Sasuke's Mangekyō Sharingan

Rabu, 16 Juli 2014

formulasi dhitamol


LABORATORIUM FARMASETIK
JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

LAPORAN TEKNOLOGI SEDIAAN 1
PERCOBAAN
TABLET KONVENSIONAL
(ANALGETIK)

FORMULA
Dhitamol®








OLEH:

NAMA                       : MUHAMMAD NUR NISBA
NIM                            : 70100112022
KELAS                      : FARMASI A
KELOMPOK            : VII (TUJUH)
ASISTEN                   : ANDI ULFIANA UTARI


SAMATA-GOWA
2013
BAB I
TINJAUAN UMUM ZAT AKTIF DAN SEDIAAN
1.   Deskripsi Umum Senyawa Aktif
ASETOSAL
Nama resmi           :    ASAM ASETIL SALISILAT
Nama lain              :    Aspirin, asetosal, as. Asetil salisilat.
Rumus molekul     :    C9H8O4
Berat molekul        :    180,16
Pemerian               :    Putih atau hampir putih, serbuk kristal atau kristal berwarna
Kelarutan              :    Praktis tidak larut dalam air, larut dalam aseton, sangat mudah larut dalam etanol, metil alkohol. Sedikit larut dalam etil asetat
Penyimpanan         :    Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan              :    Analgesik (sebagai zat aktif)
Stabilitas               :    Larutan asetosal lisin dalam air untuk wadah injeksi di suhu kamar yang stabil ketika terlindung dari cahaya
Dosis                     :    Dewasa : 3x2 tab 200 mg, atau 3x1 tab 400 mg
                                   Anak : 20 mg/kgBB/hari dibagi dalam beberapa pemberian. Untuk anak di bawah 30 kg maksimum 500 mg/hari
Kontraindikasi      :    Hipersensititas, wanita hamil, dan menyusui, yang mendidap tukak lambung.
Farmakologi          :    Aktivitas anti-inflamasi, antipiretik, dan analgetik
Farmakokinetik     :    asetosal diabsorpsi dari saluran gastrointestinal dan plasma, konsentrasi dicapai1-2 jam. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam.



2.   Alasan pemilihan dan definisi bentuk sediaan
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan Farmasetika yang sesuai (Ansel, Howard. 1985;244).
Beberapa keunggulan utama tablet adalah sebagai berikut:
a.    Semua bentuk sediaan oral untuk ketetapan ukuran serta variebilitas kandungan yang paling rendah
b.   Ongkos pembuatannya paling rendah
c.    Bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak
d.   Bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk di produksi secara besar-besaran.
e.    Paling mudah di telan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan.
(Lachman, 2008: 645).
Migren adalah sakit kepala kambuhan dengan intensitas sedang sampai berat yang terkait dengan sindrom anatomis, neorologis, dan saluran cerna. Pada migren dengan aura, gejala neorologis fokal yang rumit akan mendahului atau menyertai serngan sakit kepala (Elin. 2008 : 568).
Analgesik dan AINS merupakan obat yang efektif mengobati serangan migren ringan sampai sedang. Aspirin, ibuprofen, napraksen sodium, asam tolferamik, dan kombnasi, asetaminofen plus aspirin dan kofein menunjukkan bukati mamfaat yang paling konstan (Elin. 2008).
Asam asetil salisilat merupakan derifat asam prepionat yang diperkenalkan pertama kali di banyak negara. Obat ini bersifat analgesic dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti ibuprofen. Efek anti-inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi asetosal cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam, 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma. Ekskresi berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dari dosis yang diabsorpsikan diekskresikan melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi (ISO Farmakoterapi, 2009: 533).
Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin, indometasin, atau naproksen. Efek samping lainnya yang jarang ialah eritema kulit, sakit kepala trombosipenia, ambliopia toksik yang reversibel. Dengan alasan bahwa ibuprofen relatif lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius, maka ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas di beberapa negara termasuk Indonesia (Syarif, dkk. 2012: 240).
3.   Dasar Pertimbangan dan Landasan Hukum Penggolongan Obat Penandaan pada wadah, leaflet atau brosur.
Obat sakit kepala yang termasuk ke dalam golongan obat bebas terbatas adalah obat pereda nyeri yang mengandung 'obat anti inflamasi non steroid' (AINS) yaitu aspirin (asetosal), ibuprofen atau propifenazon.  Tanda peringatan untuk obat bebas terbatas (P.No. 1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.)
4.   Nomor Registrasi dan Nomor Batch
No. Reg :
DKL 13022001 10 A1
No. Batch :
M 0413001



BAB II
URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI
1.    Nama Obat dan Sinonim
Asetosal merupakan derifat asam prepionat yang diperkenalkan pertama kali di banyak negara. Obat ini bersifat analgesic dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti Ibuprofen (Amir. 2007: 240)
2.    Bentuk Senyawa Zat Aktif
Asetosal turunan asam salisilat adalah NSAID. Sifat antiinflamasi mungkin lebih lemah dibandingkan dengan beberapa NSAID lainnya(Martindale. 2009; 64)
Asetosal mengandung tidak kurang 97 % dan tidak lebih dari 103 % C9H8O4 dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian serbuk hablur, putih hingga hampir putih, berbau khas lemah (Dirjen POM. 1995: 449)
3.    Efek Farmakologi dan Mekanisme Kerja Dalam Tubuh
Asetosal tergolong dalam kelompok antipiretik dan analgesik. Aktivitas (penghilang migren) asetosal bekerja di hipotalamus dengan meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah piretik (antipiretik). Ibuprofen juga bekerja dengan cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang berimbas pada terhambatnya pula sintesis Prostaglandin (analgesik) (Amir. 2007; 231).
4.    Nasib Obat Dalam Tubuh
Absorbsi asetosal cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. 90% terikat dalam protein plasma. Eksresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dari dosis yang diabsorbsi akan dieksresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya (Amir. 2007; 240).
5.    Indikasi dan Kontraindikasi
Indikasi                   : Untuk sakit kepala, Karena efek analgesic dan antiinflamasinya maka dapat digunakan untuk meringankan gejala-gejala penyakit rematik tulang, sendi dan non sendi. Nyeri & radang pada penyakit artritis (rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteoarthritis) & gangguan non sendi (otot kerangka), nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea, paska bedah, nyeri & demam pada anak-anak
Kontradikasi         :     Pasien dengan penyakit hipertensi, wanita hamil dan menyusui. Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat anti inflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, erta anak dibawah usia 14 tahun (Elin. 2008;  533).
6.    Dosis, Perhitungan Dosis, dan Aturan Pakai
Dosis: Dosis: migren, nyeri (haid), demam, dan rema, permulaan 400 mg p.c./d.c., lalu 3-4 dd 200-400 mg, pada anak-anak: 6-12 bulan 3 dd 50 mg, 1-3 tahun 3-4 dd 50 mg, 4-8 tahun 3-4 dd 100 mg, 9-12 tahun 3-4 dd 200 mg (Tjay dan Rahardja, 2010: 333).
Aturan pakai: khusus dewasa 3 x 1 (tidak melebihi 2400 mg)
7.    Efek Samping dan Toksisitas Obat
Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan ibuprofen, indometasin, atau naproksen. Efek samping lainnya yang jarang ialah eritema kulit, sakit kepala trombosipenia, ambliopia toksik yang reversibel. Dengan alasan bahwa ibuprofen relatif lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius, maka ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas di beberapa negara termasuk Indonesia (Syarif, dkk. 2012: 240).
8.    Interaksi Obat
Pemberian asetosal bersama ibuprofen mengantagonis efek aspirin terhadap trombosit sehingga meniadakan sifat kardioprotektif aspirin (Syarif. 2012; 240)
9.    Penggunaan Pada Kondisi Khusus, Peringatan Dan Perhatian
Harus digunakan dengan hati-hati pada pasien  usia lanjut, selama kehamilan dan menyusui; pada gangguan alergi dan gangguan koagulasi (Ellin, dkk. 2008; 533)

10.   Cara Penyimpanan dan Contoh Sediaan Yang Beredar Di Pasaran
Ditempat yang sejuk dan kering, terlindung dari cahaya. Contoh sediaan yang beredar yaitu ibuprofen (generic), Advil, Motrin, Nuprin, dan Brufen.




























BAB III
ANALISIS PREFORMULASI, FORMULASI, DAN USULAN FORMULASI
1.    Pendekatan formulasi
Asetosal tergolong dalam kelompok antipiretik dan analgesik. Aktivitas (penghilang migren) asetosal bekerja di hipotalamus dengan meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah piretik (antipiretik). Ibuprofen juga bekerja dengan cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang berimbas pada terhambatnya pula sintesis Prostaglandin (analgesik) (Amir. 2007; 231).
2.    Pengembangan formula
a.    Rancangan Formula
Rancangan Formula
Nama Produk                : Dhitamol®
Tanggal Formulasi         : 25 November 2013
Tanggal Produksi           : 03 Januari 2014
No. Registrasi                : DKL 13022001 10 A1
No. Batch                      : M 0413001
Jumlah Produk               : 10 tablet @ 1000 mg
Komposisi                      : Tiap 1000 mg mengandung
-       Asetosal                500 mg
-       Avicel                    20%
-       Amylum Solani     10%
-       Talk                       5%
-       Laktosa     ad        1000 mg






b.      Master Formula
Diproduksi oleh
Tanggal formulasi
Tanggal produksi
Dibuat oleh
Disetujui oleh
PT. Al-Fatih Pharma
25 November 2013
03 Januari 2014
Muhammad Nur Nisba
A Ulfiani utari
Kode bahan
Nama bahan
Kegunaan
Perdosis
perbatch
01_ASL
02_AVC
03_ASL
04_TLK
05_LTS
Asetosal
Avicel
Amylum solani
Talk
Laktosa
Zat aktif
Zat pengikat
Zat penghancur
Zat pelincir
Zat pengisi
500 mg
200 mg
100 mg
50 mg
add 150 mg
5000 mg
2000 mg
1000 mg
500 mg
add 1500 mg

c.       Uraian Bahan eksipien
1. Amylum solani        (Dirjen POM. 1995; 63)
Nama resmi             : AMYLUM SOLANY\I
Nama lain               : Pati Kentang
Rumus molekul       : C6H10OH
Rumus struktur       :



Pemeriaan               : Tidak berbau, tidak berasa, serbuk putih halus
Kelarutan                : Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol
Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup rapat
Kestabilan               : Pati jagung sterilizable dapat disterilkan dengan
                                   autoklaf pada 1210 C selama 20 menit, dengan
                                   etilen oksida, atau dengan iradiasi. (Exipient,
                                   1995 : 695)
Range                     : 3 – 25%
Inkompabilitas        : Dengan zat pengoksida kuat dan iodin
Kegunaan               : Zat Penghancur
2.      Laktosa
Nama Resmi          : LACTOSUM
Nama Lain             : Laktosa, saccharum lactis
Rumus molekul      : C12H22O11
Berat molekul        : 342,30
Rumus bangun       :



Pemerian                :            Serbuk putih atau agak putih, tidak berbau, rasa sedikit manis
Kelarutan               :            Mudah larut dalam air dan lebih mudah dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam metanol, tidak mudah larut dalam kloroform dan dalam eter
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Range                     :            10 – 70 %
Kegunaan               :            Sebagai zat pengisi
Stabilitas Obat       : Di bawah kelembapan (relatif ± 50%)
Income                   :            Tidak cocok dengan asam amino, aminofilin, dan amfetamin
3.      Talk
Nama Resmi          : TALCUM
Nama Lain             :            Spektan powder, magsil star, steatite
Rumus molekul      : Mg3Si4O10(OH)2
Berat molekul        : 758,44
http://images-a.chemnet.com/suppliers/chembase/190/190344_1.gifRumus bangun       :



Pemerian                :            Serbuk sangat halus, putih, atau putih kelabu
Kelarutan               :            Zat larut dalam asam, tidak lebih dari 2,0%
Penyimpanan         : Simpan dalam wadah tertutup baik, sejuk, dan tempat kering
Range                     : 1-10 %
Kegunaan               :            Sebagai pelincir
Stabilitas Obat       : Talk adalah material stabil dan memungkinkan disterilisasi dengan melakukan pemanasan pada suhu 160oC pada waktu kurang dari 1 jam. Itu juga disterilisasi dan menekspos dengan menggunakan Etilen Oksida atau radiasi sinar gamma
Income                   :            Tidak cocok dengan campuran quaternary ammonium
4.      MICROCRYSTALLINE CELLULOSE
Nama Resmi           : MICROCRYSTALLINE CELLULOSE
Nama Lain              : Mikrokristal selulosa, Avicel
Rumus molekul       : (C6H10O5)n­­
Rumus bangun        :



Pemerian                  : Pembersih, tidak berbau, tidak berasa, serbuk kristal yang terdiri dari partikel-partikel penyerap
Kelarutan                : Praktis tidak larut dalam air, alkohol, aseton, toluen, cairan asam
Range                      : 20-90%
Kegunaan                : Sebagai zat pengikat
Stabilitas Obat        : Stabil, higroskopik, tersimpan dalam wadah tertutup baik  
Incame                    : Tidak cocok dengan agen pengoksidasi kuat

d.      Alasan pemilihan bentuk/ tipe sediaan
       Bentuk sediaan yang akan diproduksi adalah tablet. Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan Farmasetika yang sesuai. Adapun kelebihan dan keuntungan bentuk sediaan tablet antara lain tablet merupakan sediaan yang paling ringan dan paling kompak, bentuk sediaan yang paling mudah dan murah untuk dikemas serta dikirim dan diproduksi secara besar-besaran. Selain itu, tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah, serta merupakan bentuk sediaan oral yang sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik (Lahman. 2008 : 645).

e.       Alasan pemilihan bentuk zat aktif
            asetosal tergolong dalam kelompok antipiretik dan analgesik. Aktivitas (penghilang migren) asetosal bekerja di hipotalamus dengan meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah piretik (antipiretik). Ibuprofen juga bekerja dengan cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang berimbas pada terhambatnya pula sintesis Prostaglandin (analgesik) (Amir. 2007; 231)
f.       Alasan penambahan eksipien
1.       Amilum solani
Pati merupakan penghancur tablet yang umum digunakan pada konsentrasi 3-15 (Raymond, 2006: 725).
Pati merupakan bahan penghancur tertua dari pati solani dengan konsentrasi 5-10% cukup untuk membuat tablet dengan waktu hancur yang baik (Voight, 1995: 208-209).
Penggunaan amilum 5% cocok untuk membantu penghancuran, tetapi sampai 15% dapat dipakai untuk dapat daya hancur yang lebih cepat (Ansel, 2005: 263).
2.      Laktosa
Zat pengisi yang umum digunakan adalah laktosa. Sifat tablet yang lebih baik dihasilkan oleh laktosa yang dikering semburkan (Voight, 1995: 202).
Laktosa juga merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak bereaksi dengan hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat atau anhidrat (Lachman, 2008: 699).
Laktosa secara luas digunakan sebagai pengisi dan diluents pada tablet dan kapsul, serta lebih terbatas pada lyophilized produk dan formula bayi (Raymond, 2006: 364).
3.      Talk
Sebagai bahan pelincir yang sangat menonjol adalah talk. Dia memiliki tiga keunggulan antara lain berfungsi sebagai bahan pengatur aliran, bahan pelicin, dan bahan pemisah cetakan (Voight, 1995: 205).
Talk telah digunakan secara meluas dalam formulasi dosis oral sebagai pelincir dan pengisi (Raymond, 1999: 555).
Bahan-bahan talk digunakan sebagai pelincir atau pengatur aluran dengan range 5% (Lachman, 2008: 703).
4.      Avicel
Selulosa mikrokristal banyak digunakan terutama sebagai pengikat/pengisi dalam formulasi tablet (Raymond, 2005: 725).
Avicel banyak digunakan dalam sediaan farmasi bentuk padat, sangat cocok untuk tablet karena mempunyai fungsi pengikat, penghancur, pengisi, dan dapat memperbaiki sifat aliran (Asrul, 2010: 17).
Selulosa mikrokristal sering disebut Avicel, suatu zat yang dapat dicetak langsung (Lachman, 2008: 701).


14    Perhitungan dan penimbangan
1.  Per Tablet
a.       Asetosal                      = 500 mg
b.      avicel                           =  x 1000 mg                      = 200 mg
c.       Amylum solani            =  x 1000 mg                      = 100 mg
d.      Talk                             =  x 1000 mg                      = 50 mg
e.       Laktosa                       = 1000-(500+200+100+50)    = 150 mg
2.      Per Batch
a.       Ibuprofen                    = 500 mg x 10             = 5000 mg
b.      Avicel                          =  200 mg x 10            = 2000 mg
c.       Amylum solani            = 100 mg x 10             = 1000 mg
d.      Talk                             = 50 mg x 10               = 500   mg
e.       Laktosa                       = 150 mg x 10             = 1500 mg

15  Prosedur pembuatan sediaan
a.       Disiapkan alat dan bahan.
b.      Ditimbang Asetosal 500 mg, avicel 200 mg, pati 100 mg, talk 50 mg, dan laktosa 150 mg pada neraca analitik.
c.       Dimasukkan Asetosal 500 mg ke dalam lumpang.
d.      Dimasukkan avicel 200 mg sedikit demi sedikit ke dalam lumpang lalu dihomogenkan.
e.       Dimasukkan laktosa 150 mg sedikit demi sedikit ke dalam lumpang lalu dihomogenkan.
f.       Dimasukkan pati 100 mg sedikit demi sedikit ke dalam lumpang lalu dihomogenkan.
g.      Dimasukkan talk 50 mg sedikit demi sedikit ke dalam lumpang lalu dihomogenkan.
h.      Dimasukkan semua bahan campuran ke dalam alat pencetak tablet.
i.        Dimasukkan tablet ke dalam wadah.

16      Evaluasi tablet
a.       Ukuran tablet
Pengukuran dilakukan terhadap 5 buah tablet memakai alat micrometer atau jangka sorong yang bersifat manual.
b.      Keseragaman bobot tablet
Sejumlah 20 tablet yang telah dibersihkan dari debu ditimbang satu per satu, dihitung bobot rata-ratanya maka menurut farmakope Indonesia edisi III tidak boleh lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B.
jika tidak mecukupi 20 tablet dapat digunakan 10 tablet tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom B.
c.       Kekerasan tablet
Pengukuran dilakukan terhadap 5 tablet memakai alat-alat seperti stoches. Cara pengukuran yaitu: Letakkan sebuah tablet diantara “anvil” dengan plat datar yang diam tablet tersebut dijepit dengan memutar alat penekan. Angka yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada skala dinyatakan sebagai titik nol.Alat penekan diputar kembali sampai retak atau pecah. Angka pada skala dicatat pada saat ini maka kekerasan tablet adalah selisih antara angka pada saat pecahnya tablet dengan angka yang dianggap sebagai titik nol.
d.      Keausan tablet
Pengukuran dilakukan terhadap 20 tablet yang sebelumnya telah dibersihkan dari debu, pengukuran ini memakai alat Roche Friabilator yang mampu berputar 25 kali permenit. Ditimbang 20 tablet bebas debu (W1 gram) kemudian dimasukkan kedalam Roche friabilator. Tekan tombol kearah ON dan biarkan alat ini berputar selama 4 menit. Bersihkan kembali kedua puluh tablet tersebut dan ditimbang (W2 gram).
%Keausan                   = x 100%


e.       Uji disolusi
Alat yang digunakan ada 2 macam ; Alat tipe I  yaitu keranjang dan alat tipe II yaitu dayung. Media disolusi dan kecepatan perputaran alat diatur dalam monografi.

















17  .Daftar pustaka
Ansel, Howard. 1978. Penghantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Jakarta: UI Press.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI.
Kibbe, Arthur, H.1995. Handbook of Pharmaceutical Excipient.London: APHA.
Lachman, Leon dkk.2008.Teori Dan Praktek Farmasi Industri Edisi III Jilid 2.Jakarta: UI Press.
Martindale. 2009. The Complete Drug Refrence Thirty-Sixth Edition. London: Pahrmaceutical Press.
Sukandar, Elin dkk.2011.isofarmakoterapi 2. Jakarta: IAI
Tanu, Ian.2007.  Farmakologi Dan Terapi Edisi V.  Jakarta: FK-UI
Tjay, Tan Hoan.2007. Obat-Obat Penting.Jakarta: PT.Gramedia.
Voight, Rodulf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: UGM.












          18. wadah




        




















































0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.