LABORATORIUM
FARMASETIK
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
LAPORAN TEKNOLOGI SEDIAAN 1
PERCOBAAN
TABLET KONVENSIONAL
(ANALGETIK)
FORMULA
Dhitamol®

OLEH:
NAMA : MUHAMMAD NUR NISBA
NIM : 70100112022
KELAS : FARMASI A
KELOMPOK : VII (TUJUH)
ASISTEN : ANDI ULFIANA UTARI
SAMATA-GOWA
2013
BAB
I
TINJAUAN
UMUM ZAT AKTIF DAN SEDIAAN
1. Deskripsi
Umum Senyawa Aktif
ASETOSAL
Nama
resmi : ASAM ASETIL SALISILAT
Nama
lain : Aspirin, asetosal, as. Asetil salisilat.
Rumus
molekul : C9H8O4
Berat
molekul : 180,16
Pemerian : Putih atau hampir putih, serbuk kristal atau
kristal berwarna
Kelarutan : Praktis
tidak larut dalam air, larut dalam aseton, sangat mudah larut dalam etanol,
metil alkohol. Sedikit larut dalam etil asetat
Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup rapat
Kegunaan : Analgesik
(sebagai zat aktif)
Stabilitas : Larutan
asetosal lisin dalam air untuk wadah injeksi di suhu kamar yang stabil ketika
terlindung dari cahaya
Dosis : Dewasa : 3x2 tab 200 mg, atau 3x1 tab 400 mg
Anak : 20
mg/kgBB/hari dibagi dalam beberapa pemberian. Untuk anak di bawah 30 kg
maksimum 500 mg/hari
Kontraindikasi : Hipersensititas,
wanita hamil, dan menyusui, yang mendidap tukak lambung.
Farmakologi : Aktivitas
anti-inflamasi, antipiretik, dan analgetik
Farmakokinetik : asetosal
diabsorpsi dari saluran gastrointestinal dan plasma, konsentrasi dicapai1-2
jam. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam.
2. Alasan
pemilihan dan definisi bentuk sediaan
Tablet merupakan
bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan
bahan tambahan Farmasetika yang sesuai (Ansel, Howard. 1985;244).
Beberapa keunggulan utama tablet adalah sebagai berikut:
a. Semua
bentuk sediaan oral untuk ketetapan ukuran serta variebilitas kandungan yang
paling rendah
b. Ongkos
pembuatannya paling rendah
c. Bentuk
sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak
d. Bentuk
sediaan oral yang paling mudah untuk di produksi secara besar-besaran.
e. Paling
mudah di telan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan.
(Lachman,
2008: 645).
Migren adalah
sakit kepala kambuhan dengan intensitas sedang sampai berat yang terkait dengan
sindrom anatomis, neorologis, dan saluran cerna. Pada migren dengan aura,
gejala neorologis fokal yang rumit akan mendahului atau menyertai serngan sakit
kepala (Elin. 2008 : 568).
Analgesik dan
AINS merupakan obat yang efektif mengobati serangan migren ringan sampai
sedang. Aspirin, ibuprofen, napraksen sodium, asam tolferamik, dan kombnasi,
asetaminofen plus aspirin dan kofein menunjukkan bukati mamfaat yang paling
konstan (Elin. 2008).
Asam asetil salisilat
merupakan derifat asam prepionat yang diperkenalkan pertama kali di banyak
negara. Obat ini bersifat analgesic dengan daya anti-inflamasi yang tidak
terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti ibuprofen. Efek anti-inflamasinya
terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi asetosal cepat melalui
lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Waktu paruh
dalam plasma sekitar 2 jam, 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma.
Ekskresi berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dari dosis yang
diabsorpsikan diekskresikan melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya.
Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi (ISO
Farmakoterapi, 2009: 533).
Efek samping terhadap
saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin, indometasin, atau
naproksen. Efek samping lainnya yang jarang ialah eritema kulit, sakit kepala
trombosipenia, ambliopia toksik yang reversibel. Dengan alasan bahwa ibuprofen
relatif lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius, maka
ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas di beberapa negara termasuk
Indonesia (Syarif, dkk. 2012: 240).
3. Dasar
Pertimbangan dan Landasan Hukum Penggolongan Obat Penandaan pada wadah, leaflet
atau brosur.
Obat sakit kepala yang termasuk ke dalam golongan obat bebas terbatas adalah
obat pereda nyeri yang mengandung 'obat anti inflamasi non steroid' (AINS) yaitu aspirin (asetosal), ibuprofen atau propifenazon.
Tanda peringatan untuk obat bebas terbatas (P.No. 1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.)
4. Nomor
Registrasi dan Nomor Batch
No.
Reg :
DKL
13022001 10 A1
No. Batch :
M
0413001
BAB II
URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI
1. Nama
Obat dan Sinonim
Asetosal merupakan derifat asam prepionat yang
diperkenalkan pertama kali di banyak negara. Obat ini bersifat analgesic dengan
daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti Ibuprofen
(Amir. 2007: 240)
2. Bentuk Senyawa
Zat Aktif
Asetosal turunan
asam salisilat adalah NSAID. Sifat antiinflamasi mungkin lebih lemah
dibandingkan dengan beberapa NSAID lainnya(Martindale. 2009; 64)
Asetosal
mengandung tidak kurang 97 % dan tidak lebih dari 103 % C9H8O4
dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian serbuk hablur, putih hingga hampir
putih, berbau khas lemah (Dirjen POM. 1995: 449)
3. Efek
Farmakologi dan Mekanisme Kerja Dalam Tubuh
Asetosal tergolong
dalam kelompok antipiretik dan analgesik.
Aktivitas (penghilang
migren) asetosal bekerja
di hipotalamus dengan
meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah piretik (antipiretik). Ibuprofen juga bekerja dengan
cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang
berimbas pada terhambatnya pula sintesis Prostaglandin (analgesik) (Amir. 2007; 231).
4. Nasib
Obat Dalam Tubuh
Absorbsi asetosal
cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam.
Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. 90% terikat dalam protein plasma.
Eksresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dari dosis yang
diabsorbsi akan dieksresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya
(Amir. 2007; 240).
5. Indikasi
dan Kontraindikasi
Indikasi : Untuk sakit kepala, Karena
efek analgesic dan antiinflamasinya maka dapat digunakan untuk meringankan
gejala-gejala penyakit rematik tulang, sendi dan non sendi. Nyeri & radang pada penyakit artritis
(rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteoarthritis) & gangguan non
sendi (otot kerangka), nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea, paska
bedah, nyeri & demam pada anak-anak
Kontradikasi : Pasien dengan penyakit hipertensi, wanita hamil dan menyusui.
Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat anti
inflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, erta anak dibawah
usia 14 tahun (Elin. 2008; 533).
6. Dosis,
Perhitungan Dosis, dan Aturan Pakai
Dosis:
Dosis: migren, nyeri (haid), demam,
dan rema, permulaan 400 mg p.c./d.c., lalu 3-4 dd 200-400 mg, pada anak-anak:
6-12 bulan 3 dd 50 mg, 1-3 tahun 3-4 dd 50 mg, 4-8 tahun 3-4 dd 100 mg, 9-12
tahun 3-4 dd 200 mg (Tjay dan Rahardja, 2010: 333).
Aturan pakai: khusus dewasa 3 x 1
(tidak melebihi 2400 mg)
7. Efek
Samping dan Toksisitas Obat
Efek
samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan ibuprofen,
indometasin, atau naproksen. Efek samping lainnya yang jarang ialah eritema
kulit, sakit kepala trombosipenia, ambliopia toksik yang reversibel. Dengan
alasan bahwa ibuprofen relatif lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek
samping serius, maka ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas di beberapa
negara termasuk Indonesia (Syarif, dkk. 2012: 240).
8. Interaksi
Obat
Pemberian asetosal
bersama ibuprofen mengantagonis efek aspirin terhadap trombosit sehingga
meniadakan sifat kardioprotektif aspirin (Syarif. 2012; 240)
9. Penggunaan
Pada Kondisi Khusus, Peringatan Dan Perhatian
Harus digunakan
dengan hati-hati pada pasien usia
lanjut, selama kehamilan dan menyusui; pada gangguan alergi dan gangguan
koagulasi (Ellin, dkk. 2008; 533)
10. Cara
Penyimpanan dan Contoh Sediaan Yang Beredar Di Pasaran
Ditempat yang
sejuk dan kering,
terlindung dari cahaya. Contoh sediaan yang beredar
yaitu ibuprofen (generic), Advil, Motrin, Nuprin, dan Brufen.
BAB
III
ANALISIS
PREFORMULASI, FORMULASI, DAN USULAN FORMULASI
1. Pendekatan
formulasi
Asetosal tergolong dalam kelompok antipiretik dan analgesik.
Aktivitas (penghilang
migren) asetosal bekerja
di hipotalamus dengan
meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah piretik (antipiretik). Ibuprofen juga bekerja dengan
cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang
berimbas pada terhambatnya pula sintesis Prostaglandin (analgesik) (Amir. 2007; 231).
2. Pengembangan
formula
a. Rancangan
Formula
Rancangan Formula
Nama
Produk : Dhitamol®
Tanggal
Formulasi : 25 November 2013
Tanggal
Produksi : 03 Januari 2014
No.
Registrasi : DKL 13022001
10 A1
No.
Batch : M 0413001
Jumlah
Produk : 10 tablet @ 1000 mg
Komposisi : Tiap 1000 mg mengandung
- Asetosal
500 mg
- Avicel 20%
- Amylum
Solani 10%
- Talk 5%
- Laktosa
ad 1000
mg
b. Master
Formula
|
Diproduksi
oleh
|
Tanggal
formulasi
|
Tanggal
produksi
|
Dibuat oleh
|
Disetujui oleh
|
|
PT. Al-Fatih Pharma
|
25 November 2013
|
03 Januari 2014
|
Muhammad Nur Nisba
|
A Ulfiani utari
|
|
Kode bahan
|
Nama bahan
|
Kegunaan
|
Perdosis
|
perbatch
|
|
01_ASL
02_AVC
03_ASL
04_TLK
05_LTS
|
Asetosal
Avicel
Amylum solani
Talk
Laktosa
|
Zat aktif
Zat pengikat
Zat penghancur
Zat pelincir
Zat pengisi
|
500 mg
200 mg
100 mg
50 mg
add 150 mg
|
5000 mg
2000 mg
1000 mg
500 mg
add 1500 mg
|
c. Uraian
Bahan eksipien
1. Amylum solani (Dirjen
POM. 1995; 63)
Nama
resmi : AMYLUM SOLANY\I
Nama
lain : Pati Kentang
Rumus
molekul : C6H10OH
Rumus
struktur :
Pemeriaan : Tidak berbau, tidak berasa, serbuk putih halus
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kestabilan : Pati
jagung sterilizable dapat disterilkan dengan
autoklaf pada 1210 C selama 20 menit, dengan
etilen oksida, atau dengan iradiasi. (Exipient,
1995 : 695)
Range : 3 – 25%
Inkompabilitas : Dengan zat
pengoksida kuat dan iodin
Kegunaan : Zat Penghancur
2. Laktosa
Nama
Resmi : LACTOSUM
Nama
Lain : Laktosa, saccharum lactis
Rumus
molekul : C12H22O11
Berat
molekul : 342,30
Rumus bangun :
Pemerian : Serbuk putih atau agak putih, tidak berbau, rasa sedikit
manis
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan lebih mudah dalam air mendidih,
sangat sukar larut dalam metanol, tidak mudah larut dalam kloroform dan dalam
eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Range : 10 – 70 %
Kegunaan
: Sebagai zat pengisi
Stabilitas
Obat : Di bawah kelembapan (relatif
± 50%)
Income : Tidak cocok dengan asam amino, aminofilin, dan amfetamin
3. Talk
Nama Resmi : TALCUM
Nama
Lain : Spektan powder, magsil star, steatite
Rumus
molekul : Mg3Si4O10(OH)2
Berat
molekul : 758,44
Rumus
bangun :
Pemerian : Serbuk sangat halus, putih, atau putih kelabu
Kelarutan : Zat larut dalam asam, tidak lebih dari 2,0%
Penyimpanan
: Simpan
dalam wadah tertutup baik, sejuk, dan tempat kering
Range : 1-10 %
Kegunaan
: Sebagai pelincir
Stabilitas
Obat : Talk adalah material stabil dan memungkinkan disterilisasi dengan
melakukan pemanasan pada suhu 160oC pada waktu kurang dari 1 jam.
Itu juga disterilisasi dan menekspos dengan menggunakan Etilen Oksida atau
radiasi sinar gamma
Income : Tidak cocok dengan campuran quaternary ammonium
4.
MICROCRYSTALLINE CELLULOSE
Nama
Resmi : MICROCRYSTALLINE CELLULOSE
Nama
Lain : Mikrokristal selulosa, Avicel
Rumus
molekul : (C6H10O5)n
Rumus bangun :
Pemerian : Pembersih, tidak berbau, tidak berasa, serbuk kristal yang terdiri
dari partikel-partikel penyerap
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, alkohol, aseton, toluen, cairan asam
Range : 20-90%
Kegunaan
: Sebagai zat pengikat
Stabilitas
Obat : Stabil, higroskopik, tersimpan dalam wadah tertutup baik
Incame : Tidak cocok dengan agen pengoksidasi kuat
d. Alasan
pemilihan bentuk/ tipe sediaan
Bentuk sediaan yang akan diproduksi
adalah tablet. Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk
sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan Farmasetika
yang sesuai. Adapun
kelebihan dan keuntungan bentuk sediaan tablet antara lain tablet merupakan
sediaan yang paling ringan dan paling kompak, bentuk sediaan yang paling mudah
dan murah untuk dikemas serta dikirim dan diproduksi secara besar-besaran.
Selain itu, tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh menawarkan kemampuan
terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta
variabilitas kandungan yang paling rendah, serta merupakan bentuk sediaan oral
yang sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling
baik (Lahman. 2008 : 645).
e. Alasan
pemilihan bentuk zat aktif
asetosal tergolong
dalam kelompok antipiretik dan analgesik.
Aktivitas (penghilang
migren) asetosal bekerja
di hipotalamus dengan
meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah piretik (antipiretik). Ibuprofen juga bekerja dengan
cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang
berimbas pada terhambatnya pula sintesis Prostaglandin (analgesik) (Amir. 2007; 231)
f. Alasan
penambahan eksipien
1. Amilum
solani
Pati
merupakan penghancur tablet yang umum digunakan pada konsentrasi 3-15 (Raymond,
2006: 725).
Pati
merupakan bahan penghancur tertua dari pati solani dengan konsentrasi 5-10%
cukup untuk membuat tablet dengan waktu hancur yang baik (Voight, 1995:
208-209).
Penggunaan
amilum 5% cocok untuk membantu penghancuran, tetapi sampai 15% dapat dipakai
untuk dapat daya hancur yang lebih cepat (Ansel, 2005: 263).
2. Laktosa
Zat pengisi yang
umum digunakan adalah laktosa. Sifat tablet yang lebih baik dihasilkan oleh
laktosa yang dikering semburkan (Voight,
1995: 202).
Laktosa juga
merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak bereaksi dengan
hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat atau anhidrat
(Lachman, 2008: 699).
Laktosa
secara luas digunakan sebagai pengisi dan diluents pada tablet dan kapsul,
serta lebih terbatas pada lyophilized produk dan formula bayi (Raymond, 2006:
364).
3. Talk
Sebagai bahan
pelincir yang sangat menonjol adalah talk. Dia memiliki tiga keunggulan antara
lain berfungsi sebagai bahan pengatur aliran, bahan pelicin, dan bahan pemisah
cetakan (Voight, 1995: 205).
Talk telah
digunakan secara meluas dalam formulasi dosis oral sebagai pelincir dan pengisi
(Raymond, 1999: 555).
Bahan-bahan
talk digunakan sebagai pelincir atau pengatur aluran dengan range 5% (Lachman,
2008: 703).
4. Avicel
Selulosa
mikrokristal banyak digunakan terutama sebagai pengikat/pengisi dalam formulasi
tablet (Raymond, 2005: 725).
Avicel banyak
digunakan dalam sediaan farmasi bentuk padat, sangat cocok untuk tablet karena
mempunyai fungsi pengikat, penghancur, pengisi, dan dapat memperbaiki sifat
aliran (Asrul, 2010: 17).
Selulosa
mikrokristal sering disebut Avicel, suatu zat yang dapat dicetak langsung
(Lachman, 2008: 701).
14 Perhitungan
dan penimbangan
1. Per
Tablet
a. Asetosal = 500 mg
b. avicel =
x 1000 mg = 200 mg
c. Amylum
solani =
x 1000 mg = 100 mg
d. Talk
=
x 1000 mg = 50 mg
e. Laktosa = 1000-(500+200+100+50) = 150 mg
2. Per
Batch
a. Ibuprofen
= 500 mg x 10 = 5000 mg
b. Avicel = 200
mg x 10 = 2000 mg
c. Amylum
solani = 100
mg x 10 = 1000 mg
d. Talk
=
50
mg x 10 =
500 mg
e. Laktosa
= 150 mg x 10 = 1500 mg
15 Prosedur
pembuatan sediaan
a. Disiapkan alat dan bahan.
b. Ditimbang Asetosal 500 mg, avicel 200 mg, pati 100
mg, talk 50 mg, dan laktosa 150 mg pada neraca analitik.
c. Dimasukkan Asetosal 500 mg ke dalam lumpang.
d. Dimasukkan avicel 200 mg sedikit demi sedikit ke
dalam lumpang lalu dihomogenkan.
e. Dimasukkan laktosa 150 mg sedikit demi sedikit ke
dalam lumpang lalu dihomogenkan.
f. Dimasukkan pati 100 mg sedikit demi sedikit ke dalam
lumpang lalu dihomogenkan.
g. Dimasukkan talk 50 mg sedikit demi sedikit ke dalam
lumpang lalu dihomogenkan.
h. Dimasukkan semua bahan campuran ke dalam alat
pencetak tablet.
i.
Dimasukkan
tablet ke dalam wadah.
16 Evaluasi
tablet
a.
Ukuran
tablet
Pengukuran
dilakukan terhadap 5 buah tablet memakai alat micrometer atau jangka sorong
yang bersifat manual.
b.
Keseragaman
bobot tablet
Sejumlah 20 tablet yang telah dibersihkan dari debu
ditimbang satu per satu, dihitung bobot rata-ratanya maka menurut farmakope
Indonesia edisi III tidak boleh lebih dari dua tablet yang masing-masing
bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang
ditetapkan kolom A dan tidak satu
tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga
yang ditetapkan kolom B.
jika tidak mecukupi 20 tablet dapat digunakan 10
tablet tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot
rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak satu tabletpun yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom B.
c.
Kekerasan
tablet
Pengukuran
dilakukan terhadap 5 tablet memakai alat-alat seperti stoches. Cara pengukuran yaitu: Letakkan sebuah
tablet diantara “anvil” dengan plat datar yang diam tablet tersebut dijepit
dengan memutar alat penekan. Angka yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada
skala dinyatakan sebagai titik nol.Alat penekan diputar kembali sampai retak
atau pecah. Angka pada skala dicatat pada saat ini maka kekerasan tablet adalah
selisih antara angka pada saat pecahnya tablet dengan angka yang dianggap
sebagai titik nol.
d.
Keausan
tablet
Pengukuran dilakukan terhadap 20 tablet yang
sebelumnya telah dibersihkan dari debu, pengukuran ini memakai alat Roche
Friabilator yang mampu berputar 25 kali permenit. Ditimbang 20 tablet bebas
debu (W1 gram) kemudian dimasukkan kedalam Roche friabilator. Tekan tombol
kearah ON dan biarkan alat ini berputar selama 4 menit. Bersihkan kembali kedua
puluh tablet tersebut dan ditimbang (W2 gram).
%Keausan
=
x 100%
e.
Uji
disolusi
Alat yang digunakan ada 2 macam ; Alat tipe I yaitu keranjang dan alat tipe II yaitu
dayung. Media disolusi dan kecepatan perputaran alat diatur dalam monografi.
17 .Daftar pustaka
Ansel, Howard. 1978. Penghantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV.
Jakarta: UI Press.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI.
Kibbe, Arthur, H.1995. Handbook of Pharmaceutical Excipient.London:
APHA.
Lachman, Leon dkk.2008.Teori Dan Praktek Farmasi Industri Edisi III
Jilid 2.Jakarta: UI Press.
Martindale. 2009. The Complete Drug Refrence Thirty-Sixth Edition. London:
Pahrmaceutical Press.
Sukandar, Elin dkk.2011.isofarmakoterapi 2. Jakarta:
IAI
Tanu, Ian.2007. Farmakologi Dan Terapi Edisi V. Jakarta: FK-UI
Tjay, Tan Hoan.2007. Obat-Obat Penting.Jakarta: PT.Gramedia.
Voight, Rodulf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta:
UGM.
18.
wadah



0 komentar:
Posting Komentar