Sasuke's Mangekyō Sharingan

Rabu, 16 Juli 2014

suspensi



SUSPENSI

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, tetapi terdispersi dalam cairan pembawa.
Suspensimerupakan sistem heterogen yang terdiri dari 2 fase yaitu fase kontinyu (fase luar) umumnya berupa cairan atau setengah padat dan fase terdispersi (fase dalam) merupakan bahan yang tidak larut tetapi terdispersi ke seluruh fase luar. Partikel terdispersi ini mempunyai ukuran partikel dengan diameter > 0,1  µ ,  dapat berupa partikel tunggal atau dapat juga berupa jalinan jala partikel yang disebabkan oleh interaksi partikel. Jika viskositasnya rendah, maka partikel akan menunjukkan adanya gerak Brown (gerakan acak) yang terjadi karena benturan molekul-molekul partikel terdispersi.

A.           Fenomena Antar Muka Partikel Tersuspensi
Bila dua fase berada bersama-sama, maka batas antara keduanya disebut sebagai antar muka.Dalam suspensi, terjadi antar muka padat dan cair.Fenomena antar muka dalam farmasi penting dipelajari, terutama terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suspensi, emulsi dan penetrasi molekul melalui membran fisiologis.
1.             Tegangan Permukaan / Antarmuka.
Istilah permukaan biasa dipakai bila membicarakan suatu antar muka gas-padat atau gas-cair.Tetapi seharusnya dipahami bahwa setiap permukaan adalah suatu antar muka karena selalu melibatkan 2 fase yang berbeda.
Tegangan permukaan adalah gaya per satuan panjang  (dyne/cm) yang harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam akibat gaya kohesi.  Tegangan antarmuka adalah gaya per satuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase.
Persyaratan-persyaratan termodinamika diperlukan agar diperoleh suatu kestabilan dari partikel– partikel yang tersuspensi. Kerja (W) diperlukan untuk mengubahsuatu padatan menjadi partikel – partikel kecil dan mendispersikannya dalam suatu pembawa. Luas permukaan yang membesar sebagai akibat mengecilnya ukuran partikel berpengaruh terhadap energi bebas permukaan yang mengarah kepada ketidak stabilan sistem suspensi secara termodinamika. Kenaikan kerja (W) atau energi bebas permukaan (∆F )merupakan akibat dari meningkatnya luas permukaan (∆A) karena pengecilan ukuran partikel.
∆F = γsl . ∆A       ……………………. ( 3.1 )
Dimana γsl adalah tegangan antarmuka  antara medium cair dan partikel padat.
Suatu sistem akan cenderung berusaha mencapai kondisi stabil dengan menurunkan energi bebas permukaannya hingga dicapai kesetimbangan  ∆F= 0. Keadaan stabil ini dapat dicapai dengan penurunan tegangan permukaan atau pengurangan luas permukaa.
Pada suatu sistem suspensi, kecenderungan mencapai kondisi stabil (secara termodinamika) juga terjadi. Agar energi bebas permukaan mengecil, maka tegangan permukaan diturunkan meskipun energi bebas permukaan tidak dapat mencapai nol. Disamping itu partikel memperkecil luas permukaannya dengan bergabung satu sama lain membentuk agglomerate (gumpalan),baik bentuk flokulat (gumpalan yang lunak dan ringan) maupun aggregat (gumpalan yang lekat). Gabungan partikel ini justru merupakan tanda menurunnya stabilitas suspensi karena mempercepat terbentuknya endapan.Pada sistem suspensi, terbentuknya endapan tidak dapat dihindari, hanya saja harus di rancang agar laju sedimentasi menjadi lebih lambat dan endapan yang terbentuk dapat diredispersi.

2.             Muatan  Permukaan (Surface Charge)
Gaya pada permukaan partikel mempengaruhi derajat flokulasi dan aggregasi dalam suatu suspensi.Gaya tarik menarik yang terjadi pada pengecilan luas permukaan tersebut adalah jenis gaya London-van der Waals;sedangkan gaya tolak-menolak timbul dari interaksi lapisan listrik rangkap di sekitar tiap partikel. Sifat listrik antarmuka timbul karena muatan partikel yang membentuk lapisan listrik rangkap serta potensial zeta yang dihasilkan.
Partikel-partikel yang terdispersi dalam media cair bisa menjadi bermuatan melalui salah satu dari  cara-cara berikut (Martin,1990:969; Kulshreshtha,2010:42) :
1.             Adsorpsi selektif dari spesies ionik tertentu yang ada dalam larutan.
Ion yang diadsopsi dapat berasal dari ion yang ditambahkan dalam larutan atau ion hidronium atau ion hidroksil dari air suling (fase luar). Kebanyakan partikel terdispersi menjadi bermuatan negatif karena mengadsorpsi ion hidroksil dari air suling.
2.             Muatan partikel muncul dari ionisasi gugus-gugus (COOH) yang terletak di permukaan partikel.
3.             Muatan permukaan partikel timbul karena perbedaan konstanta dielektrik antara partikel dan medium pendispersinya (jarang terjadi).
Pembentukan lapisan listrik rangkap dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.             Saat permukaan partikel padat berhubungan dengan suatu larutan polar yang mengandung ion-ion (misalnya larutan elektrolit), permukaannya menjadi bermuatan dengan mengadsorpsi suatu muatan. Misalnya partikel bermuatan negatif karena partikel tersebut mengadsorpsi anion dari larutan. Ion yang diadsopsi pada permukaan disebut sebagai ion penentu potensial. Potensial ini disebut potensial elektrotermodinamik (Nernst;E) dan didefinisikan sebagai perbedaan potensial antara permukaan sebenarnya dan daerah netral listrik dari larutan tersebut.
2.             Setelah anion diadsopsi pada permukaan partikel, maka  pada larutan akan tertinggal sejumlah kation dan sisa anion. Kation-kation tersebut akan ditarik ke permukaan oleh gaya listrik permukaan sekaligus menolak anion lain yang mendekat sesaat setelah adsopsi permukaan sempurna (jika adsorbsi anion pada permukaan telah sempurna, maka anion yang mendekat kemudian akan ditolak oleh gaya listrik sementara kation akan ditarik mendekat). Ion dengan muatan yang berlawanan dengan ion permukaan disebut sebagai counterion atau gegenion. Kation  yang mendekati permukaan akan terikat kuat dan merupakan permukaan sejati dari partikel. Lapisan lsitrik yang terbentuk adalah lapisan yang terikat kuat (stern layer).


 









Gambar 3.1. Pembentukan lapisan listrik ganda pada antarmuka partikeltersuspensi
(Kulshreshtha, A K,2007:43)


3.                  Sisakation yang tidak terikat pada anion permukaan terdistribusi menjauh dari permukaan. Kation-kation yang tersebar pada jarak tertentu dari permukaan partikel  akan memiliki konsentrasi yang sama dengananionyang tertolak oleh muatan permukaan sehingga penetralan listrik tercapai.
4.                  Lapisan listrik yang terbentuk pada antarmuka adalah merupakan lapisan ganda dari muatan listrik yakni lapisan pertama dan lapisan kedua

Potensial Nernst dan Potensial Zeta
Perubahan-perubahan terhadap potensial timbul terhadap jarak dari permukaan untuk berbagai keadaan listrik yang timbul. Potensial pada permukaan zat padat yang disebabkan oleh ion-ion penentu potensial,adalahpotensial elektrotermodinamik (Nernst). Potensial Nernst (E) didefinisikan sebagai perbedaan dalam potensial antara permukaan yang sebenarnya dan derah listrik dari larutan tersebut.Potensial elektrokinetikatau potensial zeta (ζ)didefinisikan sebagai perbedaan potensial antara permukaan dari lapisan yang terikat erat (bidang iris) dan daerah netral listrik dari larutan itu.
Potensial zeta (ζ) berperan dalam kestabilan sistem yang mengandung partikel-partikel terdispersi karena potensial inilah yang mengatur derajat tolak menolak antara partikel terdispersi yang bermuatan sama dan saling berdekatan dan bukan potensial Nernst. Zeta potensial menunjukkan adanya penolakan antara 2 ion yang berlawanan.Bila potensial zeta dikurangi dibawah harga tertentu, gaya tolak menolak akan sangat lemah, akibatnya partikel saling bergabung dan mengendap.
B.       Formulasi sediaan Suspensi
Suatu formula suspensi yang ideal menunjukkan partikel yang tidak larut terdispersi dalam bentuk tunggal. Bagaimanapun, dalam suatu sediaan suspensi, partikel terdispersi akan mengendap dan memisah dengan pembawanya pada penyimpanan. Hal ini tidak menjadi masalah sepanjang partikel dapat terdispersi kembali menjadi partikel tunggal dalam fase luarnya dengan pengocokan yang sedang.  Kemampuan partikel zat padat untuk dapat terdispersi kembali sangat penting dalam meminimalkan variasi dosis obat pada penggunaan.  Kecepatan pengendapan juga harus diatur dengan meningkatkan kekentalan (viskositas) medium pendispersi dengan tetap mempertahankan sifat aliran, karena kekentalan medium pendispersi dapat menjadi tahanan partikel terdispersi untuk dapat mengendap,tetapi tidak sangat kental sehingga sulit dituang.Disamping itu, jenis endapan yang terbentuk juga harus dirancang untuk membentuk   jenis endapan flokulasi yang dapat terdispersi kembali.Partikel terdispersi harus berukuran kecil dan tunggal sehingga memberi penampakan sediaan yang lembut dan menyenangkan secara estetika.


1.             Pertimbangan Formulasi
Berdasarkan pertimbangan pasien, beberapa kondisi pasien tidak memungkinkan untuk menelan bentuk sediaan tablet.Keluwesan dalam pemberian dosis, kemudahan menelan cairan, dan bentuk sediaan yang menyenangkan bagi anak-anak menjadi pertimbangan pembuatan bentuk sediaan cairan.Suspensi dapat menutupi rasa yang tidak enak (pahit) dari bahan obat, misalnya Chloramphenicol palmitate suspension.
Bahan aktif farmakologis kebanyakan memiliki sifat hidrofobik, sehingga apabila diinginkan bentuk sediaan cair dengan beberapa kenyamanan, bahan tersebut tidak dapat dibuat menjadi sistem larutantetapi dibuat dalam sistem suspensi.Suspensi dapat meningkatkan stabilitas bahan obat bila berada dalam bentuk suspensi, misalnya Procaine penicillin G.
Dari sisi farmakologi, obat yang diformulasi dalam bentuk suspensi akan mempertinggi bioavailabilitasnya dibandingkan dengan bentuk sediaan lainnya (seperti kapsul, tablet dan tablet salut). Durasi dan onset obat dapat di kontrol contohnya pada sediaan Protamine Zinc-Insulin suspension.
Secara umum, suspensi dibuat dengan pertimbangan :
1.      Senyawa obat tidak larut dalam cairan pembawa.
2.      Untuk menutupi rasa pahit dan tidak menyenangkan dari obat
3.      Untuk meningkatkan stabilitas beberapa senyawa obat
4.      Untuk keperluan pengaturan pelepasan obat (controlled/sustained drug release)

Dibalik keuntungan sediaan suspensi yang dijelaskan di atas, terdapat kelemahan terutama yang berkaitan dengan stabilitas fisiknya seperti sedimentasi dan endapan yang liat, sehingga perlu formulasi lebih sulit; kesulitan dalam transportasi; dan keseragaman dosis yang tidak akurat jika pengocokan tidak sempurna.
Hal yang paling penting dalam memformulasi sediaan suspensi adalah membuat partikel terdispersi dengan baik dalam fase cair atau dalam pembawa lainnya. Oleh karena itu dalam membuat suspensi yang stabil secara fisika diperlukan suatu bahan pembawa yang  mampu menjaga partikel-partikel terdispersi mengalami deflokulasi (pembentukan endapan yang liat dan sulit diredispersi) dan menggunakan prinsip-prinsip flokulasi untuk menghasilkan flokulat yang walaupun cepat mengendap,tetapi mudah didispersikan kembali dengan sedikit pengocokan. 
Pembawa yang diinginkan dalam suatu sistemsuspensi sebaiknya  dapat berfungsi sebagai pembasah, sehingga antar muka gas-padat dapat ditiadakan dan dapat mengurangi tegangan antar muka partikel-partikel zat padat dan pembawa yang digunakan; zat pemflokulasi untuk membentuk suspensi flokulasi; pensuspensi yang dapat meningkatkan kekentalan (viskositas) sistem suspensi; serta bahan-tambahan lain seperti perasa,pewarna dan pengaroma jika diperlukan untuk meningkatkan nilai estetika sediaan.
Karakteristik fisika suspensi tergantung pada rute pemberiannya.Pada sediaan oral, umumnya memiliki viskositas yang lebih tinggi dan dapat mengandung zat padat terdispersi dalam jumlah yang tinggi pula.Sebaliknya, suatu sediaan suspensi parenteral harus memilki viskositas yang rendah dan mengandung bahan padat tersuspensi kurang dari 5%.
Formulasi sediaan suspensi farmaseutik memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat dari partikel terdispersi dan medium pendispersi. Bahan yang akan dibuat suspensi harus diseleksi dengan baik sesuai rute pemberian obat, tujuan penggunaan, dan efek samping yang mungkin timbul.
Secara umum ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam formulasi sediaan suspensi adalah :
a.                   Sifat partikel terdispersi dan medium pendispersi
b.                  Ukuran partikel, kerapatan pembawa,viskositas pembawa dan  sedimentasi.
c.                   Potensial Nernst  dan zeta 
d.                  Deflokulasi dan flokulasi.
e.                   Sifat Elektrokinetik

1.             Pembasahan  (Wetting )

Kesulitan utama dalam pembuatan suspensi adalah membasahi fase padat dengan medium pendispersinya.Sifat permukaan partikel tersuspensi merupakan hal yang penting dipertimbangkan  dalam formulasi suspensi. Partikel dengan tegangan permukaan yang rendah, akan mudah terbasahi oleh air, dan dapat dengan mudah tersuspensi. Sebaliknya, partikel yang memiliki tegangan permukaan yang tinggi, akan sulit terbasahi.
Pada pembuatan skala besar (dalam industri farmasi), sejumlah serbuk obat seringkali harus ditambahkan ke dalam pembawa dengan menaburkan pada permukaan cairan.  Serbuk yang mengadsorbsi udara pada permukaannya, atau mengandung sedikit lemak/kontaminan lain  akan sulit untuk terdispersi dalam cairan. Serbuk ini tidak dapat terbasahi dengan segera, sehingga mengambang dipermukaan cairan pembawa meski memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibanding cairan pembawanya.
Jika affinitas antara padatan dan cairan kuat, maka cairan segera membentuk film di atas permukaan padatan, tetapi bila afinitasnya lemah atau tidak ada, maka cairan akan sulit meniadakan udara atau substansi lain yang mengelilingi partikel dan akan ada sudut kontak antara cairan dan padatan. Kemampuan suatu serbuk untuk dapat terbasahi ( hidrofobisitas) dapat ditentukan dengan mengamati sudut kontak (contact angle) yang dibuat oleh serbuk dengan permukaan cairan. Sudut kontak yang lebih besar dari 90° akan mengambang di atas permukaan  cairan pembawa; kurang dari 90° partikel akan melayang dan tenggelam jika tidak memiliki sudut kontak. Serbuk yang tidak mudah terbasahi menunjukkan sudut kontak yang besar disebut zat yang bersifat hidrofobik, contohnya sulfur, arang aktif (charcoal) dan magnesium stearat. Serbuk yang dapat terbasahi dengan segera disebut hidrofilik contohnya zink oksida dan magnesium karbonat.


 





Gambar 3.2.Sudut kontak partikel serbuk dengan permukaan cairan pembawa
Dalam suatu formula suspensi,kehadiran suatu surfaktan sangat berpengaruh. Surfaktan dapat meningkatkan pembasahan partukel melalui penurunan tegangan permukaan zat.Surfaktan yang berasal dari kata surface active agent, merupakan senyawa aktif permukaan yang  digunakan dalam pembuatan suspensi, dapat membantu menurunkan tegangan antar muka partikel-partikel padat dan suatu pembawa.Tegangan permukaan yangmenurun berakibat pada penurunan sudut kontak, penggantian udara yang teradsorbsi pada permukaan partikel dengan cairan pembawa, sehingga terjadi pembasahan dan deflokulasi partikel zat padat.
Surfaktan terdiri dari beberapa jenis yaitu :
a.       Surfaktan Anionik
Contohnya :Triethanolamine oleate, Sodium oleate , Sodium dodecyl sulfate
b.      Surfaktan Cationic
Contohnya :Cetrimonium bromide
c.       Zwitterionic
Contohnya :Dipalmitoylphosphatidylcholine (lecithin)
d.      Surfaktan Nonionic
Contohnya :Sorbitan monolaurate (Span 20), Sorbitan monooleate (Span 20), Polyoxyethylene sorbitan monolaurate (Tween 20) , Polyoxyethylene sorbitan monooleate (Tween 80) , Glyceryl monostearate
Pada pengerjaan suspensi farmasi dalam skala kecil, penggerusan zat padat dengan gliserin dan zat higroskopis lainnya akan membantu menghilangkan udara yang teradsobsi pada celah dan permukaan zat padat dengan kemampuannya mengalir ke dalam ruang antar partikel.
Salah satu cara untuk memilih bahan pembasah diberikan oleh Hiestand, yakni menggunakan saluran liofob dari Teflon  yang sempit dan salah satu ujungnya diberi serbuk sedangkan pada ujung yang lain diletakkan larutan bahan pembasah. Kecepatan relatif penetrasi berbagai bahan pembasah dapat segera diamati dan yang lebih baik menunjukkan.



2.        Bahan Pensuspensi (Suspending Agent)
Bahan pensuspensi adalah substansi yang menaikkan viskositas suspensi sehingga memperlambat / menunda sedimentasi.Viskositas adalah suatu peryataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir pada suatu sistem polifase; makin tinggi viskositas semakin besar tahanannya.Pemilihan bahan pensuspensi yang tepat dapat memberikan karakteristik sifat aliran  (rheologi).
Suatu suspensi flokulasi yang dirancang, hendaknya juga ditambahkan pensuspensi dalam formulanya agar flokulat yang terbentuk tidak segera mengendap dan volume sedimentasi mendekati satu atau sama dengan satu.


 







Gambar 3.3.Volume sedimentasi dari flokulat dengan penambahan bahan pensuspensi
Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Rheo (mengalir) dan logos (ilmu).  Istilah ini pertama kali digunakan oleh Bingham dan Crawford untuk menggambarkan  aliran cairan dan deformasi dari padatan.  Sifat aliran penting dipertimbangkan dalam formulasi sediaan suspensi. Selain mempengaruhi kecepatan pengendapan partikel terdispersi, peningkatan kekentalan akan menyebabkan sifat aliran mengalami perubahan akibat pengocokan wadah, dan penuangan produk dari botol; serta saat digunakan pada bagian permukaan tubuh (lotion).
Tipe aliran dan deformasi suatu bahan dapat digolongkan sebagai Sistem Newton dan Sistem non-Newton.

a.    Sistem Newton.
Pada sistem Newton, semakin besar viskositas suatu cairan, maka makin besar pula gaya per satuan luas (shearing stress, F’/A) yang diperlukan untuk menghasilkan kecepatan mengalir (rate of shear, dv/dr); dengan kata lain rate of shear berbanding lurus dengan shearing stress; sementara viskositas berbanding terbalik dengan kecepatan mengalir. Beberapa bahan farmaseutik tergolong dalam tipe aliran ini, antara lain  gliserin, kloroform, minyak zaitun, etil alkohol, dan air.
b.    Sistem non-Newton
Sistem ini paling sering dijumpai dalam pekerjaan kefarmasian yang berhubungan dengan perancangan bentuk sediaan.Non-Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton misalnya dispersi heterogen cairan dan padatan  seperti larutan koloid, suspensi cair, salep dan produk-produk serupa. Jika viskositas bahan-bahan non-Newtonian ini diukur dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya tiga jenis aliran yaitu; plastis, pseudoplastis dan dilatan
Aliran plastis
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang terflokulasi dalam suspensi pekat sehingga terbentuk struktur yang kontinu di seluruh sistem.Suatu nilai Yield (Yield value) yakni suatu nilai shearing stress yang diperlukan untuk membuat struktur padat berubah menjadi cairan (mengalir). Yield value timbul akibat adanya kontak antara partikel-partikel yang berdekatan (disebabkan oleh gaya van der Waals ) yang harus dipecah sebelum aliran terjadi.Nilai ini menunjukkan kekuatan flokulasi; semakin banyak suspensi yang terflokulasi, semakin tinggi nilai Yield-nya.Di atas nilai Yield, kenaikan shearing stress, terjadi kenaikan rate of shear sehingga di atas Yield value, sistem plastis ini menyerupai sistem Newton.
Aliran Pseudoplastis
Sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam dan sintetik, misalnya dispersi cair dari tragacanth, natrium alginat, metil selulosa dan karboksi metil selulosa, menunjukkan aliran pseudoplastik.Viskositas zat pseudoplastik berkurang dengan meningkatnya rate of shear. Berbeda dengan aliran bahan plastik, bahan pseudoplastik tidak memiliki Bingham bodies (bahan padatan/endapan), Yield value, viskositas yang tidak berubah dan tidak pernah memiliki sifat menyerupai aliran Newton, aliran pseudoplastik dimulai dari titik nol dengan rate of shear rendah serta viskositas nyata berbeda disetiap titik rate of shear.
Aliran Dilatan
Suspensi-suspensi yang memiliki kadar zat padat terdispersi yang tinggi menunjukkan peningkatan hambatan mengalir dengan meningkatnya rate of shear. Pada sistem dilatan, volumenya akan meningkat jika terjadi shear. Sifat aliran ini adalah kebalikan dari sifat yang dimiliki oleh sistem pseudoplastik.Jika bahan pseudoplastik dikenal dengan istilah shear-thinning system, maka bahan dilatan disebut shear-thickening system. Jika stress dihilangkan, maka sistem dilatan akan kembali pada fluiditas aslinya.
Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan adalah suspensi-suspensi dengan konsentrasi tinggi (lebih dari 50%) partikel-partikel kecil yang mengalami deflokulasi. Sifat dilatan dapat diterangkan sebagai berikut : pada keadaan istirahat, partikel tersusun rapat dengan volume antar partikel atau volume kosong ‘void’ pada keadaan minimum, tetapi jumlah pembawa dalam suspensi tersebut cukup untuk mengisi volume ini dan menyebabkan partikel-partikel bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear rendah. Pada keadaan ini, suspensi mudah dituang karena berbentuk cair. Pada saat shear stress meningkat,bulk dari sistem tersebut mengembang atau memuai (dilate), seperti terlihat pada gambar 3.4, dari sinilah istilah dilatan. Pada kondisi shear stress ditingkatkan, partikel-partikel tersebut dalam usahanya untuk bergerak lebih cepat, mengambil bentuk kemasan terbuka.Susunan ini menyebabkan meningkatnya jumlah volume kosong (void) diantara partikel. Jumlah pembawa yang tetap dengan ruang kosong yang meningkat seiring dengan meningkatnya shear, menyebabkan pembawa tidak cukup untuk memenuhi ruang kosong, akibatnya partikel menjadi tidak terbasahi/terlumasi sempurna oleh pembawa dan sulit untuk mengalir. Pada akhirnya, suspensi akan menjadi pasta yang kaku. Sistem dilatan ini menjadi faktor yang mempersulit dalam pengerjaan bahan farmasi karena dapat merusak alat dalam proses pembuatan.
 







Gambar 3.4. Penjelasan sifat aliran dilatan
Karakteristik bahan pensuspensi yang ideal adalah :
a.              Tidak memiliki efek terapetik
b.             Secara kimia stabil pada rentang pH yang luas
c.              Menghasilkan viskositas memadai pada konsentrasi rendah
d.             Memberikan kestabilan fisika pada sistem polifase

Jenis Suspending Agent
Penstabil suspensi dapat diklasifikasikan menurut asalnya, yaitu berasal dari alam dan sintetik.Kemampuan hidrokoloid alam untuk menaikkan viskositas air bervariasi.   Agar dan karbopol 940 kapasitas pengentalnya terkuat sedangkan akasia paling lemah.Istilah hidrokoloid lebih spesifik daripada istilah gom yang artinya adalah koloid yang mempunyai afinitas terhadap air.Afinitas hidrokoloid pada air terlihat pada kemampuannya untuk melarut atau mengembang dalam air. Semua hidrokoloid menaikkan viskositas air dengan mengikat molekul-molekul air. Larutan hidrokoloid ini dikenal sebagai musilago.Pembentukan gel seperti itu merupakan karakteristik kebanyakan hidrokoloid.Hidrokoloid dapat bercampur dengan senyawa glikol seperti gliserin, propilen glikol dan PEG, tetapi sulit dengan   alkohol.
Disperse air dari semua hidrokoloid alam kehilangan viskositasnya setelah waktu tertentu. Kehilangan viskositas ini dipercepat oleh panas. Dispersi air dari hidrokoloid menjadi lebih kental bila temperatur diturunkan dan sebaliknya lebih encer bila temperatur  naik, kecuali pada Metil Celulosa. Panas berlabihan dan pengirisan yang berlebihan dalam alat yang dipakai untuk mencampur dapat menyebabkan depolimerisasi koloid hidrofil disertai kehilangan viskositas. Makin tinggi derajat polimerisasi, semakin besar  kecepatan timbulnya depolimerisasi.Dengan menguapkan pelarut dari sistem dispersinya, kebanyakan hidrokoloid membentuk film plastis yang menguntungkan dalam  pelekatan obat pada kulit.
Kebanyakan hidrokoloid aktif pada permukaan.Karena itu dapat digunakan juga sebagai bahan pengemulsi.Karena dapat menurunkan tegangan permukaan, maka sediaan yang mengandung hidrokoloid dapat berbusa bila digojok.Hidrokoloid yang berasal dari alam umumnya disebut gom. Istilah ini  telah digunakan pula secara luas pada produk-produk sintetis seperti metil selulosa   dan karboksi metil selulosa.
Kemampuan mengentalkan hidrokoloid sintetis berbeda sesuai dengan BM dan jumlah substitusi.Produk-produk metil selulosa misalnya, mencakup rentangan viskositas dimana golongan yang paling tinggi mempunyai kapasitas pengentalan 1500 x golongan yang terendah.
Tanah liat menunjukkan tiksotropi yakni perubahan bentuk sol-gel yang reversible.Tiksotropi adalah fenomena pembengkakan karena didiamkan dan kembali ke konsistensinya yang lebih mudah bergerak dengan penggojokan tanpa perubahan temperature. Gelling dalam sistem tiksotropi akansangat mengurangi kecepatan bergeraknya partikel-partikel yang tersuspensi sehingga meningkatkan kestabilan system. Suatu tiksotropi gel dapat dikembalikan sifat cairnya dengan penggojokan.
Hidrokoloid yang struktur kimianya merupakan karbohidrat, akan mengalami peruraian oleh mikroba. Demikian pula dengan hidrokoloid derivate sintetik akan menurun viskositasnya akibat aksi mikroba. Meskipun tanah liat kelihatannya resisten terhadap aksi mikroba tetapi tidak mempunyai sifat anti septic.Oleh karena itu sangat diperlukan pengawet pada sediaan yang menggunakan hidrokoloid.Penambahan pengawet ( preservative ) pada sediaan yang berisi hidrokoloid alam merupakan suatu keharusan.
Berbeda dengan kondisi untuk  selulosa eter dan karbopol 934; meskipun bahan ini dipengaruhi oleh bahan oksidatif dan kehilangan viskositas, tetapi tidak diperlukan penambahan anti oksidan selama penyimpanan dalam jangka waktu yang pendek pada dispersinya dalam air jika disimpan di dalam wadah yang coklat.
Bahan – bahan pensuspensi yang diuraikan di bawah ini merupakan prototype dari kelasnya masing-masing.Semuanya dipakai secara luas dalam pengobatan.Walaupun khas merupakanbahan pensuspensi tetapi karena persamaan-persamaan dalam struktur dengan bahan pengemuksi maka bahan pensuspensi tertentu dapat digunakan dengan teknik tersendiri untuk membuat emulsi.
Hidrokoloid alam
a.    Akasia

Akasia atau gom arab adalah  eksudat yang  keluar dari akar dan batang  tanaman   Acacia senegal (Linné)  Famili Leguminosae yang tumbuh terutama di Sudan dan  Senegal (Africa). Merupakan   suatu aggregat dari  gula dan hemiselulosadengan berat molekul berkisar  240 000–580 000. Aggregat ini mengandung inti asam arabik esensial yang  terikat dengan kalsium, magnesium, dan potassium pada gula-gula arabinosa, galaktosa, and ramnosa.

Akasia digunakan dalam kosmetik,makanan serta sediaan farmasi oral dan topikal.Meskipun tidak toksik dan tidak mengiritasi, bahan ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada formulasi sediaan inhalasi dan parenteral karena menyebabkan reaksi hipersensitif dan reaksi anaphilaksis.Akasia digunakan dalam formulasi sediaan farmasi oral dan topikal antara lain  sebagai penstabil, pensuspensi dan peningkat viskositas. Konsentrasi 5% dalam air memiliki pH 4.5–5.0; kadang-kadang dikombinasi dengan tragakan.

Akasia  larut dalam 2,7 air, 1 : 20   glycerin, 1 : 20  propylene glycol dan praktis tidak larut dalam etanol 95%. Dalam air, kelarutan akasia sangat lambat dan sempurna setelah 2 jam.Larutan akasia yang terbentuk tidak berwarna atau kuning lemah, kental dan lengket.Larutan akasia konsentrasi 30% w/v pada 20°C memiliki viskositas sebesar 100 cP. Viskositas larutan akasia tergantung pada kemurnian bahan,proses pembuatan, kondisi penyimpanan,pH dan keberadaan garam. Beberapa senyawa garam menurunkan viskositas larutan akasia. Garam trivalensi akan menyebabkan koagulasi. Viskositas meningkat secara lambat pada konsentrassi 25% dan memiliki sifat seperti sistem Newtonian.Konsentrasi lebih tinggi, viskositas meningkat secara cepat dan menjadi sistem non-Newtonian. Peningkatan temperatus atau pemanasan yang lama pada larutan akasia, akan  menurunkan viskositasnya akibat depolimerisasi atau agglomerasi(penggumpalan) partikelnya.
     Kecenderungan kontaminasi mikroba pada larutannya ditangani dengan menambahkan pengawet seperti asam benzoat 0.1% w/v, natrium benzoat 0.1% w/v, atau campuran metil paraben 0.17% w/v dan propil paraben0.03%

b.   Tragakan

Tragakan adalah eksudat (gum ) dari tanaman  Astragalus gummiferLabillardière dan spesies lain dari  Astragalus yang tumbuh di Asia Barat (Iran, Syria, dan Turkey).  Gum mengandung campuran  polisakarida larut air dan tidak larut air. Hidrolisi tragakan   l-arabinosa, l-fucose, d-xylosa,d-galaktosa, danasam d-galakturonat .Gum tragakan juga mengandung sejumlah selulosa, pati, dan protein. Gum tragakan memiliki berat molekul sebesar 840 000

Tragakan digunakan sebagai bahan pensuspensi (peningkat viskositas) dan pengemulsi pada beberapa formulasi sediaan farmasi, makanan dan kosmetik.Dispersinya dalam air konsentrasi 1% memiliki pH 5-6. Tragakan praktis tidak larut dalam air, etanol (95%) dan  pelarut organik lainnya. Meskipun tidak larut dalam air, tetapi tragakan mengembang dengan cepat dalam 10 bagian air panas atau air dingin untuk menghasilkan larukan koloidal yang kental atau semi gel.
Viskositas tragakan bervariasi tergantung dari kemurnian material.Dispersi tragakan 1% dalam air memiliki viskositas 100–4000 cP pada suhu 20°C.Viskositas meningkat dengan peningkatan temperatur dan konsentrasi, tetapi viskositas menurun dengan peningkatan pH. Dispersi tragakan paling stabil pada  pH 4–8, dan diperlukan pengawet  ( 0.1% w/v asam benzoit atau natrium benzoat,  kombinasi 0.17% w/v metil paraben and 0.03% w/v propylparaben) untuk mencegah pertumbuhan mikroba akibat kontaminasi.
Pada pH 7, tragakan dapat mereduksi efek antimikroba benzalkonium klorida, klorobutanol, dan metilparaben, dan sedikit berpengaruh  padafenol and fenylmerkurik asetat. Pada pH < 5 tragakan dilaporkan tidak memiliki efek samping pada efek pengawetan dari asam benzoat,   klorobutanol, atau metilparaben.
Penambahan mineral kuat dan asam organik dapat menurunkan viskositas dispersi tragakan. Viskositas juga akan menurun dengan penambahan larutan alkali (NaCl) jika dispersi dipanaskan. Tragakan dapat bercampur dengan garam dengan konsentrasi relatif tinggi, beberapa bahan pensuspensi  sepertiakasia, CMC, pati , dan sukrosa.  Dispersi tragakan berwarna kuning, dan  dapat diendapkan  dengan penabahan  garam Ferriklorida 10%. 
c.    Algin
Istilah algin atau alginate diberikan pada derivate asam alginate yang diperoleh dari lumut laut.Asam alginate adalah suatu poligliseronoid. Dalam farmasi digunakan garam asam alginate yang larut dalam air, anionik dan stabil pada pH 5 ≤ . Pada pH kurang dari 4, asam alginate akan mengendap.
Algin adalah tipe khas koloid hidrofilik yang diperoleh dari tanaman, dan seperti agar, condrus, pectin, dan tragakan merupakan golongan karbohidrat.Mereka mempunyai BM tinggi tetapi larut dalam air dan sangat terhidrasi disebabkan ikatan hidrogen dari gugus hidroksilnya dengan air.Na alginate hancur dalam air dingin setelah didiamkan semalam.Penghancuran dipercepat oleh panas dan dengan digerakkan perlahan-lahan.Pemanasan berlebihan diatas 50ºC menyebabkan hidrolisa dan kehilangan viskositas.
Tingkat kenaikan viskositas bervariasi pada berbagai koloid hidrofil dan seringkali berbeda untuk substansi yang diberikan disebabkan perbedaan dalam pembuatan dan standarisasinya.Viskositas yang dihasilkan beberapa tipe algin yang diperdagangkan tergantung pada tingkat hidrolisa yang terjadi selama pembuatan.Konsentrasi algin mempengaruhi viskositasnya, algin.Pada konsentrasinya 1% dapat membentuk larutan dengan viskositas 1000 cps dan pada konsentrasi 5% membentuk gel.
Keberadaan  garam dari logam alkali dan alkohol pada konsentrasi sedang, hanya sedikit menurunkan viskositas, sedangkan konsentrasi tinggi menyebabkan dehidrasi dan mengendapkan algin.
Ion-ion logam berat mengendapkan garam asam alginate sebagai serabut.Penambahan hati-hati ion Ca pada suatularutan algin menaikkan viskositasnya.Pada konsentrasi rendah dari ion Ca, beberapa gugus karboksilat belum bereaksi dan dalam bentuk ionic mempertahankan algin dalam larutan. Penambahan lebih lanjut ion Ca konsentrasi rendah menghasilkan gel dimana mol-mol panjang dari Ca alginate yang tidak larut telah menjerat sejumlah medium disperse.
Koloid hidrofil dari tanaman adalah anionic dan asidik kecuali guar gum yang non ionic.Pada umumnya koloid hidrofil tersedia dalam bentuk garam yang larut dalam air dimana bentuk asamnya diendapkan pada pH kurang dari 4.  .
Bila air mula-mula ditambahkan, maka koloid hidrofil membengkak dan mengabsorbsi air disertai pembentukan lapisan yang kental mengelilingi tiap partikel.Partikel-partikel cenderung melekat menjadi gumpalan-gumpalan yang sulit dipecahkan karena diselubungi lapisan yang licin yang merintangi pengirisan.Difusi perlahan-lahan dari air melewati lapisan ini sangat memperlambat penghancuran keseluruhan partikel-partikel itu. Biasanya bahan pensuspensi yang sudah diserbuk ditaburkan perlahan-lahan di atas air dengan digerakkan secara mekanis. Hidrasi yang sempurna tidak akan terjadi dalam beberapa hari. Untuk memudahkan hidrasi dapat ditambahkan alkohol, gliserin, sorbitol, propilen glikol atau bahan pembasah yang sesuai sesaat sebelum penambahan air.
d.   Guar gom
Guar gum berasal dari bagian dalam endosperm dari tanaman  guar  Cyamopsis tetragonolobus (L.) Taub. , dari famili Leguminosae  yang tumbuh di   India, Pakistan, dan beberapa area di bagian barat dayaUSA. Guar gum merupakan senyawa polisakarida hidrokoloid dengan berat molekul besar, tersusun atas  unit galactan dan mannan suatu glikosida , secara kimia disebut sebagai galactomannan.  Komponen utama polisakaridanya adalah  d-galaktosa dan d-mannosa .  Guar gum tidak berbau,berwarna  kuning lemah hingga putih dan tidak berbau.
Guar gum secara luas digunakan dalam makanan, kosmetik  dan  formulasi sediaan farmasi oral / topikal sebagai bahan pensuspensi (meningkatkan viskositas), thickening, dan penstabil.  Bersifat tidak toksik dan tidak mengiritasi. Guar gum praktis tidak larut dalam  pelarut organik. Dalam air dingin atau panas, guar gum terdispersi dan mengembang dan membentuk larutan kental dan bersifat tiksotropik.Kecepatan hidrasi optimum dicapai pada pH 7.5-9.0.Pada temperatur ruangan akan dihasilkan viskositas maksimum selama 2 – 4 jam. Viskositasnya tergantung pada temperatur, waktu, konsentrasi, pH, kecepatan pengadukan dan ukuran partikel guar gum.Dispersi guar gum 1% dalam air memiliki pH 5.0-7.0 dengan viskositas sebesar 4860 cP.Dispersi guar gum memiliki aktifitas buffer dan stabil pada pH 4.0-10.5. Sifat alirannya seperti yang dimiliki oleh xanthan gum
Stabilitas terhadap adanya kontaminan mikroba dapat diatasi dengan penggunaan pengawet metilparaben0.15% dan propylparaben 0.02% . Penggunaan pada produk makanan dapat menggunakan pengawet asam benzoat, asam sitrat, Natrium benzoate, atau asam  sorbat 
Guar gum dapat bercampur dengan hidrokoloid alam lainnya sepertitragakan, tetapi tidak dapat bercampur dengan   acetone, etanol (95%), tannin, asam kuat, dan alkalis.Kehadiran ion borat dalam disprsi akan menghambat proses hidrasi guar gum.  
e.    Gelatin
Gelatin diperoleh melalui hidrolisa sebagian kolagen yang berasal dari kulit, jaringan dan tulang-tulang binatang.Gelatin terdiri dari rantai polipeptida dengan panjang yang berbeda. Beberapa dari asam amino penyusun gelatin adalah diamino karboksilat dan yang lain adalah mono amino asam dikarboksilat.
Gelatin bersifat amfoterik disebabkan adanya amino bebas dan gugus karboksilat.Dengan demikian muatan gelatin tergantung pada pH.
Gelatin tipe A
Gelatin tipe B dibuat dengan hidrolisa asam, terhidrasi dengan kuat serta bermuatan (+) pada pH 4 – 4,5. Titik isoelektris dari tipe A adalah pada pH 7-9 dimana pada titik itu gelatin tidak bermuatan dan berada sebagai zwitter ion. Gelatin tipe A adalah kationik disebabkan pH asam yang dihasilkan oleh asam tartrat sehingga tidak dapat dipakai dengan koloid hidrofil yang bermuatan negative seperti acacia dan tragakan.
Gelatin Tipe B
Gelatin tipe B dibuat dari bahan asal yang diberi alkali dan digunakan pada pH sekitar 8.Medium alkali dapat dipertahankan dengan penambahan Na bikarbonat.Karena gelatin tipe B anionik maka dapat dipakai dengan koloid hidrofil yang bermuatan negative.

Derivate selulosa
a.    Metil Selulosa
Derivate sellulosa yang digunakan dalam farmasi sebagai pensuspensi adalah polimer-polimer rantai panjang dengan gugus R yang sudah dieterifikasi pada gugus hidroksil.Derajat polimerisasi atau panjang rantainya mengontrol viskositas dari derivatnya.Jadi untuk tingkat substitusi tertentu ada beberapa tipe viskositas bergantung pada panjang molekulnya.Tipe viskositas yang dihasilkan biasanya ditunjukkan oleh viskositas larutan 2%  pada suhu 20° C.
Metil selulosa digunakan secara luas dalam formulasi sediaan oral dan topikal. Sebagai bahan pensuspensi, metil selulosa digunakan pada konsenrasi sebesar 1,0 – 2,0 %
     Metode yang disukai dalam pembuatan larutan Metil selulosa  adalah dengan menggunakan air panas. Metil selulosa  yang sudah diserbuk diblender dengan ¼ - ½ volume air suhu 90ºC yang dibutuhkan. Setelah proses pembasahan, maka sisa air ditambahkan sebagai es atau air es, lalu ditempatkan dalam lemari pendingin agar jernih. Bila air dingin ditambahkan terlebih dahulu, maka film yang kental terbentuk pada permukaan tiap partikel yang menyebabkan bergumpal dan memeperlambat difusi air ke dalam partikel.
     Pembuatan larutan metil selulosa dapat juga dengan menggunakan 5 bagian alkohol, gliserin atau propilen glikol ( bila poliol yang digunakan lebih sedikit maka campuran akan sangat kental dan membentuk gumpalan-gumpalan ) setelah itu ditambahkan air sedikit demi sedikit dengan pengadukan secara mekanis. Bahan pembasah dapat dipakai dengan cara yang sama dengan poliol tetapi bahan pembasah tertentu mempengaruhi viskositas. Bahan yang dapat meningkatkan viskositas Metil selulosa  antara lain adalah larutan 1% dioktil sulfosuksinat  dan larutan Na stearat 1% .
Bila larutan Metil selulosa  dipanaskan, viskositasnya mula-mula turun sampai tercapai temperature dimana terjadi gel. Bila temperature dinaikkan maka energy molekulair naik dan ikatan hydrogen pada Metil selulosa  terputus. Dengan putusnya ikatan hydrogen maka Metil selulosa  tidak terhidrasi lagi dan molekul yang linier terjalin dan mengendap sebagai gel pada suhu 45-55ºC.
Metil selulosa  dengan gel yang tinggi diberi tanda Hg yang didahului bilangan yang menunjukkan temperature gel seperti contoh : Metil selulosa  65 Hg berarti = campuran metal dan hidroksi propel eter sellulosa dan 2% larutannya dalam air membentuk gel pada temperature 65ºC.
Metil selulosa dapat menurunkan tegangan permukaan, walaupun terutama sebagai bahan pensuspensi tetapi dapat digunakan sebagai protektif koloid ( koloid pelindung ) dan membentuk emulsi o/w.
Umumnya tipe viskositas rendah menghasilkan aktivitas permukaan lebih besar dari pada tipe viskositas tinggi, tetapi tipe viskositas tinggi lebih mampu dalam pembentukan film daripada tipe viskositas rendah.Tipe viskositas rendah telah digunakan sebagai bahan pembasah dan bahan pendispersi dalam suspensi parenteral untuk intra muskuler. Karena Metil selulosa  tidak dimetabolisme maka tidak dianjurkan untuk pemakaian parenteral.
Metil selulosa  adalah non ionik dan netral, stabil pada pH 3 – 11 tetapi dapat diendapkan dari larutannya oleh bahan tambahan pada konsentrasi yang tinggi disebabkan adanya persaingan air dengan bahan tambahan dan dehidrasi Metil selulosa  yang kemudian mengendap. MgCl2anhidrat Na2SO4 anhidrat 4 g, atau 65 g sukrosa merupakan jumlah maksimum yandapat ditambahkan pada 100 ml larutan 2% Metil selulosa  4000 cps.
Larutan 2% Metil selulosa  dapat dibuat dengan alkohol sampai 40 % dalam air. Metil selulosa  65 Hg masing-masing akan mentolerir maksimum 60% dan 80% alkohol.

b.   Na Carboksi Methyl Cellulosa (NaCMC)
Na Karboksi Metil Selulosa  atau NaCMC  yang larut dalam air dan digunakan dalam farmasi adalah sellulosa yang telah disubstitusi dengan Na karboksi metil. Derajat substitusi mengontrol kelarutannya dan panjang molekulnya mengontrol viskositas untuk tiap tingkat substitusi.Tipe viskositas dari Na Carboksi Metil Selulosa terdiri dari tipe rendah, medium (sedang), dan tinggi.
Misalnya : Na Carboksi Metil Selulosa P-75-L menunjukkan bahwa Na Carboksi Metil Selulosa sudah dimurnikan sampai derajat premium (P), nomornya menunjukkan derajat substitusi 0,75 dan huruf L menunjukkan tipe viskositas rendah ( = Low ).
Viskositas Na Carboksi Metil Selulosa turun dengan kenaikan temperatur, hancur dalam air dingin atau panas. Larutan dapat dibuat lebih cepat jika  air yang digunakan dipanaskan lebih dahulu lalu serbuk ditambahkan pelan-pelan ke dalam air dan diaduk dengan kuat ( pencampuran dengan daya pengirisan yang tinggi ) sehingga partikel terpisah dan masing-masing dibasahi tanpa gumpalan.Penambahan  serbuk tidak boleh terlalu pelan karena larutan akan menjadi kental sebelum semua serbuk ditambahkan.
Na Carboksi Metil Selulosa adalah anionic dan larut dalam air, larutannya sedikit alkalis dan stabil pada pH 6-10. Bila pH turun, larutan akan kehilangan viskositas dan pada pH 2 asam bebasnya diendapkan.
Umumnya bercampurnya Na Carboksi Metil Selulosa dengan garam tergantung pada dapat atau tidaknya kation dari garam yang ditambahkan itu membentuk garam Na Carboksi Metil Selulosa yang larut.Konsentrasi sedang dari KCl mempunyai efek yang kecil tetapi bila zikronium sulfat ditambahkan maka zikronium- Na Carboksi Metil Selulosa yang tidak larut diendapkan.Biasanya kation monovalen membentuk garam yang mudah larut dan kation polivalen membentuk garam yang tidak larut.
Mikrokristal sellulosa dalam kombinasi dengan Na Carboksi Metil Selulosa atau Metil selulosa dapat digunakan sebagai bahan pensuspensi ( diperdagangkan dengan nama Avicell® ).Avicell adalah koloid yang terdispersi dalam air dan mengandung 8% Na Carboksi Metil Selulosa untuk melindungi dispersinya. Bila diaduk dalam air akan membentuk larutan dan pada konsentrasi di atas 1% partikel-partikel sellulosa mengalami interaksi membentuk gel tiksotropi.
Suatu larutan dari mikrokristal sellulosa terflokulasi oleh :
-       Sejumlah kecil elektrolit
-       Polimer-polimer kationik
-       Surfaktan
Sistem yang terflokulasi mengendap menjadi volume sedimentasi yang besar dan memperlambat caking.Polimer-polimer seperti Metil selulosa dan Na Carboksi Metil Selulosa berfungsi sebagai koloid pelindung yang diabsorbsi dipermukaan partikel-partikel.Jalinan jala dari partikel-partikel padat yang terikat oleh rantai polimer ini menghasilkan system tiksotropi yang merupakan pendukung utama untuk suspensi, karena fase terdispersi dipegang di dalam struktur tiksotropi selama penyimpanan dan bila digunakan memberikan konsistensi yang mudah dituang.
c.    Hidroksi etil selulosa

Hidroksi etilselulosa adalah selulosa dengan substituen poli(hidroksi) eter. Bahan ini tersedia dalam beberapa tingkatan tergantung viskositas dan derajat sunstitusinya (Cellosize, Natrosol);beberapa dimodifikasi untuk dapat terdispersi dalam air. Tingkatannya ditentukan berdasarkan viskositas (cP)dari larutan 2% yang diukur pada suhu 20°C
Hidroksi etil selulosa bersifat nonionik, polimer yang  larut dalam air, dan digunakan secara luas dalam formulasi farmasi dan kosmetik sebagai bahan pensuspensi (meningkatkan viskositas). Hidroksi etil selulosa terutama digunakan dalam formulasi sediaan farmasi ophthalmic dan topikal.Merupakan bahan yang tidak toksik dan tidak mengiritasi. Tidak disarankan menggunakan bahan ini pada formulasi sediaan oral ataupun topikal pada membran mukosa
Konsentrasi yang digunakan dalam formulasi tergantung pada pelarut dan berat molekulnya.Hidroksi etil selulosa larut dalam air panas atau dingin, membentuk larutan jernih,lembut dan monofase;praktis tidak larut dalam aseton,etanol(95%),eter dan banyak pelarut organik. Dalam beberapa pelarut organik polar seperti glikol,hidroksietil selulosa mengembang atau larut sebagian
Hidroksi etil selulosa tersedia dalam beberapatipe dengan rentang viskositas, contohnya Cellosize yang dibuat dalam 11 tingkatan viskositas.Tingkatan-tingkatan pada hidroksi etil selulosa pada dasarnya berbeda dalam viskositas larutannya yaitu pada rentang 2-20000mPa untuk larutan 2% nya.  Dua tipe Cellosize yang dihasilkan adalah tipe WP yakni bahan dengan  sifatnormal-dissolving  dan tipe QP yakni bahan dengan sifat  rapid-dispersing. Viskositas terendah hanya dapat diperoleh dari tipe WP (02). Lima tingkatan viskositas dapat diperoleh dari kedua tipe (09, 3, 40, 300, dan 4400 ). Lima viskositas tinggi hanya diperoleh dari tipe QP yaitu (10000, 15000, 30000, 52000, dan 100 M).



Tabel 3.1.
Tingkatan Cellosize berdasarkan viskositasnya
Type
Grade
Concentration (% w/v)
Viscosity (mPas)
Low
High
WP
02
5
7–14
14–20
WP and QP
09
5
60–100
100–140

3
5
220–285
285–350

40
2
70–110
110–150

300
2
250–325
325–400

4400
2
4 200–4 700
700–5 200
QP
10000
2
5 700
6 500

15000
2
15 000–18 000
18 000–21 000

30000
1
950–1 230
1 230–1 500

52000
1
1 500–1 800
1 800–2 100

100M
1
2 500
3 000

 

Natrosol 250dihasilkan dalam  10tipe viskositas  seperti pada tabel dibawah ini

Tabel 3.2.

TipeNatrosol 250dalam larutan pada suhu 25°C.


Type
Viscosity (mPa s) for varying concentrations (% w/v)
1%
2%
5%
HHR
3 400–5 000
H4R
2 600–3 300
HR
1 500–2 500
MHR
800–1 500
MR
4 500–6 500
KR
1 500–2 500
GR
150–400
ER
25–105
JR
150–400
LR
75–150

Bahan dengan sifat rapidly - dispersingdapat disiapkan dengan mendispersikan hidroksi etil selulosa dengan pengadukan sedang dalam air suhu 20-25°C. Setelah hidroksi etil selulosa terbasahi, selanjutnya temperatur larutan dinaikkan hingga 60–70°C  untuk meningkatkan kecepatan proses dispersinya. Penggunaan larutan alkali juga dapat meningkatkan proses dispersi.  Pada tipe ini, dispersi dapat tercapai dalam waktu 1 jam melalui pengontrolan temperatur, pH dan kecepatan pengadukan.
Bahan dengan sifat normally- dispersingdari hidroksi eter selulosa perlu lebih berhati-hati pada penangannya untuk menghindari penggumpalan selama dispersi; air harus di aduk dengan cepat. Sebagai alternatif, campuran kental hidroksietil selulosa disiapkan dalam pembawa non air  seperti alkohol terlebih dahulu , sebelum didispersikan ke dalam air.
Larutan hidroksi etil selulosa dalam air relatif stabil pada pH 2–12, kurang stabil dibawah pH 5 (terhidrolisis).Pada  pH tinggi, oxidasidapat terjadi. Peningkatan temperatur akan menurunkan viskositas larutan hidroksi etil selulosa, tetapi pendinginan akan mengembalikan viskositas aslinya. Larutan hidroksi etil selulosa dapat mengalami degradasi enzim dan menurunkan viskositasnya akibat keberadaan bakteri dan jamur, sehingga untuk menjaga stabilitasnya diperlukan penambahan pengawet.
Hidroksi etil selulosa tidak larut dalam banyak pelarut organik, sebagian tercampurkan   dengan beberapa bahan yang  terlarut dalam air seperti casein; gelatin; metil selulosa; polyvinyl alkohol, dan pati; penambahan pengawet natrium pentaklorofenat ke dalam larutan hidroksi etil selulosa akan menghasilkan peningkatan viskositasnya.
Tanah liat ( Clays )
Tanah liat ( clay ) yang digunakan sebagai pensuspensi dalam farmasi adalah silikat-silikat yang berada dalam komponen logamnya.

a.    Veegum ( Mg Al silikat )
Veegum merupakan campuran yang dimurnikan dari Mg dan Al silikat, warnanya lebih muda, tidak berbau dan tidak berasa dibanding bentonit.Veegum dapat mengadsorpsi obat-obat yang terasa pahit dan mempengaruhi kenyamanan rasa pada pengobatan bentuk cairan. Test klinik menunjukkan bahwa obat tidak begitu kuat diadsorpsi sehingga kemanfaatan biologisnya ( bioavailabilitasnya ) tidak berkurang secara signifikan.
b.   Bentonit ( Al silikat )
Bentonit adalah Al silikat koloidal, terhidrasi, bersifat anionik dan menunjukkan viskositas maksimum pada kondisi alkali.Bentonit tidak sesuai digunakan pada pH kurang dari 6 dan terkoagulasi oleh asam kuat.
Viskositas dan nilai suspensi bentonit relatif tidak dipengaruhi oleh perubahan temperatur.  Pada konsentrasi di atas 4,3% menunjukkan aliran plastis dan tiksotropi yang disebabkan interaksi antar partikel yang dipengaruhi elektrolit dan pH.
Untuk membuat dispersi dalam air maka bentonit atau veegum ditambahkan perlahan-lahan pada air dan digerakkan secara kontinyu.Hidrasi yang lebih lengkap diperoleh dengan mendispersi tanah liat sebelum penambahan suatu elektrolit. Hidrasinya berlangsung perlahan-lahan dan viskositas maksimum tidak akan dicapai di dalam sehari.
Faktor paling menentukan dalam mereduksi waktu yang dibutuhkan untuk hidrasi adalah :
a)      Penggunaan mikser yang kemampuan pengirisannya tinggi
b)      Penggunaan air panas mempercepat hidrasi dan dianjurkan jika digunakan   mikser dengan kemampuan pengirisan yang rendah
c)      Untuk mengefektifkan waktu pembuatan, maka terlebih dahulu membuat  dispersi 4% atau 5% , setelah itu diencerkan hinggakkonsentrasi yang dibutuhkan.
Walaupun bentonit adalah bahan pensuspensi tetapi dapat juga digunakan untuk membentuk emulsi karena dapat teradsorpsi pada antar muka minyak-air untuk membentuk lapisan film pelindung sekeliling butiran fase terdispersi.

c.    Attapulgite
Attapulgit adalah  hidrasi magnesium aluminum silicate  yang dimurnikan dari alam yang terkandung dalam  mineral clay.  Koloidal attapulgit mengabsopsi  sejumlah  air untuk membentuk  gel.
Attapulgit digunakan secara luas dalam formulasi sediaan farmasi, tidak toksik, tidak mengiritasi dan tidak ikut diabsorpsi pada pemberian oral.

d.   Silica koloidal
Silika koloidal (aerosil,cab-o-sil, SiO2)  Silika koloidal digunakan secara luas dalam farmasi (oral dan topikal), kosmetik dan produk makanan, antara lain sebagai adsorben, anti-caking, penstabil emulsi, bahan pensuspensi dan peningkat viskositas.
Silika koloidal digunakan sebagai thixotropic thickeningdan bahan pensuspensi pada gel dan sediaan semi padat.  Derajat peningkatan viskositas tergantung pada polaritas cairan.Viskositas juga tergantung dari temperatur  dan pH.Silika koloidal, ketika digunakan dalam sistem cairan pada pH 0-7.5akan efektif meningkatkan viskositas sistem. Viskositas sistem akan direduksi pada pH diatas  7,5

Polimer-polimer sintetis
a.    Karbopol
Karbopol 934 yang nama kimianya karboksi vinil polimer dari BM yang sangat tinggi. Viskositasnya turun bila terkena cahaya.Penurunan viskositas akibat reaksi oksidatif ini dapat dihindari dengan penambahan anti oksidan atau dengan menghindari cahaya pada penyimpanan.Dapat digunakan dalam formulasi sediaan farmasi oral.
b.             Polioks
Polimerisasi PEG sampai BM beberapa juta dari dimensi koloidal dapat terdispersi dan mengentalkan air.

Penstabil yang lain
a.    Emulsi cetil alkohol
Merupakan emulsa cair yang mempunyai viskositas agak tinggi yang bila ditambahkan pada suspensiakan berfungsi sebagai penstabil. Dibuat dengan melarutkan Na lauril sulfat dalam air, dipanaskan sampai 55ºC dan larutan panas ini ditambahkan pada cetil alkohol yang sudah dilebur dan diaduk sampai membeku.

b.   Dipokoloid
Dipokoloid adalah senyawa yang mengentalkan pelarut yang bukan air.Karbopol 934 yang sudah dinetralkan juga merupakan pengental yang efektif untuk gliserin, glikol-glikol dan alkohol.
Salah satu yang paling efektif sebagai penstabil suspensi untuk cairan non polar adalah silicon dioksid yang dibuat secara spesifik dan efektif dalam konsentrasi 1-2%.

Pemilihan bahan pensuspensi umumnya berdasarkan fungsinya, yakni sebagai  :
-         Koloid pelindung
-         Bahan penginduksi viskositas
-         Surfaktan
-         Bahan pendispersi
Kombinasi bahan-bahan ini digunakan untuk memperoleh sifat aliran (rheologi) yang diingini.
Sistem deflokulasi yang mencakup factor-faktor hokum Stokes menjadi hal penting untuk dipertimbangkan, sehingga pengendpan dan pembentukan cake dapat diatasi. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu :
-           Ukuran partikel
-           Kerapatan pembawa dan partikel, dan
-           Viskositas medium

3.    Pemflokulasi
Setelah serbuk dibasahi dan didispersi dengan baik, maka selanjutnya diarahkan dengan berbagai cara agar menghasilkan flokulasi yang terkontrol, sehingga mencegah pembentukan endapan padat yang sukar didispersi kembali. Bahan yang dapat digunakan untuk menghasilkan flokulasi dalam suspensi seperti elektrolit,surfaktan dan polimer.
a.    Elektrolit
Elektrolit bekerja sebagai zat yang memflokulasi dengan cara mengurangi tahanan elektrik antara partikel tersebut sehingga terjadi suatu pengurangan zeta potensial dan pembentukan suatu jembantan antara partikel-partikel yang berdekatan. Jembatan antar partikel ini menyebabkan ikatan antar partikel tersebut merupakan suatu struktur yang longgar. Elektrolit yang dapat digunakan antara lain adalah, KCl,NaCl,  Al dan .
b.   Surfaktan
Surfaktan telah digunakan untuk menghasilkan flokulasi dari partikel yang tersuspensi, baik dari jenis nonionik  maupun ionik. Surfaktan ionik menyebabkan flokulasi melalui netralisassi muatan partikel.Struktur yang panjang dari surfaktan nonionik dapat diadropsi oleh lebih dari satu partikel, sehingga terbentuk struktur flokulat yang longgar.
c.    Polimer
Polimer merupakan suatu senyawa berantai panjang dengan bobot molekul yang tinggi dan mengandung gugus-gugus aktif di sepanjang rantainya.Zat ini bekerja sebagai zat pemflokulasi karena sebagian rantainya diadsobsi pada permukaan partikel, dengan bagian yang tersisa mengarah ke medium dispersi dan menjadi jembatan perlekatan dengan partikel lainnya, yang pada akhirnya terbentuk flokulasi.
Penambahan xantan gum pada suspensi sulfaguanidin, bismut subkarbonat dan obat-obatan lain, menghasilkan peningkatan volume sedimentasi yang diduga akibat fenomena jembatan polimer.
Polimer hidrofilik juga bekerja sebagai koloid pelindung, dan partikel-partikel yang terlindungi oleh koloid tersebut kurang menunjukkan kecenderungan membentuk lempengan keras (cake) dibandingkan partikel yang tidak tersalut.Polimer hidrofilik ini menunjukkan sifat aliran pseudoplastik dalam larutan, sehingga berpoptensi meningkatkan stabilitas fisika suspensi.
Beberapa polimer merupakan polielektrolit yang dapat terionisasi dalam medium air.Kemampuan  ionisasi tergantung pada pH dan kekuatan ion dari medium dipersi. Polimer ini dapat bekerja membentuk medan elektrostatik dan memberi efek sterik sebagai koloid pelindung yang mencegah partikel bergabung dengan kuat. Sifat seperti ini ditunjukkan oleh polimer linear misalnya Na CMC, dan dapat menjadi agen pemflokulasi.

4.    Bahan Tambahan lain
Bahan-bahan tambahan lain dalam suspensi tidak sangat berpengaruh terhadap stabilitas sistem suspensi, tetapi diperlukanuntuk meningkatkan nilai estetika sediaan. Bahan-bahan ini meliputi pengawet, pewarna, pengaroma yang memberi aroma/rasa ( flavor ).
Pada umumnya pewarna dan pengaroma digunakan dalam jumlah yang kecil dan harus dapat dapat tercampurkan dengan bahan-bahan dalam formula.Pewarna yang digunakan dapat berasal dari alam maupun pewarna sintetik yang diperbolehkan. Demikian pula flavoring agent dapat berasal dari alam  seperti ekstrak buah dan  aqua aromatik ataupun dari bahn sintetik seperti asam sitrat.
 Stabilitas sediaaan harus dijaga dari  akibat yang ditimbulkan oleh kontaminan bakteri dan jamur yang dapat mendegradasi bahan-bahan dalam formula. Untuk itu kehadiran pengawet dalam formula adalah mutlak, terutama untuk sediaan yang tidak disterilkan.
Pengawet Untuk Hidrokoloid
Asam benzoate 0,2% telah dipakai sebagai pengawet untuk musilago akasia dan tragakan. Pengawetan memadai didapatkan dari 0,0125% butyl paraben dapat juga kombinasi metil paraben dan propil paraben
Kebanyakan hidrokoloid adalah anionik, oleh karena itu pengawet kationik seperti benzalkonium klorida dan kuartener lainnya biasanya tidak digunakan, kecuali untuk hidrokoloid metil selulosa dan guar gom yang non ionik.
Garam-garam fenil merkuri ( asetat, borat, dan nitrat ) yang merupakan anti bakteri kationik tidak mempunyai volume molekuler yang cukup besar untuk menyebabkan ketidakcampuran dengan hidrokoloid anionic. Garam-garam ini mempunyai daya antiseptic yang lebih kuat, kurang iritasi dan kurang toksis daripada garam merkuri anorganik. Dari garam-garam ini tersedia dalam perdagangan sebagai fenil merkuri asetat, fenil merkuri klorida, fenil merkuri borat, dan fenil merkuri nitrat
Senyawa ini digunakan sebagai pengawet dengan konsentrasi 0,004%   sampai 0,01% . Untuk pemakaian luar ( eksternal ) digunakan baik fenol atau kresol dengan konsentrasi 0,5%.

Wadah untuk suspensi
Wadah untuk kemasan suatu suspensi biasanya diseleksi di laboratorium menurut kebiasaan atau dengan menggunakan botol-botol yang tersedia.Tipe gelas yang tersedia bervariasi tergantung kemampuannya menahan pengaruh air dan tingkat pengaruh itu sehubungan dengan jumlah alkali yang dilepaskan dari gelas.
Beberapa jenis wadah yang biasa digunakan antara lain adalah gelas kristal jernih (flint) yang tidak berwarna, berkilau  tetapi mengandung timah hitam;  gelas yang terbuat dari soda, kapur, dan silikat yang bebas timah hitam dan tidak berwarna.
Untuk sediaan parenteral, vial untuk multiple dose dapat tidak berwarna atau berwarna amber (kuning pucat) dan diberi lapisan silicon untuk memperkecil pelepasan alkali dari gelas itu. Teknik melapisi dengan silicon banyak digunakan untuk suspensi steroid dan kombinasi penisilin-streptomisin, juga untuk sediaan yang kandungan padatannya tinggi.
Penggunaan wadah dari bahan polietilen atau wadah plastik untuk beberapa suspensi oral dan topikal dapat saja dilakukan.Evaluasi suspensi di dalam wadah itu harus mempertimbangkan banyak factor seperti hilangnya efek dari bahan pemberi rasa, pengharum, adsorpsi pengawet, dan pelepasan substansi dari wadah.

5.             Pembuatan suspensi
Dalam pembuatan suspensi, perlu diketahui karakteristik fase terdispersi dan medium pendispersinya.Dalam beberapa hal, partikel terdispersi dapat dengan mudah dibasahi kerena afinitasnya yang tinggi terhadap medium pendispersi.Tetapi dilain hal, partikel sulit terbasahi oleh cairan pembawa sehingga menggumpal atau mengambang dipermukaan medium dispersi.Untuk partikel yang sulit terbasahi, maka pembuatan suspensi didahului dengan pembasahan bahan obat dengan suatu zat pembasah, sehingga partikel-pertikel terdispersi lebih mudah berpenetrasi ke dalam cairan pembawa.
Secara umum, suspensi dapat dibuat dengan  cara    :
a.    Metode dispersi
Suatu suspensi  dalam skala kecil dibuat dengan menggiling hingga halus bahan yang tidak larut dalam mortir dan didispersikan dengan cairan pembawa yang mengandung pembasah dan pensuspensi hingga diperoleh massa  pasta yang lembut. Pasta kemudian diencerkan dengan penambahan cairan pembawa sedikit demi sedikit hingga menjadi bubur.Bubur tersebut kemudian dipindahkan ke dalam gelas ukur dan dicukupkan volumenya dengan cairan pembawa hingga volume yang diinginkan. Bahan – bahan lain dalam formula yang mudah larut dalam cairan pembawa dilarutkan terlebih dahulu dalam pembawa sebelum dicampur dengan bahan yang tidak larut.
Dalam ukuran besar, dispersi zat padat dalam cairan pembawa dibantu dengan menggunakan bola, kelereng dan penggiling koloid (colloid mild). Penggiling tersebut akan memecah agregat yang besar dan flokulat sehingga dapat didispersikan ke seluruh cairan pembawa dan kemudian dilindungi dengan penstabil dispersi.

b.   Metode presipitasi
     Pada metode ini, zat terlebih dahulu diendapkan untuk kemudian didispersikan dalam cairan pembawa.Ada 3 metode presipitasi, yaitu :
a)    Dengan menggunakan pelarut organik
Obat yang tidak larut dalam air lebih dahulu  dilarutkan ke dalam pelarut organik seperti etanol, metanol, propilen glikol, dan PEG. Fase organik yang mengandung padatan kemudian dilarutkan ke dalam air suling sehingga obatnya mengendap. Selanjutnya bahan – bahan penstabil suspensi seperti bahan pensuspensi dan pemflokulasi yang bercampur dengan bahan pembawa ditambahkan kedalam campuran awal tersebut.
b)   Perubahan pH media
Keasaman media akan mengubah kelarutan suatu bahan. Metode ini lebih dapat diterima karena residu pelarut organik agak sukar dihilangkan. Setelah bahan obat terlarut, maka pH medium dikembalikan dan partikel tersuspensi akan mengendap dalam keadaan halus tipe kristal atau polimorfi.

c)    Metode dekomposisi rangkap
Metode ini melibatkan reaksi kimia sederhana, meskipun faktor fisika juga berperan.

C.           Stabilitas Suspensi
Hampir semua sistem suspensi memisah pada waktu didiamkan.Oleh karena itu, yang diutamakan oleh formulator bukannya meniadakan pemisahan itu, tetapi yang diusahakan adalah menurunkan kecepatan pengendapan dan untuk memungkinkan kemudahan tersuspensinya kembali padatan yang telah mengendap dengan pengocokan sedang.Suatu suspensi yang baik harus tetap homogen sekurang-kurangnya dalam waktu yang diperlukan untuk pemakaian dosis yang dibutuhkan setelah pengocokkan wadahnya.
1.             Kecepatan sedimentasi
Kecepatan partikel dalam suspensi membentuk sedimen berhubungan erat dengan ukuran dan kerapatan partikel serta viskositas medium suspensi.Kecepatan sedimentasi partikel tersuspensi diukur dengan persamaan Stokes yang dapat diperlihatkan sebagai berikut :
V =  =                    ………………………  (3.2)   
Dimana :
v     =   kecepatan pengendapan sedimen ( cm / det )
r      =   jari-jari partikel ( cm )
ρ     =   BJ partikel dan cairan ( g / ml )
g     =   konstanta grafitasi (= 980,7 cm/det² )
η     =   kekentalan media ( poises = g/cm det )
D    =   diameter partikel ( cm )

Misalnya :
Jari-jari partikel = 2µ( 2 x  cm )
BJ medium = 4 ; BJ partikel = 1,2
Viskositas = 150 cps ( =150 x g / cm det )
Maka
V    =
       = 16,2724 x  cm / det
       = 0,16x  cm / det
Hokum Stokes ini berlaku hanya untuk partikel yang bergerak tidak cukup cepat untuk menyebabkan turbulensi.Umumnya sistem farmasi yang mengandung 2 g padatan yang terdispersi dalam 100 ml medium pendispersi mengikuti persamaan ini.Hukum Stokesmenggunakan  asumsi  bahwa partikel mempunyai ukuran yang sama dan partikel tersebut  bentuknya bulat.
Berdasarkan hukum Stokes, maka beberapa faktor yang berhubungan dengan pengendapan dapat prediksi sebagai berikut :
-          Kecepatan sedimentasi yang dapat dikurangi dengan menurunkan ukuran partikel yang memungkinkan partikel dijaga pada keadaan deflokulasi
-          Kecepatan sedimentasi berbanding terbalik dengan viskositas medium pendispersi. Hal ini memberikan suatu pendekatan dalammenformulasi suatususpensi yang stabil.
-          Kecepatan sedimentasi dapat dikurangi bila perbedaan kerapatan partikel terdispersi dan fase kontinyu dapat diturunkan.

2.             Jenis Sedimentasi
a.    Sistem  Flokulasi
. Dalam sistem flokulasi, partikel mengendap secara berkelompok dan mengendap bersama-sama.Partikel tersuspensi saling terikat dengan ikatan yang lemah membentuk jaring; karena beratnya bertambah, maka mereka mengendap bersama membawa partikel-partikel tersuspensi lainnya yang terjerat dibawahnya (tengah jaring).Akibatnya supernatan supernatan terlihat jernih.Volume sedimentasi yang terbentuk besar karena susunan yang dibentuk partikel yang mengalami flokulasi sangat longgar.Pengendapan jenis ini mudah untuk diredispersi dan tidak membentuk endapan yang liat (cake). Sistem flokulat dapat terjadi karena penambahan elektrolit sepertiAl dan dalam jumlah kecil. Surfaktan non ionic juga biasanya dianggap bermuatan (-) dalam larutan dan efektif sebagai bahan pemflokulasi
Sistem flokulasi yang dimaksudkan untuk penggunaan oral, parenteral, ophtalmik atau topikal biasanya mempunyai kemampuan mengalir yang buruk karena partikelnya berkelompok.Sifat ini diperbaiki dengan penambahan koloid pelindung.Koloid pelindung tidak mengurangi tegangan antar muka sehingga berbeda dengan surfaktan.Larutan koloid mempunyai viskositas yang berbeda dan digunakan dalam konsentrasi yang tinggi dibanding surfaktan. Koloid pelindung juga berbeda dari bahan pemflokulasi dalam hal efeknya sehingga tidak hanya berkemampuan meningkatkan zetha potensial tetapi juga membentuk penghalang mekanik atau melapisi sekeliling partikel, sehingga partikel tidak terikat kuat satu sama lainnya.Suspensi untuk pengobatan harus segera terdispersi dengan pengojokan lunak sehingga diperoleh takaran yang sama.
Kecenderungan partikel untuk terflokulasi tergantung pada kekuatan tarikan dan penolakan diantara partikel. Bila penolakan cukup kuat, partikel-partikel tetap terdipersi dan bila tidak, maka akan terjadi koagulasi. Misalnya : suspensi partikel-partikel tanah liat bila ditambah NaCl dalam jumlah yang semakin besar maka kekuatan penolakan semakin berkurang dan akhirnya kekuatan penolakan tersebut tidak bisa lagi melawan kekuatan tarikan London ( Van Der Waals ) sehingga system terflokulasi.
Kecepatan sedimentasi dan flokulasi suspensi dipengaruhi oleh :
a)        Ukuran partikel
b)        Interaksi partikel
c)        BJ partikel dan medium
d)       Kekentalan fase kontinyu
Suspensi flokulasi menunjukkan tekanan yang sama pada puncak dan dasar wadah karena tidak memberikan tekanan atau tekanan hanya kecil pada cairan Karena partikel-partikel saling menunjang


b.   System terdeflokulasi
Dalam system deflokulasi, partikel mengendap sindiri-sendiri secara perlahan tergantung pada jaraknya dari dasar dan perbedaan ukurannya. Partikel akan menyusun dirinya dan mengisi ruang-ruang kosong saat mengendap dan akhirnya membentuk sedimen tertutup dan terjadi aggregasi, selanjutnya membentuk cake yang keras dan sulit terdispersi kembali karena telah terbentuk jembatan kristal yang merupakan lapisan film yang liat pada permukaan sedimen.Suspensi deflokulasi tekanannya lebih besar pada dasar wadah, volume sedimentasi yang terbentuk kecil dan supernatan tampak keruh sehingga terlihat bahwa suspensi lebih stabil. Pengendapan jenis ini tidak disukai karena pengguna akan kesulitan dalam meredispersi sediaan. 
c.    Caking                                                                           
Caking didefenisikan sebagai pembentukan sedimen yang tidak dapat didispersikan kembali.Penyebab terbanyak adalah adanya pembentukan jembatan Kristal dan koagula (agregat tertutup). Suspensi tipe disperse atau deagregasi cenderung segera membentuk cake disebabkan oleh terbentuknya sediaan yang kompak atau rapat bila suspensi mengendap. Karena suspensi adalah larutan jenuh substansi tertentu maka perubahan suhu walaupun kecil yang terjadi selama self life menyebabkan caking dengancepat melalui pembentukan jembatan Kristal.
Caking dengan cara ini dapat diperkecil dengan mengembangkan sistem suspensi menjadi agregat terbuka (flokula) yang partikelnya tidak membentuk sedimen yang rapat dan kaku.
Caking juga dapat terjadi melalui agregat tertutup atau koagula walaupun mekanisme tidak terdispersi kembali berbeda karena tidak menyebabkan jembatan Kristal.Sedimen suspensi yang koagulasi kuat cenderung membentuk koagula yang besar bila film permukaan yang ada pada partikel yang koagulasi menyebabkan partikel saling melekat.Walaupun tidak terjadi pertumbuhan kristal karena adanya film permukaan, tetapi pada akhirnya sedimen yang terikat oleh film tidak dapat didspersikan kembali.
Dalam pembuatan suspensi dan penyimpanan yang lama, akan mengkristal disebabkan antara lain :
a)             Ostwald ripening
b)             Polimorfism
c)             Siklus suhu
Pertumbuhan kristal berakibat buruk terhadap kestabilan suspensi karena suatu sistem  suspensi harus dapat terdispersi kembali dengan pengocokan yang rendah. Pengetahuan tentang pertumbuhan kristal sangat penting dalam pengendapan suspensi,  stabilitas fisik, sifat redispersi, kenampakan sediaan dan bioavailabilitas obat.
a)    Ostwald ripening
Umumnya partikel terdispersi memiliki ukuran yang tidak seragam. Partikel dengan ukuran yang kecil memiliki energi bebas permukaan yang lebih kecil dibandingkan dengan partikel dengan ukuran yang lebih besar, sehingga partikel dengan ukuran yang lebih kecil tersebut akan lebih larut dalam medium dispersi. Pana kenaikan temperatur, banyak partikel berukuran sangat kecil terlarut dalam medium dispersi, sementara partikel ukuran besar akan mengalami pengecilan ukuran partikel. Ketika temperatur turun, maka terjadi rekristalisasi pada permukaan partikel. Partikel berukuran besar akan bertambah besar, sementara yang terkecil hilang.  Jika keadaan ini berlangsung terus menerus maka terjadi pertumbuhan kristal pada pada permukaan partikel sehingga ukuran partikel menjadi sangat besar dan bila kristal berlekatan, maka disebut jembatan kristal.
b)   Polimorfi
Padatan dapat berada pada beberapa bentuk kristal (polimorf). Dalam suspensi farmasi, pertumbuhan kristal dapat terjadi pada obat yang memilki sifat polimorfi. Bentuk metastabil lebih larut. Jika bentuk metastabil berubah menjadi bentuk yang lebih stabil, kelarutan akan menurun dan terbentuk kristal.  Pembentukan kristal ini dapat berlangsung terus menerus. Kondisi ini dapat dihindari dengan tidak menggunakan bentuk metastabil dalam formula suspensi, tetapi  menggunakan obat dalam bentuk polimorf yang lebih stabil. Metronidazol amorfi akan mengalami perubahan menjadi bentuk monohidrat dalam medium suspensi dan menyebabkan pertumbuhan kristal. Kombinasi bahan pensuspensi mikrokristalin selulosa dan CMC dapat menghalangi perubahan bentuk tersebut.
c)    Siklus suhu
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa kenaikan temperatur akan meningkatkan kelarutan  bahan yang tidak larut, tetapi penurunan suhu akan menyebabkan zat akan mengalami reksistalisasi.

D.      Jenis-jenis sediaan suspensi

Suspensi dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a.       Rute penggunaan :
-       Suspensi oral
-       Suspensi topikal
-       Suspensi parenteral
b.      Jumlah zat padat
-       Suspensi encer (2-10% w/v zat padat)
-       Suspensi pekat (50% w/v zat padat)
c.       Sifat elektrokinetik partikel terdispersi
-       Suspensi flokulasi
-       Suspensi deflokulasi
d.      Ukuran partikel tersuspensi
-       Colloidal suspension (< 1 micron)
-       Coarse suspension (>1 micron)
-       Nano suspension (10 nm)

Suspensi berdasarkan sifat eletrokinetik zat terdispersi (suspensi flokulasi dan deflokulasi ) telah dibahas sebelumnya. Suspensi ini dibedakan berdasarkan jenis sedimen yang dihasilkan dan kemampuannya diredispersi dengan pengocokan lemah.Sementara suspensi encer termasuk colloidal dan dilute suspensionadalah suspensi  cair untuk penggunaan oral, parenteral dan sebagian topikal,sedangkan suspensi pekat biasanya digolongkan kedalam bentuk sediaan setengah padat yaitu pasta.Nano suspensionakan dibahas pada sistem penghantaran obat pada edisi yang lain.Berikut akan dijelaskan tentang jenis suspensi berdasarkan rute penggunaannya.

Suspensi Oral
   Kebanyakan obat antasida, antibiotika dan antelmintikadiformulasi  dari bahan-bahan yang tidak larut dalam air.  Pada umumnya antasida dan antibiotika digunakan berulang dan sering, sehingga lebihmenyenangkan untuk menggunakan sediaan cair antasida dibanding harus sering mengunyah tablet, demikian pula dengan sediaan antibiotika yang memerlukan pengulangan dan jangka wktu penggunaan untuk menghindari resistensi mikroba terhadap antibiotik tersebut. Oleh karena itu sejumlah preparat antasida cair dan antibiotika diberi rasa dan aroma yang menyenangkan, biasanya pepermint (antasida) atau aroma buah-buahan (antibiotika) sehingga meningkatkan estetika dan menarik perhatian pasien.
Umumnya antasida mengandung bahan padat dalam jumlah yang besar, maka wadah harus dikocok kuat-kuatsebelum penggunaan.Contoh suspensi antasida yang beredar dipasaran adalah suspensi oral Alumina dan Magnesium.
            Bahan-bahan antibiotika banyak yang tidak stabil bila berada dalam larutan untuk waktu lama, sehingga beberapa antibiotika disiapkan dalam bentuk granul kering untuk diencerkan dengan air sesaat sebelum digunakan.
Contoh sediaan suspensi oral antara lain adalah:
-          Suspensi  oral antasida Alumina dan magnesia
-          Suspensi oral antibiotika kloramphenikol palmitat
-          Amoxicillin for Oral suspension (granul kering )



Suspensi Topikal
   Lotion ( losio ) adalah suspensi untuk pemakaian topikal yang digunakan pada kulit. Kebanyakan losio mengandung bahan serbuk halus yang tidak larut dalam media dispersi dan disuspensikan dengan menggunakan zat pensuspensi dan zat pendispersi.Losio biasa digunakan untuk mempertahankan kelembaban dan mengandung gliserin tinggiuntuk mendapatkan efek mendinginkan.Pada beberapa losio diformulasi dengan penambahan suatu pensuspensi hidrokoloid yang pada waktu mengering membentuk film yang dapat mempertahankan obat pada kulit.Losio harus cukup cair agar menyebar rata, tetapi juga harus cukup kental untuk melekat.Umumnya suspensi untuk kulit mengandung padatan 10-20%.Partikel padatan harus cukup halus sehingga tidak menyebabkan rasa kasar dan iritasimekanis bila digunakan pada kulit.
Contoh suspensi topikal adalah losio kalamin yang mengandung masing-masing 8% zink oksida dan kalamin.Sebagai pembasah digunakan gliserin dan magma bentonit sebagai pensuspensi.Losio ini digunakan sebagai pelindung untuk gatal-gatal akibat sengatan matahari, gigitan serangga, dan iritasi ringan pada kulit.
Dalam sediaan mata,bentuk  suspensilebih jarang digunakan dibanding bentuk larutan. Bentuk suspensi dapat dipakai untuk meningkatkan waktu kontak bahan obat dengan kornea, sehingga memberika kerja lepas lambat yang lebih lama.Suspensi obat mata mungkin diperlukan jika bahan obat tidak larut dalam pembawa yang diinginkan atau tidak stabil dalam bentuk larutan.
Suspensi obat mata harus mempunyai ciri-ciri sterilitas yang sama seperti yang dimiliki larutan obat mata, dengan pertimbangan pada penggunaan pengawet, pendapar, peningkat viskositas dan pengemasan. Suspensi obat mata harus mengandung partikel tidak larut dengan ukuran sedemikian sehingga tidak mengganggu kenyamanan mata (sebaiknya digunakan partikel berukuran 1-5 µ), tidak menggumpal dalam penyimpanan serta mudah terdispersi dengan pengocokan ringan.
Suspensi steril untuk mata Deksametason adalah salah satu contoh sediaan mata dalam bentuk suspensi yang digunakan pada permukaan mata untuk mengatasi peradangan pada alergi konjungtiva, infeksi konjungtiva tertentu dan trauma pada kornea.


Suspensi Parenteral
Suspensi parenteral tidak diberikan secara intra vena atau ke dalam spinal, tetapi diperbolehkan untuk diinjeksikan secara subkutan dan intramuskuler.Untuk mengurangi rasa sakit dan iritasi pada jaringan maka sebaiknya diameter partikel lebih kecil dari 5 µ.Reduksi ukuran partikel ini dilakukan secara mekanis dengan menggilingnya atau dengan kristalisasi sebagai mikrokristal.
   Penambahan bahan pembasah membantu dispersi dan stabilisasi fase padatnya.Beberapa bahan pembasah yang telah digunakan dalam berbagai produk parenteral adalah lesitin, dan polisorbat 80. Suatu pendispersi untuk pemakaian parenteral harus  tidak toksis, tidak mengiritasi, tidak menimbulkan demam, stabil dan mudah disterilkan.
Bahan pendispersi yang telah dipakai dalam beberapa produk parenteral adalah :
-         Akasia                                       - gelatin
-         Metil selulosa                            - PVP
-         Na CMC                                  
   Karena sterilisasi suspensi dengan pemanasan dapat menurunkan kemampuan fisisnya maka bahan penyusunnya sering disterilkan terpisah dan suspensi itu dibuat secara aseptis.Senyawa obat dapat dicampur di dalam lingkungan steril sehingga sediaanakhirdapat dikategorikan steril.
   Pembawa seperti air atau minyak tertentu dapat disterilkan dengan panas atau filtrasi. Senyawa obat steril dibasahi dengan pembawa steril dan pensuspensi, lalu  dilewatkan dalam colloid mild yang sudah disterilkan dengan uap atau etilen oksida, lalu diisi secara aseptis dalam wadahnya yang steril
   Suatu cairan yang melewati jarum hipodermik mempunyai kekuatan gesekan sampai 10.000/ det. Kekuatan menyemprot menunjukkan kemampuan mengalirnya cairan dari alat suntik lewat jarum hipodermik.
Kekuatan menyemprot diperkecil oleh :
-         Bertambahnya viskositas atau BJ suspensi
-         Kenaikan ukuran partikel
-         Bertambahnya kandungan bahan padat suspensi
-         Bentuk partikel
   Untuk suspensi parenteral lebih disukai suspensi terflokulasi karena mudah terdispersi kembali dan tidak memerlukan kenaikan viskositas yang pengaruhnya berlawanan dengan kekuatan penyemprotan.Suspensi parenteral harus segera mengalir dari dinding wadahnya sehingga dapat segera dihilangkan dari vial dan jarum suntik. Vial dapat dilapisi dengan silicon untuk memudahkan aliran.


                                    






1 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.