam adeps lanae. Kolesterol ini dapat diperoleh melalui reaksi saponifikasi dan
fraksinasi adeps lanae. Karena kandungan kolesterol ini, maka adeps lanae mampu mengadsorpsi air (lanolin) dan membentuk
emulsi o/w.
Bahan
Padat yang Terdispersi Halus
Kelompok emulgator ini akan diadsopsi pada
batas antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur dan membentuk film yang mengelilingi tetes terdispersi dan
menghasilkan emulsi yang walaupun tetes-tetes dispersinya besar, tetapi
mempunyai kestabilan fisika yang agak besar. Dua kelompok dari senyawa ini yang
sering digunakan adalah tanah liat koloidal ( bentonit + veegum ), dan
hidroksida logam ( Mg dan Al hidroksida ).
a.
Bentonit
Selain
sebagai pensuspensi (seperti dijelaskan pada bab sebelumnya), bentonit dapat
dijadikan emulgator yang mampu teradsorbsi pada antar muka cairan yang berbeda.
Pada konsentrasi kurang dari 1% bentonit dapat membentuk emulsi o/w atau w/o,
yang tergantung pada cara pencampurannya.
Emulsi
o/w akan terbentuk jika bentonit didispersikan terlebih dahulu di dalam air dan
dibiarkan terhidrasi sampai terbentuk magma, fase minyak kemudian di tambahkan secara
perlahan-lahan dengan pengadukan yang konstan. Karena fase air selalu dalam
keadaan berlebihan maka terbentuklah
emulsi o/w. Sebaliknya, emulsi w/o akan terbentuk jika dispersi bentonit dalam minyak
dibuat lebih dahulu kemudian air ditambahkan perlahan-lahan ke dalamnya.
b.
Veegum
Veegum ( Mg Al silikat
kolidal ) digunakan pada konsentrasi kurang dari 1% sebagai emulgator dalam
bentuk partikel-partikel padat, penggunaannya paling umum sebagai penstabil
dalam losio dan krim untuk kosmetik. Veegum akan menstabilkan emulsi yang
mengandung emulgator anionik dan nonionik.
c. Mg
dan Aluminium hidroksida
Merupakan hidroksida
logam yang mempunyai kemampuan sebagai emulgator untuk pengobatan. Mg (OH)2
telah lama digunakan untuk mengemulsikan paraffin cair sedangkan beberapa
bentuk Aluminium hidroksida telah digunakan sebagai emulgator untuk bahan-bahan
seperti benzyl benzoat. Sering kali bahan
ini ada dalam formula emulsi terutama karena efeknya sebagai bahan aktif
farmakologi, bukan karena fungsinya sebagai emulgator (pada sediaan antasida).
Emulgator Sekunder
Emulgator pembantu disebut juga
emulgator sekunder atau Auxiliary
Emulsifying Agent . Bahan ini adalah
senyawa – senyawa yang secara normal tidak mempunyai kemampuan dalam membentuk
emulsi yang stabil tetapi mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai pengental
sehingga membantu menstabilkan emulsi.
Bahan ini akan menaikkan viskositas fase
luar sehingga menjadi penghalang bersatunya tetes-tetes dispersi yang sekaligus
menunjang stabilitas sistem emulsi. Terkadang dalam formula, tragakan
dikombinasikan dengan akasia untuk menaikkan konsistensi fase air suatu
emulsi o/w.
Beberapa contoh dari emulgator
sekunder adalah Agar, Tragakan, Metil Selulosa, CMC, Pectin, dan Na alginat
Kombinasi
Emulgator
Kombinasi
emulgator diperlukan untuk menghasilkan
emulsi yang sangat stabil, juga karena sulitnya formulator mencari emulgator
tunggal yang mempunyai nilai Hidrophilic-Lipophilic Balance (HLB) yang
sesuai, dimana HLB butuh suatu fase minyak menyatakan nilai HLB yang dibutuhkan
untuk emulsifikasi. Untuk menghasilkan emulsi yang sangat stabil diperlukan
pembentuka film yang kompleks, rapat dan kental pada antarmuka cairan.
Yang
perlu diperhatikan dalam mengkombinasi emulgator adalah bahwa emulgator yang digunakan memiliki
muatannya sama. Jika muatannya tidak
sama, akan terbentuk coaservat yaitu
: gabungan antara emulgator (+) dan (-) dan akibatnya kekentalan emulsi akan
turun sebanding dengan coaservat yang
terbentuk. Misalnya : gelatin tipe A yang bermuatan (-) tidak boleh ditambahkan
dengan tragakan yang bermuatan (+)
Beberapa
keuntungan yang dapat diberikan suatu kombinasi emulgator adalah :
a.
Keseimbangan hidrofil dan lipofil
emulgator
b.
Menaikkan kestabilan sifat kohesi film
antar muka
c.
Menaikkan kekentalan dan rasa produk
Keseimbangan
Hidrofilik – Lipofilik (HLB)
Bila
emulgator menjadi lebih hidrofilik, kelarutannya dalam air bertambah dan lebih
cenderung membentuk suatu emulsi o/w, sebaliknya emulsi w/o ditunjang oleh
emulgator yang lebih lipofilik.
Griffin
merancang suatu skala dari berbagai angka untuk dipakai sebagai suatu ukuran keseimbangan
hidrofilik-lipofilik (HLB) dari zat-zat aktif permukaan. Nilai HLB ini sangat membantu
dalam memilih kombinasi emulgator yang sesuai. Makin tinggi nilai HLB suatu zat, makin
hidrofilik zat tersebut. Nilai HLB lebih
dari 10 lebih bersifat hidrofil sedangkan yang nilai / harganya 1-10 adalah
lipofil. Span suatu ester sorbitan mempunyai nilai HLB yang rendah (1,8 sampai
8,6); Tween, suatu emulgator derivet polioksietilen mempunyai nilai HLB yang tinggi (9,6-16,7).
Hubungan
antara nilai HLB dan aktivitas surfaktan dapat dilihat di bawah ini (Kulshreshtha,2010:5;
Rowe,2004):
Rentang
HLB Aktivitas
1
– 3 anti
foaming agent
3
– 6 emulgator
w/o
7
– 9 weeting
agent
8
– 18 emulgator
o/w
13
– 15 detergents
15
– 20 solubilizing agent
Harga
HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak, sehingga dengan dasar HLB minyak ini,
formulator dapat memilih zat pengemulsi yang memiliki harga HLB yang sama atau
hampir sama dengan fase minyak tersebut. Demikian pula jika akan digunakan
campuran emulgator, maka harga HLB minyak dapat menjadi acuan dalam pemilihan
emulgator hingga mencapai harga HLB yang tepat.
Nilai HLB butuh untuk minyak dan bahan yang
sehubungan dapat dilihat dalam berbagai pustaka. Berikut adalah HLB butuh
minyak yang sering digunakan dalam formulasi emulsi yaitu :
Substansi
Tipe emulsi Tipe emulsi
W / O O / W
Asam
stearat 6 15
Setil
alcohol - 15
Lanolin
anhidrat 8 10
Beeswax
4 12
Paraffin
9 -
Mineral
oil light 8 12
Perhitungan
HLB Butuh
R/
Petrolatum 25 g (1)
HLB 7-8
Setil alkohol 20
g (2) HLB 15
Emulsifier 2 g (3)
Pengawet 0,2
g
air
ad 100 g
Fase
minyak : Petrolatum + Setil alkohol = 25
+20 = 45 g
Petrolatum = 25/45
x 100% = 55,5%
Setil alkohol = 20/45 x 100% = 44,5%
Nilai
HLB butuh minyak (o/w):
(55,5
% x 8)+(44,5% x 15) = 11,04
Perhitungan
Emulgator Gabungan
Jika
diinginkan emulgator gabungan Tween 80 dan span 80 (total 2 g), maka berapa g masing-masing diperlukan?
Span
80 (HLB = 4.3) , Tween 80 (HLB = 15.0)
HLB butuh minyak 11.04
Total
Tween dan Span = 100% (1), maka
Jika
Tween 80 = x, maka span 80 = (1- x)
Maka
:
(HLB
Span x % Span) + (HLB tween x % Tween)
=
4,3 (1 - x) + 15 x = 11,04 x
= 0,4 ≈ 0,4 x 100% = 40%
Tween
80 diperlukan 40 % dan Span 80
diperlukan 60 % dari 2 gram emulgator dalam formula.
3.
Pembuatan
Emulsi
Seperti
halnya bentuk sediaan larutan dan suspensi, sediaan emulsi juga memerlukan
beberapa bahan tambahan yang menunjang stabilitasnya disamping bahan utama
pembentuk sediaan, seperti pengawet, antioksidan, serta bahan penunjang
estetika (warna,aroma dan rasa).
Pengawet
Emulsi
biasanya mengandung bahan-bahan seperti karbohidrat, protein, lemak dan air
yang menunjang pertumbuhan sejumlah mikroba. Kontaminasi selama produksi,
penggunaan bahan yang tidak murni atau karena sanitasi yang buruk, serta selama
pemakaian sediaan. Oleh karena itu
dianjurkan pemakaian bahan baku yang
tidak terkontaminasi mikroba, pencucian peralatan dengan uap, penggunaan
anti mikroba yang efektif
terhadap beberapa mikroba pada formula, serta cukup memadai melindungi sediaan
selama pemakaian oleh konsumen.
Keberadaan
mikroorganisme yang tidak terkontrol dalam sediaan emulsi, akan menyebabkan
perubahan-perubahan tertentu dalam sifat-sifat emulsi yang tidak dikehendaki,
seperti pemisahan fase, perubahan warna dan bau, terbentuknya gas dan bau,
serta perubahan-perubahan sifat-sifat rheologi.
Kriteria umum yang
harus dipenuhi oleh suatu anti mikroba
antara lain adalah :
1) Toksisitasnya
pada pemakaian dan penyimpanan.
2) Stabil
pada pemakaian dan penyimpanan
3) Dapat
tercampurkan secara kimia dengan bahan-bahan lain dalam formula
4) Ras,
bau dan warna dapat diterima
5)
Efektif terhadap kontaminan bakteri,
fungi dan yeast
Konsentrasi anti
mikroba atau pengawet ( preservative
) yang dibutuhkan tergantung dari :
1) Pembagian
dalam perbandingan fase air dan fase minyak.
Bakteri terutama tumbuh
dalam fase air dari sistem emulsi. Jika kelarutan pengawet lebih tinggi dalam
minyak, maka pada konsentrasi normal, pengawet tersebut relative kurang efektif
karena pada fase air konsentrasinya rendah. Oleh karena itu diperlukan konsentrasi pengawet yang tinggi
dalam emulsi. Contohnya adalah ester asam p-hidroksibenzoat (paraben), metil paraben larut dalam air
sedangkan propil paraben hampir tidak dapat larut dalam air.
2) Kemampuan berinteraksi dengan mikroba.
Pengawet harus dalam
keadaan tidak terion sehingga dapat berpenetrasi melintasi membran mikroba
3)
Ikatan pengawet dengan molekul lain.
Pengawet
tidak boleh terikat dengan molekul lain di dalam sistem emulsi, karena kompleks
yang terbentuk tidak efektif sebagai pengawet. Pengawet yang dalam keadaan
bebas saja yang efektif, sehingga perlu diperhitungkan konsentrasi pengawet
yang bebas.
Beberapa kondisi dapat
menyebabkan perubahan aksi pengawet, antara lain :
1) pH
sediaan
2) ratio
fase / tipe emulsi
3) Jumlah
udara yang masuk selama pembuatan
4) Nilai
nutrisi produk
5) Keberadaan
surfaktan nonionik
Oleh
karena itu, sering digunakan kombinasi pengawet karena dapat menaikkan spektrum
aktivitas atau karena beberapa sifat sinergis. Pengujian mikrobiologis pada
sediaan akhir perlu dilakukan, mengingat pemilihan pengawet agak bersifat
empiris.
Antioksidan
Senyawa-senyawa
organik khususnya minyak/lemak serta banyak obat dapat mengalami otooksidasi
sehingga mengakibatkan terjadinya dekomposisi ( penguraian ). Minyak tidak
jenuh seperti minyak tumbuhan yang mengalami otooksidasi akan menjadi tengik
disertai penampakan dan rasa yang kurang menyenangkan. Otooksidasi adalah
reaksi oksidasi dari rantai radikal bebas.
Reaksi oksidasi dapat
dihalangi dengan :
1)
Mencegah adanya oksigen
2)
Penambahan bahan yang dapat memecah rantai redikal bebas
3)
penambahan bahan pereduksi (antioksidan)
Pemilihan antioksidan
yang khusus tergantung pada :
a.
Keamanannya
b.
Dapatnya diterima untuk suatu pemakaian
khusus
c.
Kemanjurannya
Konsentrasi
antioksidan yang sering digunakan adalah 0,001 – 0,1%. Vitamin
E (α-tokoferol) merupakan antioksidan yang sering digunakan dan sesuai
untuk sediaan oral, misalnya yang mengandung Vit.A. Butylated hydroxyanisole
(BHA) dan
Butylated hydroxytoluen (BHT) mempunyai bau yang nyata dan
digunakan pada konsentrasi rendah dalam pengobatan dan kosmetika.
Parameter
Fisika Pembuatan Emulsi
Parameter
fisika dalam pembuatan emulsi meliputi :
a. Suhu
b. Waktu
pengocokkan
c. Kecepatan
pencampuran
d. Kecepatan
pendinginan
a.
Suhu
Bila terjadi kenaikan
suhu, maka akan mengakibatkan :
- Penurunan
tegangan antarmuka
d. Penurunan
viskositas ( kestabilan berkurang )
e. Kenaikan
energi kinetik tetesan
Dengan
adanya energi kinetik tetesan mengakibatkan :
f. Semakin
banyak terjadi tumbukan
g. Mudah
terjadi koalesensi
h. Mempengaruhi
koefisien distribusi minyak menguap
i. Menyebabkan
migrasi emulgator
Dapat
menyebabkan inversi fase yakni tipe emulsi berubah, sehingga dapat membentuk
emulsi yang stabil dengan tetes yang lebih halus. Suhu terjadi inversi
disebut Phase Inversion Temperature ( PIT ). Ada yang menamakan PIT ini
sama dengan suhu HLB yakni suhu dimana terjadi keseimbangan lipofil-hidrofil
emulgator. Pada suhu 100ºC terjadi inverse dan tidak dapat kembali lagi ke
bentuk semula.
Pada pembuatan emulsi o/w
dengan emulgator Polisorbat 80. Ternyata
emulsi ini mengandung tetes-tetes minyak sebagai fase dalam dengan misel (
suatu agregat atau kelompok surfaktan ) yang membungkusnya. Jika pemanasan
dilanjutkan hingga 170ºC, misel akan pecah karena ikatan Hidrogen dari air terputus,
minyak keluar sehingga tetes minyak
semakin membesar dan bila dipanaskan
terus akan terjadi hasil akhir berupa 3 lapisan yaitu minyak, air dan misel
berupa surfaktan yang tidak larut dalam minyak. Surfaktan lalu bergabung dengan
air sehingga membentuk emulsi tipe w/o (inversi).
Misel yang paling kecil
menghasilkan emulsi yang paling baik tetapi ada batas-batas tertentu suatu
emulgator yang dikenal dengan nama ; Critical
Micelle Concentration ( CMC ) yakni suatu titik / saat dimana konsentrasi
surfaktan cukup untuk membentuk misel dalam emulsi. Jika suhu dinaikkan, misel
akan pecah, tetes minyak akan membesar.
Dalam kosmetik sering dilakukan inverse untuk tipe
w/o dimana air dimasukkan ke dalam fase minyak untuk memperoleh fase dalam yang
halus dengan diameter yang kecil.
b.
Waktu Pengocokan
Sulit
untuk menentukan apakah pengocokan menunjang emulsifikasi. Pengocokan bertujuan
untuk memecah fase terdispersi menjadi tetes yang lebih kecil. Pada suatu waktu pengocokan tertentu, akan terjadi
tetesan, jika pengocokan dilanjutkan, akan terjadi koalesensi karena benturan antara
tetesan sering terjadi. Hindari
pengocokan yang berlebihan bila emulsi sudah terbentuk. .
Dalam
pembuatan emulsi, pengocokan harus dilakukan secara intermitten, artinya ada
“waktu antara” pada pengocokan. Waktu antara ini dimaksudkan untuk memberi
kemungkinan tetesan putus dan untuk memberi waktu kepada emulgator membungkus
tetesan.
c.
Kecepatan Pencampuran dan Pendinginan
Kecepatan
pencampuran adalah kecepatan penambahan fase minyak ke fase air atau sebaliknya
yang dapat berpengaruh pada kestabilan produk akhir. Karena itu, perlu kehati –
hatian dalam waktu pencampuran. Pencampuran yang singkat pun tidak baik karena
fase terdispersi belum sempat dipecah
& dibungkus oleh emulgator.
Kecepatan pendinginan juga sangat
berpengaruh, terlalu cepat pendinginan akan menyebabkan malamnya (lilinnya)
dapat mengkristal. Untuk emulsi yang mengandung bahan padat (parafin solidum,
cera, setil alkohol, asam stearat) yang harus dilebur terlebih dahulu sebelum
dicampur, maka kondisi suhu antara fase air dan fase minyak perlu
dipertimbangkan, mengingat perbedaan suhu dari kedua fase akan mempercepat
pendinginan fase lainnya, akibatnya bahan yang telah dilebut kembali ke bentuk
kristalnya sebelum terbentuk emulsi.
Parameter
Kimia Pembuatan Emulsi
Beberapa
parameter kimia dalam pembuatan emulsi yang perlu diperhatikan antara lain
adalah :
a.
Emulgator sabun tidak boleh ditambahkan
ke dalam sistem atau sediaan yang pH akhirnya = 5, karena sabun akan
terhidrolisa, dimana asam lemak bebas akan mengendap & tidak dapat
berfungsi sebagai emulgator.
b.
Ester yang mudah terhidrolisa tidak
boleh ditambahkan ke dalam emulsi yang asam atau alkalis.
c.
Sebaiknya dihindari penggunaan lipid
yang mudah teroksidasi, meskipun penambahan
antioksidan diperbolehkan dalam sediaan emulsi.
d.
Keamanan dan kestabilan komponen obat
mutlak diperlukan. Misalnya : suatu emulgator tidak sama untuk pemakaian dalam
dan luar. Contohnya, emulgator sabun digunakan untuk pemakaian luar dan jika
digunakan untuk pemakaian dalam akan menyebabkan iritasi.
Pemilihan
fase minyak berdasar kepada :
a.
Bahannya dipilih berdasarkan penggunaan
produk.
b.
Bahan aktif harus larut di dalamnya dan
tidak mudah menguap sehingga dapat menembus kulit.
c.
Suatu bahan obat di dalam emulsi akan
terdispersi di dalam fase minyak dan air sesuai koefisien partisi minyak-air
molekul obat. Absorpsi obat pada saluran cerna atau oleh kulit tergantung pada
kelarutannya dalam fase minyak.
d.
Perbandingan fase dalam dan luar
ditentukan oleh kelarutan bahan aktif yang secara farmakologis harus tetap aktif.
Kelarutan terbatas dari bahan aktif di dalam pembawa sangat penting agar bahan
tersebut terbagi halus. Umumnya pelepasan bahan obat dari suatu sediaan
merupakan fungsi kelarutannya di dalam pembawa dan di dalam membran tubuh. Obat
tidak boleh terlalu larut terutama pada antar muka.
Untuk pemakaian secara topical,
fase minyak tergantung rasanya di kulit sehingga sangat baik apabila
dikombinasikan untuk mendapatkan kenyamanan rasa apabila digosokkan/ digunakan
pada kulit.
Beberapa
pertimbahan khusus dalam merancang komponen bahan dalam formula emulsi yaitu :
a.
Konsistensi
Untuk mendapatkan
konsistensi yang diinginkan dapat dilakukan dengan 3 cara antara lain :
1)
Manipulasi komponen fase minyak (bahan
padat dan cair)
2)
Mengubah nisbah / ratio fase dan
surfaktan yang digunakan
3)
Penambahan gom
Jika kekentalan fase
luar meningkat maka kestabilan emulsi bertambah. Dengan penambahan gom pada
emulsi o/w dan logam polifalen, sabun valensi dua atau malam yang titik
leburnya tinggi pada emulsi w/o akan menaikkan kekentalan fase luar.
Kekentalan emulsi
kurang dipengaruhi oleh kekentalan fase terdispersi, dan umumnya makin besar
volume fase terdispersi, maka makin berkurang kekentalan. Untuk merubah
kekentalan emulsi adalah dengan merubah fase terdispersi yakni menambah volume
fase terdispersi dan mereduksi tetesan
fase terdispersi dapat meningkatkan kekentalan.
b. Sifat
Tiksotropi
Perlu adanya sifat
tiksotropi dalam sistem emulsi, yakni sifat yang lebih encer pada pengocokkan
dan menjadi kental pada penyimpanan, untuk memperoleh emulsi yang sangat
stabil. Tiksotropi dapat juga merupakan perubahan sol-gel yang reversible. Misalnya : bentonit, Na CMC jika dilakukan pengocokkan yang kuat dapat
bersifat agak tiksotropik.
c. Low Energy Emulsification
Fase terdispersi dipanaskan seluruhnya dan
fase luar dipanaskan hanya sebagian saja. Kemudian keduanya dicampur dan ditambahkan ke
dalam fase luar sisanya. Jika emulsi mengalami inverse maka pemanasan harus di
atas PIT karena akan dapat membentuk emulsi yang betul-betul stabil dan halus.
Variabel
yang berpengaruh dalam Low Energy
Emulsification ini adalah :
j.
Suhu
k.
Jumlah fase luar yang digunakan
l.
Intensitas pencampuran
m. Metode
pencampuran
Pembuatan
Emulsi Skala Kecil
Emulsi dapat disiapkan
dengan berbagai cara tergantung sifat
komponen emulsi dan peralatan yang tersedia.
Dalam skala kecil, emulsi dapat disiapkan dengan peralatan seperti
mortir dan stamper porselen, hand mixer,
milk-shake mixer atau hand homogenizer, atau pada kondisi
tertentu menggunakan botol. Pada skala
ini, pembuatan emulsi dengan gom dapat dilakukan dengan 3 metode umum, yaitu
metode gom kering (metode kontinental), metode gom basah (metode Inggris), dan
metode botol (metode botol Forbes).
a. Metode
gom kering ( metode kontinental)
Pada metode ini, zat pengemulsi dicampurkan
dengan minyak sebelum penambahan air.
Metode ini dikenal dengan metode “4 : 2 : 1”, karena 4 bagian minyak
(volume) , 2 bagian air, dan 1 bagian gom ditambahkan untuk membuat emulsi
utama atau emulsi awal. Dalam metode ini, gom atau zat pengemulsi m/o lainnya
digerus dengan minyak dalam mortir kering hingga seluruhnya bercampur sempurna,
kemudian dua bagian air ditambahkan
sekaligus kemudian campuran digerus dengan cepat dan terus menerus hingga
emulsi utama terbentuk yang ditandai dengan terbentuknya krim berwarna putih
susu dan mengeluarkan bunyi ‘krek’ pada pergerakan stamper. (corpus). Bahan-
bahan tambahan lainnya yang larut dalam air seperti pemanis, pewarna, pengaroma,
penstabil dan pengawet dilarutkan dalam air yang tersisa (fase luar) dan
ditambahkan secara perlahan kedalam emulsi utama dengan bantuan pengadukan.
Selanjutnya emulsi dicukupkan dalam gelas ukur dan dituang ke dalam botol untuk
diserahkan kepada pasien.
Mortir
yang digunakan harus memiliki permukaan dalam yang kasar sehingga dapat
memperkecil ukuran tetes terdispersi. Emulsi yang dihasilkan akan lebih baik
jika menggunakan mixer atau blender listrik.
b. Metode
gom basah ( metode Inggris )
Pembuatan emulsi dengan metode ini menggunakan
proporsi minyak, air , dan gom yang sama dengan metode gom kering, tetapi
urutan pencampurannya berbeda dan jika diinginkan, perbandingan bahan-bahannya bisa bervariasi
selama pembuatan emulsi primer. Umumnya mucilago gom dibuat dengan menghaluskan
granular gom dengan air 2 kali beratnya dalam mortir. Minyak kemudian
ditambahkan secara perlahan-lahan ke dalam mucilago dan digerus terus-menerus
hingga minyaknya teremulsi. Campuran ini harus sangat kental. Selanjutnya air
dan bahan-bahan lain yang terlarut didalamnya ditambahkan dan dicukupkan
volumenya sesuai volume akhir yang direncanakan. Metode ini cocok untuk membuat
emulsi dari minyak-minyak yang sangat kental.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan
emulsi dengan metode ini adalah :
1)
Pembuatan emulsi utama menentukan
kestabilan & penampakan hasil akhir
2)
Adanya bunyi karakteristik umumnya
merupakan petunjuk keberhasilan metode yang dipakai
3)
Jika emulsi utama menjadi encer pada
waktu pembuatannya maka cara mengatasinya yakni dengan membuat musilago segar
lalu ditambahkan ke dalam emulsi utama yang gagal tadi
4)
Jika emulsi utama menjadi terlalu
kental, maka untuk menyerap minyak dapat ditambahkan sejumlah kecil air dengan
cara meneteskan perlahan-lahan untuk mendapatkan kembali konsistensi yang
tepat.
c.
Metode Botol (metode botol Forbes)
Metode ini dapat diterapkan
dalam pembuatan emulsi yang dibuat segera dari minyak-minyak menguap atau
zat-zat bersifat minyak dengan viskositas yang rendah. Serbuk gom arab diisikan
ke dalam botol kering, lalu ditambahkan air 2 kali bobot gom. Campuran tersebut
dikocok kuat-kuat dengan mulut botol tertutup. Selanjutnya dimasukkan suatu
volume air yang sama banyak dengan minyak, dilakukan berulang-ulang, sedikit
demi sedikit dan terus dikocok hingga minyak habis. Jika semua air telah ditambahkan, emulsi
utama yang dihasilkan dapat diencerkan hingga volume yang direncanakan dengan
air dan campuran zat-zat tambahan lainnya. Metode ini tidak cocok untuk
mengemulsikan minyak-minyak yang kental.
Jika
menggunakan emulgator sintetis maka metode pembuatannya lebih sederhana, sehingga emulgator jenis ini lebih luas pemakaiannya dalam sediaan emulsi.
Yang perlu diperhatikan adalah sifat-sifat dan kelarutan tiap komponen dalam
formulasi (stabilitasnya pada peningkatan temperatur dan kelarutan dalam minyak atau air)
Komponen
– komponen yang larut dalam fase minyak dikumpulkan dalam suatu wadah. Demikian
pula dengan fase air. Selanjutnya kedua fase masing-masing dipanaskan dalam pada
suhu sekitar 70-75ºC. jika ada komponenyang perlu dilebur, maka
komponentersebut harus lebih dahulu dipanaskan dan bahan yang lain dicampurkan
dalam leburan. Setelah itu kedua fase dicampurkan dan diaduk secara intermitten hingga emulsi dingin. Pengenceran dilakukan
menggunakan fase luarnya hingga sisa fase tersebut habis atau sesuai dengan
volume yang direncanakan.
Metode ini hanya
membutuhkan 2 beker gelas, thermometer dan pemanas untuk melebur lilin dan
bahan lain, untuk titik lebur yang tinggi harus dilebur sebelum diemulsikan.
Emulsi kasar yang terbentuk ini dapat dilewatkan beberapa kali dalam homogenizer untuk mereduksi ukuran
partikelnya. Penggunaan homogenizer dapat
mengatasi kekurangan dalam teknik pembuatan dan menghasilkan emulsi yang
memuaskan. Jika homogenizer gagal menghasilkan produk yang memadai maka
formulasinya sebaiknya diteliti kembali.
Pembuatan
Emulsi Skala Besar
Untuk tujuan komersial, emulsi disiapkan dalam
jumlah besar. Pembuatan seediaan emulsi ini dilakukan dalam industri obat,
kosmetik dan makanan. Bermacam-macam alat digunakan untuk memecah cairan
menjadi tetes – tetes kecil dan mengemulsikannya dalam cairan lainnya.
Alat-alat tersebut antara lain adalah :
1)
Pengaduk mekanik
2)
Homogenizer
3)
Colloid
Mill
4)
Ultrasonic
homogenizer
Campuran
minyak dan air serta berbagai bahan yang membantu terbentuknya emulsi serta
zat-zat yang dapat menunjang stabilitas serta estetika sediaan dicampur dan
diaduk dalam tangki pengaduk bervolume
besar dan distabilkan dengan melewatkannya pada suatu colloid mill atau homogenizer.
Colloid
Mill
yang menghasilkan gerakan / putaran yang
teratur dan menghasilkan emulsi dengan ukuran globul (tetes terdispersi) yang
sangat kecil. Kecepatan penggilingan
yang tinggi dikombinasi dengan aliran
yang kecil, menghasilkan pemotongan yang efektif selama proses dan menghasilkan
emulsi yang lembut dengan derajat dispersi yang sangat tinggi.
Homogenizers yang dijalankan dengan tekanan tinggi akan
menghasilkan emulsi yang sangat baik,karena campuran dipaksa melalui suatu
saluran dengan lubang kecil dengan tekanan besar.
Ultrasonic
Homogenizer bekerja
dengan memanfaatkan getaran (vibrasi) dengan frekuensi tinggi yakni 200.000 rpm
(ultrasonic). Alat ini digerakkan oleh tekanan gelombang tinggi dalam media
cair secara intensif. Gelombang tekanan ini akan menggetarkan cairan dan pada
kondisi yang tepat, secara cepat akan terbentuk tetesan-tetesan berukuran
mikro.
Pembuatan
emulsi ganda
Pada pembuatan emulsi tipe w/o/w , terlebih
dahulu dibuat emulsi tipe w / o, misalnya
dengan mendispersikan sorbitan
mono oleat ( span 80 ) ke dalam fase minyak dengan bantuan mikser, setelah itu
ditambahkan fase air perlahan-lahan sehingga terbentuk emulsi tipe w / o.
Emulsi ini kemudian didispersikan ke dalam larutan air dari emulgator o / w
seperti polisorbat 80 ( tween 80 ) sehingga terbentuk emulsi tipe w / o / w.
Fase yang direncanakan sebagai fase dalam,
maka ia yang ditambahkan pada
campuran fase lainnya.
Pada
pembuatan emulsi, volume fase terdispersi dapat sampai sekitar 75 % dari total
volume emulsi. Asumsi bahwa tetesan
merupakan butiran dengan ukuran yang sama secara ideal tidak dijumpai dalam
praktek. Volume fase terdispersi dapat lebih dari harga tersebut tetapi
kemungkinan terjadinya inversi fase juga besar, karena suatu saat volume fase
kontinyu tidak cukup untuk menampung fase terdispersi sehingga mengakibatkan
emulsi pecah atau terinversi sehingga fase internal menjadi fase kontinyu, dan
sebaliknya. Perubahan tipe karena perubahan volume fase ini sering diikuti
kenaikan viskositas.
Adalah
sangat penting mengetahui tipe emulsi
yang akan dibuat (tidak hanya melihat komposisi dari formula) karena hal ini
mempengaruhi sifat dan penampakan emulsi yang dihasilkan.
Adapun
beberapa peraturan empiris untuk menentukan tipe emulsi yang terbentuk yaitu :
1)
Ratio volume fase, yakni jumlah relatif
air dan minyak menentukan jumlah relatif tetes- tetes yang terbentuk dan kemungkinan
benturan yang akan terjadi. Secara normal fase yang jumlahnya lebih besar akan
menjadi fase eksternal.
2)
Untuk menentukan tipe emulsi yang
terbentuk pada kondisi tertentu maka interaksi terhadap emulgator perlu dipertimbangkan.
a.
Bila emulgator terutama larut dalam air
( sabun, derivat polioksi etilen dengan etilen oksid lebih dari 5 unit) maka
umumnya akan menunjang terbentuknya emulsi o / w. tetapi bila emulgator
terutama larut dalam bagian minyak (sabun Na, derivat polioksietilen dengan
etilen oksid kurang dari 5 unit) maka emulsi yang terbentuk adalah tipe w/o
bila kondisi lainnya menunjang.
b.
Bagian polar emulgator umumnya merupakan
penghalang yang lebih baik dari pada bagian hidrokarbon. Hal tersebut
memungkinkan pembuatan emulsi o/w dengan fase dalam relati ftinggi. Di pihak
lain, emulsi w/o yang penghalangnya bersifat hidrokarbon agak terbatas dalam
hal ini dan akan segera terinversi bila jumlah air yang ada signifikan. Misalnya
: emulsi air-minyak mineral dengan emulgator span 80 biasanya menunjang
pembentukan emulsi w/o karena tidak adanya gugus etilen oksid. Hal tersebut
hanya bila kandungan air volumenya kurang dari 40%. Pada kandungan yang lebih
besar / tinggi akan terbentuk emulsi o/w.
c.
Dengan kandungan air 20 hingga 30%, maka
hanya terbentuk emulsi w/o bila air ditambahkan ke minyak dengan pengadukan.
Tetapi kalau kedua fase dicampur dahulu baru diikuti pengocokan maka terbentuk
emulsi o/w pada konsentrasi air di atas 10%, kemungkinan terakhir umumnya sulit
dilakukan
d.
Tipe emulsi juga agak dipengaruhi
viskositas tiap fase sehingga kenaikan viskositas suatu fase akan membantu fase
tersebut menjadi fase luar.
Walaupun
ada ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pada umumnya emulgator yang lebih
larut dalam air akan membentuk emulsi o/w dan emulgator yang lebih larut dalam
minyak akan membentuk emulsi w/o.
D.
Stabilitas
Emulsi
Dari sudut termodinamika, emulsi digolongkan dalam sistem yang tidak stabil. Ketidakstabilan termodinamika dari emulsi
berbeda dengan kestabilan yang didefenisikan oleh formulator atau konsumen. Kestabilan
yang dapat diterima dalam sediaan untuk pengobatan tidak membutuhkan kestabilan
termodinamika. Jika suatu emulsi mengalami creaming tetapi masih dapat diemulsikan dengan pengocokan
yang sedang, maka bagi farmasis, emulsi tersebut masih dapat diterima untuk
pengobatan. Pertimbangan serupa juga berlaku untuk emulsi-emulsi kosmetik
tetapi biasanya kurang dapat diterima karena pemisahan itu menyebabkan
penampakan kosmetik tidak menarik. Jadi standar kestabilan tergantung sebagian
besar oleh pengamatnya.
Kestabilan dari suatu emulsi
farmasi memiliki ciri tidak adanya penggabungan fase terdispersi, tidak adanya
creaming, dan memberikan penampilan, bau, warna dan sifat-sifat fisika lainnya
yang baik. Seperti telah dijelaskan bahwa creaming bukanlah tanda
ketidakstabilan suatu emulsi. Akan tetapi karena emulsi adalah suatu sistem
yang dinamis, maka creaming dapat berpotensi terjadinya penggabungan fase
terdispersi secara sempurna. Disamping itu, pada emulsi yang mengalami creaming,
pengocokan yang tidak sempurna akan berakibat tidak tercapainya pemberian dosis
yang diharapkan pada penggunaannya.
Campuran ini harus menunjukkan self
life yang dapat diterima pada suhu sekitar suhu kamar. Shelf life adalah jangka waktu yang dibutuhkan untuk berkurangnya
konsentrasi zat aktif, atau kestabilan yang dapat diterima pada suhu sekitar
suhu kamar. Shelf life yang diinginkan adalah emulsi masih stabil setelah
penyimpanan :
a.
12 – 18 bulan pada suhu kamar
b.
5 – 6 bulan pada suhu 37ºC
c.
2 – 3 bulan pada suhu 45ºC
Indikator stabilitas
emulsi adalah:
a.
Tidak terjadi pemisahan
b.
Tidak ada perubahan kekentalan
c.
Tidak ada perubahan ukuran tetes
terdispersi
d.
Mempunyai sifat elektroforesa.
Segera setelah pembentukan emulsi, terjadi proses yang
mempengaruhi pemisahan. Pemisahan dipengaruhi oleh lamanya (waktu) dan suhu penyimpanan. Selama
penyimpanan, terjadi gejala ketidakstabilan
emulsi yang ditandai dengan adanya :
a.
Flokulasi dan Creaming
b.
Penggabungan (Koalesen) dan pemecahan
c.
Berbagai jenis perubahan kimia dan
fisika
d.
Inversi fase
Creaming
Creaming
dapat diartikan sebagai naiknya tetes terdispersi ke permukaan emulsi, sehingga
tampak seperti terjadi pemisahan fase. Creaming bersifat reversibel, artinya
dapat teremulsi kembali dan homogen dengan pengocokan karena tetesan
terdispersi masih dikelilingi oleh suatu lapisan pelindung ari zat pengemulsi. Meskipun creaming bagi seorang farmasis
bukanlah suatu ketidakstabilan dari emulsi, tetapi gejala ini tidak menyenangkan untuk dilihat. Faktor-faktor yang berkaitan dengan
terjadinya creaming dari suatu emulsi
dapat dihubungkan dengan hukum Stokes (persamaan 3.2).
Berbeda
dengan sistem suspensi, fase terdispersi pada sistem emulsi dapat memiliki
kerapatan yang lebih besar daripada kerapatan fase kontinyu (emulsi tipe w/o), ataupun sebaliknya
kerapatan fase terdispersi lebih kecil daripada kerapatan fase kontinyu (emulsi
tipe o/w). Sehingga creaming/flokulasi dapat mengarah ke atas jika kecepatan
sedimentasinya (dari hukum Stokes) negatif ((ρo-ρw) <
0), yang terjadi pada emulsi tipe o/w (kerapatan minyak lebih kecil daripada
air). Sebaliknya creaming akan mengarah ke bawah pada emulsi tipe w/o, karena
kecepatan sedimentasinya positif ((ρw-ρo) > 0).
Semakin
besar perbedaan kerapatan antar fase, peningkatan diameter fase terdispersi
akibat flokulasi, dan peningkatan gaya grafitasi dengan sentrifugasi, akan meningkatkan
kecepatan creaming. Untuk mengurangi kecepatan creaming,
maka faktor-faktor dalam persamaan Stokes dapat diubah. Perlambatan creaming
dapat tercapai dengan meningkatkan viskositas fase kontinyu tanpa melewati batas – batas konsistensi
dengan suatu zat pengental (viskosity
improver atau thickening agent),
pengecilan ukuran tetes dispersi dan peningkatan kerapatan fase
minyak.
Kerapatan
fase minyak dapat ditingkatkan dengan menambahkan zat-zat yang larut dalam
minyak. Kekentalannya fase kontinyu dapat dilakukan dengan
penambahan suatu hidrokoloid seperti CMC, tragakan atau Na alginat tetapi harus diperhitungkan dalam
penggunaanya oleh pasien. Jika kekentalan sangat tinggi, maka sediaan akan
sulit dituang. Dalam kosmetik, sediaan
yang sangat kental akan sulit dalam meratakannya pada permukaan kulit.
Flokulasi
Pada
keadaan terflokulasi, tetesan saling berdekatan tetapi tidak bersatu. Flokulasi
dipengaruhi oleh muatan pada permukaan
tetes terdispersi, tetes terdispersi berkelompok tetapi tidak bersatu karena
adanya muatan listrik. Hal ini juga terjadi oleh karena adanya penghalang mekanis
atau listrik cukup untuk mencegah koalesensi tersebut.
Flokusi
berbeda dengan koalesensi dalam hal film antar muka dan tetes terdispersi dalam
flokulasi tidak rusak.
Penggabungan
(Koalesensi) dan Pemecahan
Koalesensi
adalah proses fusi sempurna tetesan yang menyebabkan jumlah tetesan berkurang
tetapi diameternya membesar dan akhirnya terjadi pemisahan menjadi 2 fase yang
tidak tercampurkan. Penggabungan tetes-tetes terdispersi terjadi karena lapisan
pelindung dari zat pengemulsi telah dirusak.
Faktor
utama yang dapat mencegah terjadinya koalesen adalah :
1)
Kekuatan mekanis film antar muka
2)
Sifat struktur film antar muka
Umumnya
tidak terjadi koalesensi jika ada film antar muka yang tebal dan rapat dari
mikromolekuler atau partikel padatan. Agar efektif, suatu lapisan pengemulsi
harus kuat, elastis, dan terbentuk dengan cepat selama proses emulsifikasi.
Serrallach, Jones, dan Owen telah mengukur kekuatan lapisan antar muka. Mereka
menemukan bahwa suatu zat pengemulsi atau kombinasi zat pengemulsi yang baik
mengakibatkan penurunan tegangan antarmuka awal dan menghasilkan tetes-tetes
dispersi yang kecil dan sama yang terbentuk dengan cepat, sehingga melindungi
tetesan tersebut untuk tidak bersatu
kembali selama pembuatan. Lapisan tersebut secara perlahan akan
meningkat kekeuatannya setelah periode penyimpanan beberapa hari atau beberapa
minggu.
|
Gambar 4.5. Perubahan stabilitas emulsi.
(1) Emulsi segar , (2) Flokulasi, (3) koalesen,
(4) creaming, (5) Ostwald ripening, (6)
inversi fase (Kulshreshtha,2010:7)
Berbagai
jenis perubahan kimia dan fisika
Gejala
ketidakstabilan suatu emulsi dapat diamati dari penampakan fisik seperti
penggabungan tetes terdispersi hingga pemisahan fase seperti yang telah dijelaskan di atas; serta
perubahan kimia yang tampak dari perubahan warna, bau dan rasa akibat reaksi
kimia yang terjadi antar komponen dalam sediaan karena pengaruh lama
penyimpanan, suhu dan kontaminasi mikroorganisme.
Inverse
Emulsi
dikatakan terinversi jika tipenya berubah, dari tipe o/w ke w/o atau
sebaliknya. Jika dikontrol dengan tepat selama pembuatan emulsi, inversi fase
seringkali menguntungkan karena dapat menghasilkan suatu produk yang lebih
halus. Tetapi jika pembuatan telah selesai, maka inversi fase merupakan suatu
masalah besar, karena tipe emulsi yang dibentuk menjadi tidak sesuai dengan
tipe yang direncanakan.
Inversi
fase dapat terjadi dengan beberapa perlakuan terhadap sistem, yaitu:
a.
Penambahan elektrolit
Misalnya emulsi o/w yang distabilkan dengan
emulgator Na stearat dapat diubah menjadi tipe w/o dengan penambahan Ca
untuk membentuk Ca stearat ( emulgator lipofilik ).
b.
Mengubah perbandingan volume fase
Bila memungkinkan maka volume fase
terdispersi sebaiknya tidak lebih dari 50% dari volume total emulsi, jika
volume fase terdispersi dinaikkan dalam pembuatan, maka fase terdispersi akan
berubah menjadi fase kontinyu.
c.
Pada emulsi yang dibuat dengan pemanasan
dan mencampurkan fase dalam keadaan panas, maka pada waktu dingin akan terjadi
inversi karena perubahan kelarutan emulgator yang disebabkan oleh perubahan
suhu.
Efek
inversi fase ini dapat diperkecil dengan menggunakan emulgator dengan jenis dan
jumlah yang sesuai/memadai. Misalnya : minyak kelapa yang tersusun dari stearat
atau oleat maka digunakan emulgator yang mengandung stearat atau oleat.
Cara mengetahui
tipe emulsi sebelum dan setelah terjadinya inversi fase pada pengujian
kestabilan adalah sebagai berikut :
1) Menggunakan kobalt klorit ( CoCl2 .
6 H2O )
Kertas
saring dibuat menyerupai lingkaran, kemudian ditetesi larutan kobalt klorida,
akan berwarna pink yang jika dikeringkan berwarna biru. Bila ditetesi suatu
emulsi dan kertas berwana pink kembali, maka tipe emulsi tersebut adalah tipe
o/w.
2) Uji
Hantaran Listrik
Jika
elektroda yang telah dihubungkan dengan sumber listrik dan bola lampu dimasukkan
ke dalam suatu emulsi, maka bila lampu
menyala menunjukkan bahwa tipe emulsi tersebut adalah o/w, karena fase kontinyu adalah air yang
dapat menghantarkan arus listrik.

Gambar
4.6. Uji hantaran listrik
3) Test
Kelarutan
Sejumlah kecil pewarna
yang larut dalam air seperti biru metil ditaburkan pada permukaan emulsi, bila
emulsi tipe o/w maka pewarna akan larut dan terdifusi merata ke seluruh air.
Bila pewarna tidak mewarnai fase kontinyu maka test diulang menggunakan
sejumlah kecil cat yang larut dalam minyak, jika fase kontinyu diwarnai maka
emulsi adalah tipe w/o.
4) Test
pengenceran
Bila
emulsi dapat bercampur bebas dengan air maka tipenya adalah o / w.
5) Fluoresensi
Minyak berfluoresensi
jika disinari dengan sinar UV, sebagai pembanding digunakan vaselin. Jika
disinari dengan sinar UV maka emilsi w/o akan berflouresensi seluruhnya.
Evaluasi
Kestabilan Emulsi
Karena
tidak ada metode yang cepat dan sensitif untuk penentuan ketidakstabilan emulsi
maka emulsi diberi kondisi yang ditekan/dipaksakan (stress condition) untuk mengevaluasi ketidakstabilannya atau untuk
mengetahui apakah sudah terjadi koalesensi.
Kondisi yang
dipaksakan itu meliputi :
1) Menempatkan
emulsi pada suhu yang lebih tinggi dari suhu normalnya selama beberapa waktu.
Kebanyakan emulsi tetap
stabil pada suhu 40ºC – 45ºC tapi tidak bisa bertahan pada suhu 50ºC - 65ºC
walaupun hanya beberapa jam. Cara khusus yang biasa berguna untuk menilai
kestabilan suatu emulsi adalah memberikan stress
condition pada sediaan dengan
menempatkannya diantara 2 suhu yaitu 4º dan 45ºC, selama periode waktu
tertentu dan dilaksanakan dalam beberapa siklus. Pada kondisi ini, emulsi cukup
mengalami tekanan untuk merubah berbagai parameter dalam emulsi. Kebanyakan
emulsi menjadi lebih encer pada suhu yang tinggi dan mengental pada suhu kamar.
Pembekuan lebih berpotensi dalam merusak emulsi, karena kelarutan emulgator
lebih sensitif baik dalam fase minyak ataupun fase air. Tekanan ini dapat
mengubah bentuk tetes-tetes terdispersi.
2)
Sentrifusi
Pemisahan
fase dalam sistem emulsi dapat segera diamati dengan mensentrifus emulsi.
Pemisahan fase yang tampak adalah akibat dari terjadinya creaming atau
koalesen. Pemisahan fase tergantung dari
lama dan kecepatan putaran.
3)
Agitasi ( pengocokan )
Agitasi dapat memberi
energi bagi tetes-tetes terdispersi untuk melakukan sehingga terjadi koalesen
yang pada akhirnya terjadi pemisahan fase
Parameter
fisika yang digunakan dalam mengukur ketidakstabilan emulsi pada kondisi
stress, meliputi pemisahan fase, viskositas, sifat elektroforesa, dan kecepatan
pemindahan tetes emulsi ke salah satu elektroda
1)
Pemisahan fase
Besar
dan cepatnya pemisahan fase dapat diamati secara visual atau dengan mengukur
volume fase yang memisah memakai gelas ukur. Penelitian kestabilan emulsi
minyak mineral dalam air yang distabilkan dengan tween 80 dan Na lauril sulfat
pada suhu kamar menunjukkan bahwa jumlah koalesensi yang diamati tergantung
pada konsentrasi emulgator.
Cara
khusus yang sederhana adalah dengan mengambil sedikit contoh emulsi dari puncak
dan dasar sediaan beberapa waktu penyimpanan dan membandingkan komposisi kedua
sampel dengan kandungan minyak atau air sediaan emulsi lainnya.
2)
Viskositas
Penggunaan kekentalan
dalam penentuan kestabilan emulsi tidak berhubungan dengan nilai absolut
kekentalan pada berbagai periode waktu, karena emulsi umumnya adalah non
Newtonian maka perhitungan viskositas sebaiknya tidak penggunaan viskometer
bola jatuh dan kapiler. Setelah pembuatan, tetes emulsi akan terflokulasi &
segera terjadi kenaikan kekentalan. Setelah perubahan ini, banyak emulsi
berubah kekentalannya seiring dangan waktu. Jika tidak ada perubahan kekentalan
dengan pertambahan waktu, maka emulsi
dianggap ideal walaupun kebanyakan sistem yang dapat diterima memperlihatkan
sedikit kenaikan kekentalan antara 0,04 dan 400 hari.
Emulsi lainnya
menunjukkan kenaikan kekentalan yang lebih drastis dan tiba-tiba setelah 2-3
bulan. Keadaan tersebut sering diikuti oleh penurunan kekentalan yang
kemungkinan berhubungan dengan pemisahan fase.
Untuk mendeteksi
sedimentasi digunakan viskometer Brockfield. Jika terjadi sedimentasi,
pandulunnya akan turun dan mencatat turun naiknya kekentalan. Misalnya
pengukuran viskositas pada losio yang mengandung partikel padat, maka
kekentalannya yang tinggi pada permukaan disebabkan bahan padat yang tidak
terbasahi dan emulsi yang mengalami kriming. Kekentalan yang tinggi pada level yang lebih
rendah, disebabkan oleh sedimental
partikel. Pada losio tersebut penambahan polisorbat 80 dengan MC menghasilkan
kekentalan yang lebih merata setelah penyimpanan 8 minggu. Dari data itu jelas
bahwa tidak mungkin untuk meramalkan sifat-sifat kekentalan yang berlangsung
lama pada minggu pertama penyimpanan setelah pembuatan emulsi.
3) Sifat
elektroforesa
Elektroforesis adalah
pergerakan suatu permukaan yang bermuatan melalui suatu cairan dibawah pengaruh
suatu perbedaan potensial yang
digunakan. Laju perpindahan partikel diamati dengan suatu ultramikroskop dan
merupakan fungsi muatan pada partikel tersebut. Zeta potensial emulsi mengamati gerakan partikel dibawah pengaruh
aliran listrik. Zeta potensial khususnya berguna untuk menetapkan tingkat flokulasi
karena muatan listrik partikel mempengaruhi kecepatan flokulasi.
Jika ketidakstabilan itu
disebabkan oleh koalesensi dan bukan flokulasi, maka penentuan muatan partikel
tidak relevan untuk meramalkan Shelf life.
ζ =
……………………………. (4.2)
Dimana
:
ζ
= potensial zeta (volt)
n = kekentalan ( poise atau dyne det/cm² )
ϵ = konstanta dielektrik
E = perubahan potensial ( volt/cm )
v = kecepatan pergerakan partikel ( cm/
det )
umumnya
bila zeta potensial = 25 mV atau lebih kecil, maka sistem menjadi tidak stabil terhadap flokulasi dan dapat
terjadi koalesensi.
4)
Ukuran Partikel dan Analisa Jumlah
Parameter penting lainnya
untuk mengevaluasi emulsi adalah perubahan ukuran partikel rata-rata atau
perubahan distribusi ukuran tetesan. Menurut
King dan Mukherjee, satu-satunya metode yang tepat untuk menentukan kestabilan
emulsi adalah analisis frekuensi – ukuran dari emulsi tersebut dari waktu ke
waktu. Pengamatan terhadap distribusi
ukuran partikel dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi
dengan skala. Area pengamatan dapat diproyeksikan melalui layar komputer, sehingga
ukuran partikel lebih mudah diukur.Melalui cara ini, dapat diukur tetesan
dispersi yang berukuran 0,2 µm hingga sekitar 100 µm.
Yang harus diperhatikan
dalam pengukuran ini adalah ukuran partikel, jumlah partikel, luas permukaan
tetesan, volume tetesan vs waktu penyimpanan. Ukuran tetes-tetes terdispersi
dalam mikrometer diplot terhadap frekuensi atau banyaknya tetesan. Distribusi
luas permukaan spesifik merupakan suatu kriteria kestabilan emulsi.
Metode lain yang
ditawarkan adalah melakukan analisis ukuran partikel dengan alat coulter sentrifugal fotosedimentometer .
Diameter tetesan rata-rata dapat diketahui, sehingga dapat diplot hubungan
antara luas permukaan spesifik dari waktu ke waktu untuk tiap gram minyak yang
teremulsi.
Pengambilan kesimpulan
terhadap penilaian stabilitas suatu emulsi dapat mengacu pada parameter berikut
:
1) Tidak
menunjukkan pemisahan sekurang-kurangnya selama 60-90 hari penyimpanan pada 45
atau 50ºC; selama 5-6 bulan pada suhu 37ºC; atau selama 12-18 bulan pada suhu kamar.
2) Tidak
memisah setelah penyimpanan 1 bulan pada 4ºC
3) Tidak
memisah setelah 2 atau 3 siklus pembekuan-pemanasan pada 20º dan 25ºC.
4)
Stabil sekurang-kurangnya 6-8 siklus
pemanasan dan pendinginan, pada suhu pendinginan 4º dan 45ºC dengan
penyimpanan pada masing-masing suhu tidak kurang dari 48 jam; -5 dan
40ºC dengan penyimpanan 24 jam pada masing-masing suhu selama 24 siklus; atau 5 dan 35ºC dengan penyimpanan
12 jam bergantian selama 10 siklus.
5)
Tidak mengalami kerusakan serius pada
sentrifugasi 2000 – 3000 rpm pada suhu kamar selama 20 menit.
6)
Tidak dipengaruhi pengocokan selama 24-48
jam pada shaker yang mempunyai siklus 60 per menit pada suhu kamar dan 45ºC.
Evaluasi
stabilitas emulsi idealnya dilakukan pada interval waktu tertentu dengan
mengamati perubahan aliran listrik, refraksi sinar, kekentalan,
ukuran partikel dan perubahan komposisi kimia. Disamping itu, uji mikrobiologis terhadap sediaan juga perlu
dilakukan, karena distribusi pengawet di dalam emulsi segar berbeda dengan emulsi
yang telah disimpan beberapa waktu pada kondisi suhu yang berbeda-beda.
E. Jenis dan Penggunaan Sediaan Emulsi
Bentuk emulsi digunakan secara luas dalam formulasi
sediaan farmasi, kosmetik, dan makanan. Kebanyakan emulsi yang dirancang untuk
pemakaian per oral adalah tipe o / w, sedangkan krim dan lotion dapat tipe
emulsi o / w. ataupun tipe w / o.
Penggunaan
emulsi secara oral mempunyai beberapa keistimewaan antara lain:
1)
Rasa minyak dapat ditutupi karena dibuat
tipe emulsi o/w dimana minyak sebagai fase internal dapat ditutupi, juga vitamin
yang larut dalam lemak atau obat dengan kadar minyak yang tinggi (nutrisi).
2) Absorpsinya
lebih cepat untuk senyawa tertentu.
3) Mudah
penerimaannya karena penampilan dan rasa dapat dirancang sesuai keinginan
konsumen
4) Khusus
untuk sediaan yang mengandung sulfa, aksinya dapat diperpanjang.
Untuk
pemakaian parenteral, emulsi dapat diperuntukkan bagi :
1) Pasien
yang sukar menggunakannnya melalui
mulut.
2) Pemeriksaan
sinar X pada organ tubuh ( I.V )
3) Untuk
penggunaan I.M ( tipe w/o ) sebagai depo obat
Dalam
formulasi sediaan kosmetika, emulsi sangat disukai antara lain karena :
1)
Kandungan minyaknya dapat berfungi sebagai
emolien, pembersih wajah dan kulit
2)
Sebagai basis sediaan kosmetik dan emulsi
tipe o/w disukai karena dapat dicuci dengan air
3)
Dapat dibuat dalam bentuk aerosol, untuk
keperluan mencukur (saving cream)
Dewasa
ini dikembangkan emulsi ganda untuk memperpanjang pelepasan bahan aktif di
dalam emulsi. Obat-obat dalam emulsi ganda yang ada pada fase paling dalam
harus melewati dua batas fase untuk mencapai fase luar.
Mikroemulsi merupakan jenis emulsi lainnya yang
dibedakan karena ukuran partikel tetes terdispersinya, seperti yang telah dijelaskan
pada awal bab ini. Emulsi ini terlihat transparan dan distabilkan dengan konsentrasi
surfaktan yang relatif besar serta dibantu dengan kosurfaktan. Dengan adanya
kosurfaktan, tegangan antar muka direduksi sampai nol sehingga emulsi terjadi
secara spontan. Secara termodinamik, beberapa sediaan mikroemulsi memiliki
digolongkan sebagai sistem termodinamika stabil
Emulsi oral
Emulsi untuk oral adalah o/w yang emulgatornya
mengelilingi minyak sehingga rasa minyak dapat dikurangi dan tidak menyebabkan
iritasi pada pengobatan. Untuk
memperbaiki rasanya ditambahkan flavouring
agent ( bahan pengaroma ).
Flavoring agent
dapat terbagi diantara kedua fase. Hal ini diinginkan karena emulsi yang kedua
fasenya diberi flavor mempunyai rasa
lebih pada awal pemakaian & sesudahnya, dibandingkan dengan emulsi yang
hanya fase luarnya saja yang diberi flavoring
agent. Konsentrasi flavor yang
digunakan harus mempertimbangkan kelarutannya pada kedua fase sehingga ada
konsentrasi memadai tersisa untuk fase luar.
Sediaan
dalam bentuk emulsi akan menaikkan absorpsi usus untuk lemak. Suatu emulsi yang
dibuat dengan alat homogenizer akan
menghasilkan butir-butir minyak dengan ukuran kurang dari 1 µ sehingga dapat
cepat terabsopsi.
Emulsi untuk topikal
Emulsi topikal dapat diformulasi dengan
baik sehingga menghasilkan sediaan dengan konsistensi yang mudah mengalir dan
rasa licin, sehingga memungkinkan
penggosokan ( massage ) di dalam
pemakaiannya. Contohnya losio atau salep
liniment. Emulsi untuk kulit lebih
disukai dari jenis yang mudah dibersihkan dari kulit melalui pencucian dengan
air, tidak mengotori pakaian, dan
rasanya tidak kasar karena butiran zat padat.
Emulsi untuk intra vena
Vitamin
K dan beberapa vitamin larut minyak serta makanan yang bersifat minyak
dapat diberikan secara i.v sebagai
emulsi parenteral. Karena efek fisiologis yang tidak diinginkan seperti demam
dan hemolisis maka pemberian emulsi secara i.v dibatasi. Emulgator untuk emulsi
i.v adalah lesitin, gelatin, serum albumin, polisorbat 80 dan pluronik F-68.











